Showing posts with label Kembali-Lagi. Show all posts
Showing posts with label Kembali-Lagi. Show all posts

Mengunjungi Luka


Source: http://bit.ly/1PcqJEJ
“Aku akan mengunjungi masa laluku. Membaca lagi semua catatan-catatan itu. Memperhatikan setiap gerakku dulu. Setiap petunjuk yang terlihat. Meresapi tindak-tandukku. Jangan-jangan luka itu aku yang mengundangnya” ujarnya serius.

Sirat matanya tajam. Dia tak pernah sebersungguh-sungguh ini, seingatku. Selama puluhan tahun aku mengenalnya, kupaham satu hal. Dia berusaha keras untuk berdamai dengan masa lalu itu, yang menurutnya mengganggu tidurnya setiap malam.

“Kau takkan takut menghadapi lukamu sendiri?” tanyaku. Dia masih diam. Susah berbicara dengan orang yang terlalu serius memandang hidup.
Mengapa Masih Joko?

Mengapa Masih Joko?

Saya adalah pendukung Pak Jokowi-JK, dan saya masih belum menentukan pilihan hingga saat terakhir. Dalam beberapa kesempatan, ada beberapa teman berkampanye di FB yang meminta saya beralih pilihan. Pada akhirnya saya memilih SETIA dengan pilihan saya. Untuk sementara ini, minimal.

sumber: http://bit.ly/1xkh5oa
sumber: http://bit.ly/1xkh5oa
Saya tahu Jokowi diserang banyak kampanye gelap, dan saya tidak menemukan alasan-alasan yang fundamental untuk mengubah pilihan tersebut. Setidaknya hingga sekarang. Beberapa proses penelusuran dengan bantuan Mbak Google membawa saya memantapkan hati pada Pak Jokowi - JK.

Pilu*

Pilu*

Meski berat tak bisa kutanggung, malu tak bisa kupikul, lelah tak bisa buang, aku akan terus berjalan. Menyusuri hari-hari sepi. Jalan-jalan sunyi. Menilisik lagi kisah-kisah lalu, menatanya, lalu menyimpannya dalam memori hati. Ah biarkanlah dia ada di sana selamanya, tanpa harus aku lupa, tanpa harus aku abai, tanpa aku harus ratapi.

Bagaimana pun dia pernah menjadi bagian terindahmu, hatiku menabahkan.


Tapi dia kini bahagia dengan orang lain, otakku menentang. Hari-harinya bersamamu kini sudah menguap entah kemana, lanjutnya. Engkau kini tinggal bayangan semu di masa lalu. Tak pantas diingatnya. Lalu mengapa engkau datang pula hari ini, hanya menambah sesak di hati.

Saat-saat terakhir
Tak apa, yang penting aku hadir hari ini. Toh cinta tak harus selalu bersama. Toh cinta pada akhirnya harus terpisah jua. Toh kebersamaan pada akhirnya berujung pada perpisahan pula. Setidaknya dia pernah begitu dekat denganku. Menemani hari-hariku. Melengkapi sebagian perjalanan hidupku.

Tapi kalau bisa, tidak hari ini. Tidak dengan cara seperti ini.

Memang harus aku akui, perpisahan dengan cara ini memilukan. Mengiris hatiku sedemikian dalam, hingga mengingatnya saja aku sudah merasa sakit. Di depan mataku, dia direbut.

Ya, aku memang tidak tepat berada di bawah terop saat itu, tetapi di sebelah kanan terop. Tepat di beranda rumah sang calon pengantin. Posisiku di pojok. Wajahku sendu, andai kau ingin tahu. Hatiku remuk redam. Aku memang sudah melepasnya. Merelakannya semenjak dulu, bahkan semenjak pertama kali bertemu.
Mengulang 24 Tahun Lalu

Mengulang 24 Tahun Lalu

Nun jauh di desa, seorang bapak bertubuh tirus layaknya pohon kelapa yang sudah lama menunggu anak tiba-tiba harus pontang-panting ke sana kemari. Kegelisahan dan kecemasan menyatu saat itu. Bertumpuk. Dia menghampiri istrinya yang kesakitan. Tampaknya, bayi yang ditunggunya akan segera lahir ke dunia. Kelahiran bayi ini merupakan momen istimewa, yang dinanti-nanti sejak lama dan sangat mendebarkan. Sudah tiga anaknya yang pernah dimiliknya, tapi tidak ada dalam waktu lama. Semuanya singkat.

Dan kini, harapannya sangat besar, meski dia sudah bersiap-siap untuk kecewa lagi. Kehilangan beberapa kali dalam hidup kadang membuat kita bisa memiliki tingkat kekebalan kekecewaan. Artinya, banyak kehilangan berarti membuat kita lebih bahagia, karena kita sudah terbiasa.

