Showing posts with label Prosa-Bebas. Show all posts
Showing posts with label Prosa-Bebas. Show all posts
Tut Wuri Handayani

Tut Wuri Handayani

Saat bersekolah di SD, saya diajari tentang tiga semboyan dasar pendidikan di Indonesia, yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
 
Sederhananya, slogan Ing Ngarsa Sung Tulada berarti seorang guru harus menjadi teladan. Ing Madya Mangun Karsa menegaskan peran guru untuk membangun semangat agar murid terus maju. Tut Wuri Handayani berarti memberikan motivasi bagi anak didiknya, alias memberi dukungan dari belakang.
 
Tut Wuri Handayani lantas menjadi semboyan yang dijadikan logo oleh Kemendikbud. Pencantuman semboyan ini demi menunjukkan penghormatan terhadap almarhum Ki Hajar Dewantara. Selain penghormatan itu, hari lahir beliau dijadikan dan dirayakan sebagai Hari Pendidikan Nasional.
 
Titik.
 
Saya tak bertanya-tanya lagi dan menjadikan info itu sebagai kebenaran mutlak, yang sudah tak perlu diganggu gugat.
 
Rasanya, informasi di atas itu sengaja disederhanakan karena saya masih di taraf sekolah dasar. Pikiran saya sederhana. Jadi, informasi dan ilmu yang diberikan pun diringkas oleh guru dan penulis buku pelajaran.
 
Beberapa hari lalu, dalam rangka membuat tulisan sederhana ini, saya pun melakukan penelusuran kecil.
 
Hasilnya?
 
Di Taman Siswa, para murid dibebaskan untuk belajar dan mengembangkan potensi dengan cara yang sesuai dengan minat dan bakat. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai pembimbing dan pendamping yang selalu siap membantu murid ketika mereka butuh. Jadi, guru harus menjadi teladan, menunjukkan kasih sayang dan kesabaran, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi semua murid. Bila merasa aman, siswa akan berkembang dan mau mencoba hal-hal baru.
 
Oh, ini yang dimaksud Tut Wuri Handayani.
 
Bila dikembangkan lebih jauh, Tut Wuri Handayani bisa berarti guru menjadikan para muridnya sebagai teladan bagi dirinya dan sesama murid. Para murid kemudian saling memotivasi dan memberi semangat. Dan di situlah posisi guru: menciptakan lingkungan aman dan nyaman semacam itu.

Bila dirunut lebih jauh, konsep ini mirip dengan konsep servant leadership.

 

Pengulangan #3: Otak pun Butuh Jeda

“Repetition is the first principle of all learning” kata R.F. Bruner dalam salah satu artikel di jurnal terkenal Psychology, yang terbit pada tahun 2000. Terjemahannya: pengulangan adalah prinsip pertama dari semua proses pembelajaran.

Dari kutipan ini tersirat bahwa pembelajaran memiliki banyak prinsip, dan setiap pembelajaran punya prinsipnya masing-masing. Dari semua proses pembelajaran yang dilakukan siapa pun, kunci dan prinsip utamanya adalah pengulangan. Ya, pengulangan.

Entah mengapa konsep ini membawa saya pada masa-masa kuliah S2. Saat kuliah S2, kami terus-menerus dijejali dua prinsip utama pembelajaran dan pengajaran, yaitu “student-centered” dan “jangan spoon feeding.” 

Setiap kali kami praktik mengajar dan meleset dari dua prinsip dasar ini, dosen kami Pak Masduki selalu menegur. Ingat “jangan spoon feeding ya.” Saat salah satu teman terlalu banyak bicara pada saat praktik micro-teaching, diingatkan oleh beliau lagi dan lagi “student-centered ya, jangan spoon feeding.” Jadi, bila saya ditanya sekarang apa yang saya dapat dari kuliah S2 di UMM, ya “student centered dan jangan spoon feeding.” Kalimat ini terngiang-ngiang meskipun hampir dua tahun lalu saya lulus dari S2 UMM.

Unik juga. Sebab, pengulangan pernah dicela habis-habisan karena dianggap bagian dari teori behaviorisme. Ringkasnya, teori behaviorisme ini dikritik karena seakan memposisikan manusia sebagai objek mekanistik, yang diminta mengulang-ulang hal-hal yang kadang tidak diketahuinya. Akhirnya, manusia hanya sampai pada kemampuan berpikir tingkat rendah. Contohnya? Ya, hafalan.


