Showing posts with label Temanku. Show all posts
Showing posts with label Temanku. Show all posts

Jalinan Persahabatan 10 Perantau dalam Iringan Puisi Imam Syafiie

Sabtu siang itu terik. Matahari sedang panas-panasnya. Mata kuliah kami juga penuh sedari kemarin. Lelah fisik dan letih otak meremuk-redamkan badan, tapi senyum kami harus tetap lebar. Bukan apa-apa, agar rasa lelah tidak terlalu terasa saja.

Dan kebetulan hari Sabtu itu, 18 November 2017, giliran saya presentasi di mata kuliah Filsafat Ilmu. Di antara mata kuliah lain, saya relatif lama mempersiapkan slide dan makalahnya. Saya sangat menikmati mata kuliah satu ini. Begitu pun teman-teman.

Di mata kuliah yang mestinya rumit dan memeras otak ini, kami seakan bisa istirahat dari deraan mata kuliah inti yang biasanya menyedot habis energi, fokus, dan kapasitas otak. Di mata kuliah ini, kami menjadi diri sendiri. Bercanda dan tertawa, seperti biasanya.

Oya, makalah saya hari itu berjudul "Meneropong Ilmu sebagai Aktivitas & Dimensi-dimensi Ilmu (Psikologi, Sosial-Budaya, Ekonomi, dan Politik)". Seram juga judulnya, bukan?

Saya awali presentasi siang itu dengan puisi berjudul Merantaulah, yang konon digubah Imam Syafiie.

Saya berdiri di depan lalu mulai membaca:---


Merantaulah …
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah …
Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus di dalam hutan

Tepuk tangan teman-teman menggema, sebab jarang, kata mereka, presentasi dimulai dari deklamasi. Begitu juga dosen Filsafat kami, Bapak Ajang Budiman. Beliau tersenyum simpul. Dari sorot mata beliau yang selalu teduh, terpancar kebahagiaan. Terutama mungkin, di kelasnya ini, kami menemukan secercah senyum, dan segudang tawa.

Saya membaca puisi ini demi kami sendiri. Demi teman-teman sekelas. Semester ini baru awal dari dua tahun atau lebih masa studi yang akan kami tempuh. Onak dan duri akan perlahan berganti menghambat langkah kami. Jalan terjal harus kami taklukkan.

Itu pula yang saya alami beberapa minggu sebelumnya. Penyakit tipes membuat saya lumpuh dan hanya bisa berebahan di tempat tidur. Dua minggu lamanya saya terdiam sendiri. Memikirkan apakah ada guna saya meneruskan kuliah ini.

Jadi, motivasi untuk tetap bersama, bergandengan, saling menguatkan dan memotivasi saat menggali ilmu ini menjadi berharga sekali. Itulah alasan utama saya mencari puisi ini, yang cocok dengan jati diri kami. Kami adalah para perantau, yang disatukan jalinan takdir untuk bersama belajar di kampus putih ini.

Saya pun memulai presentasi dengan menjelaskan ilmu, dan bagaimana ilmu tidak berdiri sendiri. Ilmu terkait dengan dimensi-dimensi kehidupan nyata yang tak bisa terpisah. Bagaimana ilmu diperoleh, disintesiskan, dan diintegrasikan menjadi topik berikutnya.

Sesi berikutnya menjadi sesi yang kami tunggu-tunggu. Sesi tanya jawab. Dalam sesi ini, kami bisa bebas bertanya dan menjawab. Tak ada jawaban benar atau salah. Yang ada hanya jawaban dari perspektif lain, yang biasanya disampaikan oleh Pak Ajang.

Semisal, pada suatu presentasi, Bu Ida, salah satu teman kami, menjelaskan bahwa sudah seharusnya orang-orang dari suku asli, semisal suku Dayak, dientaskan dengan diberi pendidikan modern dan gaya hidup modern. Saya tidak setuju. Menurut saya, mereka perlu dibiarkan karena toh pendidikan dan gaya hidup modern justru menjadi biang kerusakan alam. Betapa besar kerusakan alam Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Papua, dll disebabkan berulang-ulang oleh orang yang berpendidikan modern. Perbedaan pandangan kami cukup tajam sampai akhirnya Pak Ajang menengahi.

"Sekarang isu yang berkembang bukan tentang menyediakan pendidikan modern atau membiarkan mereka hidup secara alami, tapi tentang pemberdayaan"

Kami terdiam. Menatap langsung beliau menjelaskan secara lebih cermat.