Dan bapak itu sudah biasa merasakan kekecewaan ditinggal oleh anak yang sangat diinginkannya. Meski untuk anak yang akan dilahirkan ini, ia sudah banyak bersiap dan berharap dengan segenap do’a dan munajat yang dipanjatkan tanpa rasa lelah dan selalu sabar. Setiap malam, tak ada keinginan yang lebih besar ketimbang memiliki anak yang bisa hidup.
Hidup Bak Komedi Putar

Hidup Bak Komedi Putar

Bagi saya sekarang, hidup seperti sebuah perjalanan terus menerus berputar dalam pusaran yang sama mirip komedi putar. Ia terus berputar, sampai waktu kita untuk turun tiba. Dan waktu turun adalah waktu yang sama dengan waktu yang ditunjukkan dalam karcis kita. Bedanya, karcis hidup diberikan, bukan dibeli.

Sama, dalam komedi putar kita tidak bisa memilih menaiki keranjang yang kita inginkan. Kita hanya mengikuti instruksi penjaganya. Itulah kesimpulan dari peristiwa magis, yang seandainya tidak direnungkan hanya akan menjadi peristiwa lalu tanpa makna.

25 Desember 2008 kemarin, saya diberi berkah membeli sepeda gunung di kota Malang. Saking bersemangatnya, saya lupa banyak hal. Saya hanya ingat bahwa jika ada yang lebih membahagiakan ketimbang bisa mendapatkan keinginan menahun itu, maka hal itu pasti sangat hebat, seperti bertemu Nabi Muhammad dalam sub-sadar dan bertemu Allah di surga nan tak terbayang.
Guruku adalah Anakku (Bagian III)

Guruku adalah Anakku (Bagian III)

Beberapa hari ini, anak saya batuk. Batuk agak berdahak yang membuat saya lumayan khawatir. Jika Anda menyarankan saya untuk membawanya ke dokter, terima kasih atas sarannya. Dan saya sudah membawanya ke sana.

"Kasihan, masih kecil sudah sering sakit" kata dokter saat itu.

"Iya, dok."

"Saya kasih vitamin saja. Kasihan tubuhnya belum terlalu kuat kalo harus sering minum obat."

Kami pun pulang dengan satu pikiran. Banyak obat itu tidak terlalu bagus untuk perkembangan anak saya. Tapi bagaimana lagi, tanpa konsultasi ke dokter dan dokter selalu memberi resep obat, kami akan sangat khawatir sekali. Terus terang, kami lebih khawatir daripada anak kami sendiri sepertinya. Maklum karena dia belum bisa ngomong apa-apa.

Anak kami, seperti halnya biasanya, lebih bijak dari pada kami. Dia santai saja. Meski dia yang batuk dan sering terganggu tidurnya, dia jarang khawatir dan cemas. Dan itulah anak. Hebatnya, mereka jarang khawatir dan cemas, meski tindakan mereka membuat orang tuanya siak-siak.

Itulah yang ternyata sering terjadi di kehidupan kita. Orang tua lebih keukeuh dan lebih cemas mempersiapkan masa depan lebih dari kita sendiri. Bahkan tak jarang mereka memaksa, tapi perlu tahu apa yang diinginkan anaknya. Otoriter memang kebanyakan orang tua. Dan jika Anda salah satu korbannya, perlu Anda yakini satu hal, Anda tidak sendiri.

Saya juga begitu, pernah begitu, meski ibu menggunakan cara berbeda dengan orang tua lain. Suatu saat, saya males bangun pagi untuk sekolah. Alih-alih marah dan memaksa saya sekolah, ibu langsung mengambil buku-buku saya. Dibawanya serta korek beserta minyak tanah. Diajaknya saya ke depan rumah.

"Kalo nggak mau sekolah, nggak usah sekolah saja sekalian. Aku bakar buku-bukunya." kata ibu dengan tegas.

Aku ambil buku-buku itu dan aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk bersiap sekolah. Sejak saat itu, saya selalu rajin sekolah. Saya takut ibu membakar buku saya.

Saya tidak ingin anak saya begitu. Saya ingin membebaskannya dari tuntutan menjadi seseorang yang sesuai dengan keinginan saya. Cukuplah dia menjadi anak saya, yang mudah-mudahan mau berbakti kepada Tuhannya, Orangtuanya, dan Idealismenya.

Sekarang anak saya suka pada satu benda sakral. Sepeda motor. Dia tidak bisa berkutik kalo diajak naik sepeda motor. Maunya selalu naik motor saja. Di dunia, tidak ada yang lebih indah dari sepeda motor, terkecuali susu ibu tentunya. Tangis berganti senyum seketika saat dia naik sepeda motor. Sepertinya, meski saya tidak punya otoritas moral dan ilmiah untuk menjelaskan, anak saya ketularan hobi ibunya ketika hamil, ingin selalu naik sepeda motor.

Melihat semua itu, saya berdo'a dengan sangat berharap meski sedikit cemburu dibuatnya "mudah-mudahan istri saya suka pada dokter saat hamil, siapa tahu anak saya jadi...:D"