Ternyata, beberapa waktu kemudian, para peneliti dan tokoh pendidikan kembali beralih ke prinsip ini. Mirip dengan yang disampaikan RF Bruner di atas. Namun, pengulangan seperti apa sebenarnya yang efektif untuk pembelajaran modern saat ini?

Semua pakar berbeda istilah, teknik, dan pendekatan tentang pengulangan dan pembelajaran. Sebagaimana disebutkan di Wikipedia, beberapa menyebutnya spaced repetition, spaced rehearsal, expanding rehearsal, graduated intervals, repetition spacing, repetition scheduling, spaced retrieval, dan expanded retrieval.

Meskipun berbeda-beda nama, ada dua unsur penting dalam konsep ini, yaitu pengulangan dan jeda. Pengulangan itu penting, tetapi harus ada jeda atau jarak antara satu pengulangan dan pengulangan lain. Agar tidak bosan? Bukan. Namun, agar otak punya waktu untuk mencerna dan memasukkannya ke dalam memori jangka panjang.

Beberapa orang bahkan menciptakan perangkat lunak atau sistem pembelajaran tertentu agar orang lebih mudah menjadwalkan jarak antara satu pengulangan dan pengulangan lain.

Dalam pembelajaran, pengulangan, jarak, dan jeda itu sangat penting agar pelajaran yang kita petik bisa bertahan lama di otak.

Otak pun butuh jeda, apalagi hubungan asmara, #eh

Fresh Start dan Ulang Tahun

Beberapa hari lalu, tanggal lahirku berulang. Tak ada yang istimewa dari ulang tahun kali ini. Rambut putih yang pertama kali tumbuh itu semakin banyak mengajak kerabat dan handai taulannya. Rambut putih makin jadi mayoritas di kepala. Makin kentara.

Jatah usia terus berkurang. Jumlah amal jatuh tersungkur. Karya stagnan. Pemasukan menyusut perlahan. Rasa malas dan keinginan menunda semakin meraja. Rasanya, semua hal negatif datang sekaligus. Atas semua hal negatif itu, lantas apa yang perlu dirayakan, pikirku. Ini hanya hari biasanya. Hanya, tanggalnya saja yang berulang setiap tahunnya.

Lantas pada pagi-pagi buta, satu pesan WA muncul.


Muhajir di tengah perjuangannya sendiri meluangkan waktu untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Akhir tahun 2020 tak berjalan lancar baginya dan keluarga. Dan di tengah kesulitan-kesulitan itu, ia menyempatkan diri.

Aku pun berterima kasih atas perhatian dan doa tulusnya.

Sebelum berangkat ke kantor, istriku juga mengucapkan selamat ulang tahun dengan senyum khasnya yang selalu merekah. Ia minta maaf karena tak bisa terjaga semalaman. Ia kecewa tak sempat menyiapkan kejutan apa pun.

"Ya nggak apa-apa, lha wong aku juga tertidur. Lagian sudah tua. Ngapain juga merayakan ulang tahun" ujarku sambil tersenyum.

Sesampainya di kantor pada siang harinya, ucapan ulang tahun kuterima dari beberapa rekan kerja. Anehnya, mereka yang menyampaikan bukan yang setiap hari bersamaku. Hanya sehari dalam seminggu, aku membersamai mereka. Lalu siang menjelang dan datanglah kue tiramisu lembut berwarna putih, yang bertabur cokelat manis nan lezat di atasnya. Kata QQ si manajer kantor, mereka iuran untuk membelikanku kue. What a kind heart they have and beautiful gift they give.

Saat menerimanya, ada rasa hangat yang menjalar di hati. Perhatian dan ketulusan mereka seakan menjadi pemantik semangat. Tak tahu apakah semangat itu akan berlanjut dan terus membara. Tahun 2020 tidak mudah. Tantangan dan masalah terus menerpa.

Sepulang dari kantor, Keena anak keduaku lari menyambut. Ia memelukku erat sekali.

"Maaf ya yah, kuenya gak jadi. Kayaknya salah tepung. Jadi, belum bisa di-baking" ucapnya lirih sambil terbata. Wajahnya terlihat sedih.