"Jadi, kata kuncinya adalah pemberdayaan" tukas beliau.

Dan beberapa kali jawaban semacam itu disampaikan dengan mudah. Kepribadian dan cara beliau mengajar membuat kami tidak pernah takut bertanya dan menjawab. Sebab, beliau akan memberikan jawaban yang tidak hanya memuaskan semua pihak, tapi juga mencerahkan. Semakin kami berbuat salah, semakin kami belajar.

Begitu juga ketika Mbak Fahim bertanya tentang teladan atau uswatun hasanah, misalnya terkait peran teladan dan penggunaan smartphone oleh anak-anak.

"Betul. Itulah yang saya coba praktikkan terhadap anak saya sendiri Mbak. Sudah dua minggu anak saya tidak menggunakan hape"

Teman-teman sekelas terperangah. "Luar biasa" ujar Mbak Fahim.

"Bukan karena uswatun hasanah, tapi karena hapenya saya sita".

Dan kami pun meledak dalam tawa.

Dan begitulah dua tahun berlalu dengan penuh tawa, tangis, suka, dan duka. Bukan hanya ilmu dan pengalaman yang kami peroleh dari kampus tercinta, tapi juga kerabat dan sahabat. Betul, persis seperti salah satu baris dalam puisi Imam Syafiie di atas. "Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan".

Dan setelah lulus, lega hati kami sebab kami belajar dengan merdeka dan bahagia. Lalu terdengar lagu "Itulah tandanya kau murid budiman." 


Ya, kami adalah murid budiman, murid Bapak Ajang Budiman hehe

Senyum, tawa, dan kisah kita

Pagi ini, kususuri lagi sepanjang jalan yang biasa kita lalui. Masih kulihat engkau tersenyum di sudut-sudut kampus. Di kursi memanjang yang berkarat dan kini sepi, tawamu tak lagi di sini. Kulirik engkau di meja berwarna merah yang ringkih, tertutup stiker, dan kacanya yang mulai pecah. Retak karena kau telah lama beranjak.

Masih segar tawamu yang terlihat di derai tawa mahasiswa yang sibuk menata masa depan dan mengambil toga pagi ini. Perih karena ingatan dan kenangan tentangmu menguat sementara jejakmu menguap lambat.

Aku masih menatapmu perlahan bangkit dari kursi lalu bergegas membeli cilok, kudapan, atau minuman ringan. Atau kau bergegas cepat dan berhambur menuju tempat fotokopi saat kau lupa belum mencetak bahan presentasi. Atau karena lelah terlalu lama duduk, kau sekadar berdiri.

Lalu kita tertawa lagi, lagi, dan lagi sambil diterpa angin yang berhembus dari sungai Brantas. Dari barisan bunga seroja aneka warna yang berjajar rapi di tepian jalan.

Kita lalu berjalan beriringan di jalan menanjak, yang seakan menghisap napas kita pelan-pelan, dan kita terengah. Kita tertawa dan saling menatap seakan tak terpisah. Matamu dan mataku berbinar saat terlihat di depan sana GKB IV. Dan kita berbincang lagi. Tertawa lagi, seakan kita memang ditakdirkan untuk tertawa bersama. Berjuang bersama. Menahan lelah bersama.

Lalu perlahan jalan kita bercabang. Derap langkah kita memisah. Satu per satu bayang kita pecah. Setiap pecahannya lenyap ditelan angin. Dibawa air danau berwarna kehijauan. Atau tertinggal di pagar-pagar retak berwarna putih di sempadan sungai.

Aku melihatmu tersenyum dengan balutan gaun toga hitam pekat dan make-up berkilau sempurna. Senyum yang melengkung tanpa cela. Pertama kali dan terakhir kali, aku ingin mengabadikannya. Membekukannya hingga bisa kulihat lagi. Lagi. Berkali-kali.

Namun, aku tidak cakap menghentikan waktu. Aku tidak lihai memanipulasi ruang. Aku hanya bisa mencintaimu dan menyayangimu dalam bingkai persahabatan. Pergilah dan tersenyumlah. Tertawalah. Abadilah kisah-kisah kita dalam relung hatiku, dalam palung jiwamu…

Dan aku masih berada di sudut itu… mengenangmu

Rumah Lapang dan Tamu yang Kurang Ajar

Langit berwarna biru hampir sempurna. Namun, sedikit ternoda sepuhan awan putih yang berarak menuju barat. Sementara itu, dia berdendang di belakang. Suaranya sayup-sayup tersapu angin. Lagu romansa kukira yang dia gumamkan. Atau apa lagu Korea. Entahlah.

Aku konsentrasi saja memegang setir sepeda motor. Meskipun sudah tua sepeda motor ini, bangga dan bahagia rasanya bisa memboncengnya berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lain. Setidaknya ini cara terbaik yang bisa kulakukan untuk membahagiakannya pada periode bulan madu ini. Murah dan sudah cukup membuatnya bahagia.

“Maaf, mas mau kemana?” tanya Satpam itu sopan, memecah konsentrasi dan senyum yang kusungging. Matanya menatap kami penuh selidik.

“Mau ke rumah teman Pak?” balasku, dengan ekspresi tenang. Dadaku berdegup kencang sebenarnya, takut ditanya alamat rumah “teman” itu.

“Oya, Mas. Silakan” serunya, yang mengisyaratkan agar aku segera melajukan sepeda motor hitam yang sadelnya dirobek kucing itu.

Setelah berterima kasih, kugas sepeda motorku perlahan. Lalu, kulihat spion. Ternyata ada mobil Kijang Innova berwarna putih yang hendak masuk. Fyuh, slamet-slamet. Untung, ada mobil itu. Dengan begitu, kami berdua jadi terhindar dari ditanya banyak-banyak.

Kami lalu berkeliling. Mencari rumah yang konon mirip di film drama Korea “Full House” itu. Semenjak dia menonton drama yang menggunakan rumah yang dihiasi banyak kaca di pinggir pantai itu, dia selalu mendesakku mengantarnya ke perumahan ini. Konon di dalam perumahan itu, ada rumah besar yang mirip dengan rumah di drama Korea yang populer pada saat itu.

Hatiku ciut sebenarnya. Membayangkan ditanya-tanya satpam, atau mungkin diinterogasi sebelum akhirnya diusir. Tapi sial, cinta, ya cinta, kadang membutakan. Menebalkan rasa berani dan membesarkan jiwa pejuang. Setelah menebalkan muka dan berhitung segala kemungkinan, aku menuruti keinginannya.

“Itu dia rumahnya” serunya dari belakang beberapa saat kemudian. Dari nada suaranya, dia jelas bahagia. Sumringah.

Akhirnya, setelah beberapa kali berputar, kami menemukan rumah Full House yang besar sekali itu. Bestari dan indah. Jajaran pohon palem beserta entah pohon apa ditanam berjajar di sekeliling rumah, yang kutaksir mungkin seluas 1000 meter itu.

Kami lalu berhenti, berkeliling, dan menikmati melihat rumah itu dari jarak dekat dan jauh. Bahagia sekali melihatnya tertawa ceria. Wajahnya berbinar. Matanya penuh pendar cahaya.

Aku hanya bisa tersenyum. Berbahagia melihatnya begitu ceria.

Tapi ada satu yang mengangguku. Berbohong kepada satpam tadi jelas tak bisa dibenarkan. Diam-diam terbersit dalam hati “Seandainya saja benar-benar ada teman yang punya rumah di sini. Mungkin aku tidak perlu bohong pada satpam.”

Dan setelah berbilang tahun, berlalu ratusan purnama, dan beringsut ribuan hari, Allah menjawab harapan kami. Hari ini, kami diundang dalam acara makan siang dalam rangka tasyakur rumah teman kami, Mas Tarto dan Mbak Dewi.

Betul, perumahan yang kumaksud dalam cerita di atas dan rumah yang ditempati Mas Tarto sekeluarga adalah Permata Jingga. Nama perumahan yang ya kau tahu sering menciutkan hati orang yang mendengarnya. Termasuk aku dan orang yang kubonceng saat itu. Dia sudah menjadi ibu dari anak-anakku, anyway.

Tak perlu ditanya. Rumahnya megah. Desainnya indah. Fasad dengan desain minimalis tapi terlihat apik, paduan warna cat eksterior dan cahaya lampu yang berpendar membuatnya terlihat wah. Apalagi lingkungannya tenang, tertata, dan aman. Tatanan rumah dan tatanan lingkungannya mungkin bisa dibilang “perfecto”.

Saking apik tatanan rumahnya kukira area dapur yang kami masuki pertama kali itu adalah ruang tamunya. Dugaan lugu yang lantas memantik tawa teman-teman lain yang berkunjung.