"Ya, nggak apa-apa" jawabku sambil berjalan ke arah kulkas. Kulihat wadah yang berisi adonan kue yang agak bantet. Kutatap wajahnya yang mungil dan kupeluk lagi. Untuk kedua kalinya hari itu, kurasakan kehangatan di hati. Tak tahu harus harus berkata apa. Yang jelas, aku bahagia tak terkira.

Sejenak kemudian, Kafka turun dan mengambil pesanan GrabFood untuk secara sederhana merayakan ulang tahunku. Perayaan sederhana dengan pizza mungil pun berlangsung. Tak ada kado. Tak ada lilin. Namun, ada berjuta ketulusan dan kebahagiaan yang menyelimuti hati. Rasanya, inilah salah satu ulang tahun terindahku.

Apakah ulang tahun bisa mengubah seseorang? Tak tahu juga.

Namun, diingat dan diperhatikan saat engkau tak begitu peduli dengan dirimu sendiri bisa menjadi titik balik. Itulah fresh start, sebagaimana diteliti Hengchen Dai, Katherine L. Milkman, Jason Riis (2014). Efek fresh start bisa menjadi titik pandu sementara, yang memotivasi orang untuk mengejar cita-cita dan mengubah perilakunya menjadi lebih positif. Dan lebih aspiratif.

Dan resolusi ulang tahunku
lebih bermanfaat dan lebih kuat. Bagi mereka dan bagi diriku sendiri.





Jembatan dan Terowongan

 Pada suatu hari, salah seorang teman kuliah bercerita. Ia merasa kurang dihargai di tempat kerjanya. Saat diangkat untuk jabatan tertentu, ia tidak diberi tahu apa tugasnya. Setelah menganalisis kondisi, ia menetapkan prioritas utama, yaitu membereskan administrasi. Dari cara pencatatan dan pelaporan, ia rapikan perlahan. Jadi, di permukaan, ia seakan tidak menyelesaikan apa-apa. Nihil. Bila menggunakan bahasa sekarang, ia dianggap magabut. Makan gaji buta.

Setahun berlalu, ia diberhentikan karena dianggap tidak perform.

Curhatannya mengingatkan saya pada perdebatan tentang prestasi Gubernur Jakarta. Meskipun jauh di ibukota sana, media sosial membuatnya terlihat dekat. Gubernur Jakarta seakan lebih kita kenal daripada Ketua RT di desa.

Setiap muncul perbedatan tentang prestasi Gubernur Jakarta, setiap itu pula muncul gambar Simpang Susun Semanggi. Jembatan simpang susun itu memang elok dipandang mata, apalagi pada malam hari saat semua lampunya nyala. Pendar cahaya yang membingkai jembatan akan menggoda semua orang untuk terpukau, apalagi dilihat dari atas. Bentuk simetrisnya yang serupa bunga makin membuatnya terlihat sempurna.

Itulah sifat jembatan yang, menurut Seth Godin, akan menciptakan kemenangan atau monumen bagi orang-orang yang bisa menggalang sumber daya untuk membangunnya. Selain itu, durasi pembuatan jembatan sedikit lebih cepat dan biaya pembuatannya relatif sedikit lebih terjangkau daripada membangun terowongan.

Bridge

Dua alasan itulah yang barang kali melatarbelakangi mengapa lebih banyak pemimpin memilih membangun jembatan daripada terowongan. Konsep ini, menurut Godin, juga berlaku untuk budaya kerja dan masyarakat secara umum.

Padahal, bila dipikir lebih mendalam, terowongan sering menjadi solusi elegan atas suatu permasalahan. Terowongan tidak mengubah lansekap. Terowongan tidak menciptakan kehebohan. Tidak menarik perhatian. Saking kurang menariknya, orang sering lupa dan tidak mengapresiasi orang-orang yang mengumpulkan sumber daya atau yang membangunnya. Meskipun elegan dan efektif, terowongan sering dilupakan.

Itulah mengapa lebih banyak jembatan daripada terowongan, lanjut Seth Godin dalam tulisannya. Betul juga bila dipikir-pikir. Jembatan lebih mudah dipamerkan. Jadinya, lebih mudah diapresiasi. Lebih mudah dihargai.