Setelah dimohon menyantap hidangan yang disajikan terlebih dahulu, kami lantas diajak berbincang-bincang. Bercerita. Dan seperti halnya cerita favorit kami semua, Mas Tarto dan Mbak Dewi bercerita tentang lika-liku pernikahan. Tentang pertemuan yang memicu asmara. Lalu, berlanjut ke pernikahan. Cerita lalu berpindah ke ngontrak rumah, berjalan melintasi jalan yang disampingnya terdapat kuburan, dan apalagi kalo bukan cerita hantu. Kami lantas tertawa-tawa dan saling bertukar cerita penuh semangat.

Singgih sekeluarga, Lilik sekeluarga, dan aku sekeluarga yang datang bersamaan malam itu begitu bersyukur bisa bersilaturahim. Bisa ikut mensyukuri  dan mendoakan agar keberkahan selalu menghujani rumah itu. Serta, tak kalah pentingnya belajar cerita kehidupan dari orang yang menjalaninya langsung. Belajar hikmah, bukan lagi teori.
 
Sumber: FB-nya Mas Tarto
Oya, kami datang saat azan isya berkumandang. Padahal kami diundang untuk acara makan siang. Dan sialnya kami tidak bawa apa-apa. Kurang ajar, bukan? Hahaha

Namun, tuan rumah menyambut kami dengan suka cita. Dengan bahagia. Seakan-akan kami tamu pertamanya. Padahal kutahu Mas Tarto menyembunyikan diri saat menguap. Mungkin dia tidak ingin tamunya terburu-buru pulang bila tahu dia lelah dan mengantuk. Kami sadar sebenarnya, Mas Tarto dan Mbak Dewi pasti kelelahan karena sedari siang menerima banyak tamu.

Kami hanya bisa kagum dan berseru di dalam hati melihat sikap keduanya: Salut. Luar biasa keluarga ini. Kami kira rumah yang akan ditempati keluarga mereka berdua ini sudah luas. Sudah lapang. Ternyata hati keduanya jauh lebih luas. Jauh lebih lapang. Dan untuk itu, kami harus banyak belajar.


Malang, 22 Oktober 2016

Sahabat dalam Sulit Sahabat Segala-galanya

Sore tua nan dingin pada bulan Agustus itu berjalan lambat. Seakan malas diajak bergerak. Ratusan mahasiswa berjalan ke sana kemari, seperti tanpa tujuan. Ada yang wajahnya sumringah dengan baju putih dan celana hitam kusut dan menenteng jas almamater hijau. Ada yang kuyu, kelelahan. Ada yang berbicara lantang. Ada yang diam sendirian. Terseret lamunan.

Sementara, taman tengah kampus terlihat kering kerontang. Rerumputannya hendak menjemput ajal. Terlihat semakin melas saja ditindas musim kemarau yang masih lama beranjak, dan derap kaki ratusan orang.

Menyeberang, Menaklukkan Diri dan Ketakutan

Pagi itu langit begitu cerah. Sinar matahari menerobos masuk ke sela-sela pepohonan di Gili Nanggu tanpa satu penghalang pun. Kira-kira sudut matahari mencapai 40-an derajat, ketika kami memutuskan terjun guna melihat langsung segerombolan ikan aneka warna dan ukuran di pinggir dermaga kecil.

Ya, saat itu kami masuk ke dunia bawah alam Gili Nanggu. Berenang, lalu menikmati pesona bawah laut yang selalu disajikan secara ciamik oleh Lombok. Setelah kami bercebur sebentar, tersadarlah bahwa Ella dan Dewi tak terlihat di pantai sekitar.

Sehari sebelumnya, Ella memutuskan tidak akan ikut snorkeling. Keputusan yang mungkin akan disesalinya seumur hidup. Ella beralasan sedang dapat. Siklus bulanan. Skenario yang ada di pikirannya mengerikan. Karena sedang dapat, hiu bisa mencium hal itu, dan dia bisa dimakan.
Tiga Serangkai

Tiga Serangkai

Sore itu keduanya datang ke rumahku di Probolinggo, tepat di saat aku sedang terbaring lemas. Tak berdaya sama sekali. Padahal, beberapa jam kemudian keluarga calon istriku akan datang untuk acara khitbah sebagai balasan sebulan sebelumnya keluargaku sudah mengunjungi keluarga Jombang.

Aku sakit di saat yang kurang pas, dan untungnya Faiz serta Abidin datang di saat yang pas. Rancangan mutakhir Allah mempertemukan kami bertiga dalam pertemuan dan persahabatan yang unik. Termasuk sore itu. Sebuah sore Minggu dalam suatu Oktober 2006 lalu.