Sekilas kumencintaimu - Part 13

Sekilas kumencintaimu - Part 13


Semburat fajar pagi menyambutku. Seakan tahu, aku selalu suka semburat sinarnya yang menerobos gagah melewati gumpalan awan di ufuk timur. Sinar kemerahannya menyiratkan harapan. Optimisme tumbuh, pesimisme sirna. Harapan membentang, mimpi buruk melayang. Aku selalu suka fajar. Kuhirup udara pagi, sambil memejamkan mata. Lalu aku berdoa agar hari yang aku jalani hari ini indah. Hari yang penuh harapan.

Ketika kembali menuju rumah, kulihat sepucuk surat di bawah pintu. Kusobek amplopnya, dan ya ampun surat itu panjang. Panjang sekali untuk ukuran Ria yang menurut pengakuannya jarang menulis. Kertasnya putih, dan wangi. Wangi parfumnya. Persis parfum favoritnya. Ini pertama kalinya dia mengirimiku surat. Cara yang menurutku sangat konvensional. Awalnya ingin kurobek saja surat itu. Tetapi demi kemanusiaan dan momen-momen ajaib yang sudah dia hadirkan, dan demi waktu yang sudah dia luangkan untuk menuliskannya, kumantapkan hati untuk membacanya.

Kukira itu akan menjadi surat penjelasan dan pembelaan diri. Pledoi. Ternyata bukan. Ini curahan hati.

Andi, sahabatku,
Sudah sepuluh hari berlalu, sejak kita terlibat dalam perselisihan itu. Siang terik yang tidak hanya membuat kita gerah kepanasan, tetapi mengubah kita. Mengubahku. Mengubahmu. Dan mengubah dunia sekitar kita. Semuanya tak lagi sama.

Hatiku bergemuruh dahsyat. Pikiranku buntu. Perasaanku tak karuan. Rasa bersalah karena menyakitimu langsung menyakitiku. Seperti yang kau tahu, aku langsung minta maaf saat itu. Permintaan maaf sederhana, yang takkan pernah setara dengan rasa sakit yang sudah aku timbulkan.

Aku tak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Aku bahkan tidak tahu apa saja yang sudah aku sampaikan. Semuanya terlepas begitu saja seperti anak panah, yang menerobos cepat, yang tak pernah terpikir untuk kembali ke busur. Itulah gambaran emosiku. Yang kutahu kemudian, anak panah itu bergerak liar tanpa kendali. Menusuk apa saja yang ada di depannya. Menembus jantung salah sekian orang.

Yang kulakukan itu bukan sekadar merisak, tetapi sudah merusak. Kerusakan seperti halnya rubuhnya bangunan tak bisa disusun ulang dengan permohonan maaf semata. Aku paham. Perlu waktu bagimu untuk menata kembali hati. Menata kembali diri. Menyusun sekeping demi sekeping hingga menjadi satu bentuk utuh. Dan bentuk utuh itu tidak akan sama seperti sebelumnya yang kita tahu.

Ada yang berbisik kepadaku di tengah rasa bersalah itu.

Bukankah dari awal kita hanya juga kepingan-kepingan yang berserakan? Lalu kita menyusunnya perlahan. Dengan segala harapan. Seiring waktu, susunan itu akan kembali berserakan. Pecah dan tercecer. Entah oleh pujian. Entah oleh harapan yang dikais perlahan lalu tiba-tiba balik menghantam. Entah oleh pengkhianatan dan perselisihan. Dan bukan kerusakan itu yang membuat indah pribadimu, ucapnya perlahan sambil menatap lamat-lamat mataku. Tetapi pada tekadmu untuk menyusunnya lagi. Susunan itu akan menjadi lebih indah. Lebih kokoh. Dan lebih menawan.

Aku hanya mengangguk mengiyakan. Aku tak tahu harus bagaimana menanggapi nasihatnya itu.

Seperti halnya dirimu yang mengais keping-keping berserakan itu, aku juga begitu. Kumulai menilai diri, menilai seluruh tindak-tanduk. Kumulai tertunduk lesu. Rasa bersalah menjalar, lalu merubuhkan kesadaran. Perlahan setelah kuresapi, ada dua pilihan yang bisa kupilih.

Pertama, menyalahkanmu. Dan itu jalan dan cara yang mudah. Mudah sekali. Bila kau runut sejak awal, kaulah yang yang menyemai semua bibit-bibit pertikaian. Dari bully yang sering kau sampaikan. Dari ocehan tak penting yang kadang mengusik hari. Atau candaan menyakitkan yang berulang. Kedua, menyalahkanku. Bagaimana pun semua bibit yang tersemai itu sudah mati. Aku yang harusnya bisa menahan diri. Tidak menyuburkan benih perselisihan itu. Bukan melepaskan kendali. Jangan-jangan aku juga yang menyemai semua benih pertikaian, hanya aku tidak menyadarinya.

Kupilih opsi yang kedua. Itu semua salahku. Kan kutanggung semua tanggung jawab. Seperti yang kau tahu, kumulai memperbaiki diri. Jarak mulai kujaga, agar kau tetap merasa nyaman. Doa sedari awal terus kupanjatkan agar kau tetap kuat. Tetap bertahan menahan gempuran amarah, rasa kesal, dan kebencian yang bergemuruh.

Dan permintaan maaf tidak bisa segera mengusir kemarahan itu, aku tahu. Aku hendak berhenti meminta maaf, sebelum kuputuskan untuk meminta maaf lagi. Untuk kesekian kalinya, kuhaturkan lagi permohonan lirih ini. Ini adalah permintaan maaf pamungkas. Bukan untuk membela diriku. Bukan pula untuk merisakmu. Tetapi untuk memastikan kepada dirimu dan diriku sendiri bahwa aku sudah melakukan segala upaya maksimal yang perlu untuk menebus kesalahan itu. Kesalahanku.

Sekarang waktunya memberimu waktu. Jarak. Dan ketenangan yang mungkin kau perlukan untuk menata segalanya dari awal. Dan aku akan menunggu kata bahwa kamu memaafkanku. Selama menunggu, aku akan belajar, membaca, menulis, dan memperbaiki diri.

Bila di akhir waktu kau sudah memaafkan, kau akan melihat diriku yang berbeda. Mudah-mudahan yang lebih baik. Seperti halnya saat kulihat dirimu saat itu.

Kuberdoa selalu. Mudah-mudahan di akhir waktu kita akan berada di persimpangan yang sama. Saat itu, kita jadi tahu bahwa hidup kadang adalah menanti, setelah kita lelah berjuang keras. Dan bila penantian itu tak kunjung tiba, kita harus memilih salah satu jalan di persimpangan. Setelah mengikuti jalan itu, kita harus merelakan semua jejak itu terhapus angin. Dan ditimpa jejak-jejak orang lain.

Sebelum kita sampai pada persimpangan jalan itu, izinkan aku untuk kesekian kalinya meminta maaf dari hatiku yang terdalam, dengan setulus-tulus permintaan maaf.

Salam takzim,
Sahabatmu


Kulipat kembali surat itu. Lalu, perlahan kumasukkan ke dalam amplop. Hatiku berdegup kencang. Mataku sedikit berkunang-kunang. Bagaimana pun aku juga salah mendiamkannya. Mengabaikannya. Pengabaian adalah hukuman terburuk. Tak ada lagi perlakuan yang lebih buruk daripada itu. Kemarahan dan tumpahan kata serapah lebih baik daripada orang yang marah tetapi diam dan mengabaikan. Dan aku sudah memberikan hukuman itu. Hukuman yang menyiksanya.

Part 1: Lirih

Panggil Aku Lam Saja (Hikayat Sebuah Nama)*

Laki-laki paruh baya itu agak tergopoh-gopoh. Nafasnya tersengal-sengal. Sesungging senyum tergurat di wajahnya yang tampak lelah, tetapi tetap sumringah. Barisan gigi depan yang hendak tanggal dan menguning karena asap rokok tak mengurangi lebar senyumnya. Disapanya semua orang di jalan. Tak perlu beribu analisis, dia jelas sedang bahagia saja.

Dia mendapatkan anugerah terindah: anak ketiganya lahir. Memang tidak seharu kala anak pertamanya lahir, tetapi tetap saja itu luar biasa. Anugerah besar.

Laiknya kebiasaannya selama ini, dia menuju rumah salah seorang pemuka agama. Ustad Thalib namanya. Dia hendak memohon agar beliau berkenan memberikan nama untuk anak ketiganya.

Berbekal kitab dan pengetahuannya selama belajar di pondok bertahun-tahun, Ustad Thalib memberinya nama “Syaiful Islam”. Nama adalah doa, dan begitulah yang diharapkan ustad Thalib dan orang tua bayi itu. Tak ada orang tua yang menginginkan keburukan bagi anaknya, demikian juga yang diinginkan ustad Thalib.


Waktu pun bergulir tanpa menunggu siapa-siapa. Dan seperti sudah tergariskan, anak itu tumbuh semakin dewasa. Semakin besar keinginannya untuk menjelajah. Dia begitu bahagia dengan nama itu. Nama yang indah beserta harapan dan doa yang melingkupinya.

Namun, seiring laju waktu yang tak bisa dihentikan, ada satu hal yang semakin hari semakin berkurang. Keceriaannya dan senyumannya yang merekah indah perlahan memudar.

Rasa-rasanya itu dimulai ketika namanya diubah. Serampangan. Tanpa dikonfirmasi dan ditanyai, dia harus takluk pada tradisi dan asumsi masyarakat sekitar. Kakak pertamanya yang bernama Sugianto diubah namanya menjadi Sito. Kakak perempuannya bernama Zulaiha, lalu lantas diganti menjadi Siha. Dan Syaiful Islam, entah oleh siapa tepatnya, diganti menjadi Silam.

Semenjak saat itu, Syaiful Islam yang selalu ceria dengan senyum menawan itu seakan ‘mati’. Dia berubah menjadi Silam, yang pendiam dan suka menyendiri.

Aku masih ingat bibirnya yang berubah pucat saat namanya ‘Silam’ dipanggil untuk mengaji sesuai giliran. Masih jelas terekam di memoriku matanya yang sembap, saat dia tidak bisa mengaji. Pikirannya kalut. Entah karena nama yang tidak pernah disukainya itu dipanggil. Entah apa alasan tepatnya.

Masih terekam jelas di benakku saat dia menghindar dari kelompok kami karena tidak tahan menjadi bahan makian. Menjadi olokan. Dia pun tersudut dalam pergaulan.

“O dasar Silam” kata teman masa kecilku dulu kepadaku. Dan bahkan nama Silam menjadi semacam kata olokan baru di kampungku.

Hanya karena nama yang disematkan orang lain kepadanya, dia menderita. Dia kehilangan senyumannya. Musnah sebagian kebahagiaannya.

Lantas kubayangkan, seandainya namanya tetap Syaiful Islam, tak akan ada yang merendahkannya. Menghinanya sedemikian rupa. Senyumnya akan terus merekah.

Terlepas dari ‘beban tidak mengenakkan’ dari nama itu, dia tetap berusaha berteman dengan semuanya dan terus berbagi. Aku masih ingat saat dia masuk ke dalam kubangan besar di sungai untuk menangkap ikan. Setiap kali dia menyelam dan masuk, dia berhasil menangkap dua ikan dengan tangan kosong.

Tujuannya hanya agar semua temannya mendapatkan cukup ikan untuk dibawa pulang. Dan ketika semua mengakui betapa hebatnya Silam dalam menyelam dan menangkap ikan, dia tersenyum. Rasa-rasanya saat itu “Syaiful Islam” sudah kembali.

Tapi hal itu berlangsung sejenak saja. “Silam” kembali menjadi bahan olokan. Dan keceriaannya kembali menghilang.

Mungkin, hanya aku yang tidak memanggilnya sebagai Silam. Kupanggil dia “Lam” saja. Dan dia selalu tersenyum saat aku memanggilnya begitu. Aku tahu bahwa tidak semua orang senang dan bahagia dengan namanya. Beberapa nama, seberapa pun bagusnya, kadang dipelesetkan sehingga menimbulkan trauma bagi penyandangnya.

Yang jelas dia menerimaku apa adanya, dan begitu juga aku. Dia mengajariku banyak hal, termasuk tentang persahabatan. Tentang menerima keadaan. Tentang tidak berhenti berbagi. Tentang menyimpan perih dan mengatasinya bersama-sama.

Suatu ketika aku mengajaknya untuk menanam tembakau di sawah. Lalu, seusai bekerja, ayahku memberinya uang. Matanya sembap. Dan seperti biasanya, tak banyak yang dikatakannya.

“Terima kasih Lam, sudah membantu kami” ucapku dalam bahasa Madura selama perjalanan pulang. Dia mendongakkan wajah. Mungkin dia menahan agar air matanya tidak tumpah.

“Panggil aku Lam saja” ucapnya di akhir waktu.

“Aku akan memanggilmu Lam saja” ikrarku dalam hati. “Sesuai keinginanmu”

*Terinspirasi kisah nyata.