Memberi Lebih - Ajaran Shodiq

Hari Sabtu (1/8/2026) lalu, saya bertemu seorang teman lama. Namanya Pak Shodiq. Menariknya, ia selalu menyebut dirinya sendiri dengan nama itu.

"Dulu Pak Shodiq kerja ikut orang Cina. Bayarannya cuma dua puluh ribu rupiah sehari," ceritanya.

"Sebagai tukang cuma dibayar segitu, Pak Shodiq?" tanya saya.

"Iya. Cuma segitu. Tapi Pak Shodiq nggak pernah menghitung waktu. Kalau ada pekerjaan yang biasanya diulur-ulur sama tukang lain, Pak Shodiq kerjakan secepat mungkin."

"Kenapa begitu, Pak Shodiq?"

"Biar cepat selesai saja."

Ia lalu melanjutkan kisahnya.

"Eh, hari Ahadnya Pak Shodiq ditelepon. Disuruh datang ke rumah buat membetulkan kolam. Satu hari kerja, Pak Shodiq dikasih dua ratus ribu."

"Banyak juga ya. Sepuluh kali lipat."

"Iya, Alhamdulillah," jawabnya sambil menyengir.

Saya hanya ikut tersenyum. Dalam hati saya bertanya-tanya, benarkah rezeki sering datang dari sesuatu yang tampaknya sederhana?

Mindset Memberi Lebih

Awalnya saya heran dengan Pak Shodiq.

Secara keterampilan, mungkin ia tak jauh berbeda dengan tukang-tukang lain. Jam terbangnya pun belum tentu paling tinggi. Namun entah bagaimana, ia menjadi orang kepercayaan dua direktur sekaligus di sekolah dan yayasan tempatnya bekerja.

Semakin sering kami berbincang, semakin saya mengerti penyebabnya.

Pak Shodiq hampir tidak pernah berkata, "Tidak bisa."

Ia selalu siap ketika diminta membantu. Tidak banyak mengeluh. Tidak sibuk menghitung untung-rugi. Bahkan ketika mendapat pekerjaan baru yang belum pernah ia lakukan, ia memilih belajar dan mencoba daripada mencari alasan untuk menolak.

Tetapi ada satu kebiasaan yang menurut saya menjadi pembeda paling besar.

Ia selalu berusaha memberi lebih.

Lebih cepat.

Lebih sungguh-sungguh.

Lebih peduli.

Dan hampir tidak pernah memperhitungkan menit demi menit yang ia habiskan.

Di mata banyak orang, mungkin itu terlihat seperti "rugi". Namun justru dari situlah kepercayaan tumbuh. Orang merasa aman menitipkan pekerjaan kepadanya karena mereka tahu hasilnya akan melampaui harapan.

Hadiah Terbesar

Lama-kelamaan, Pak Shodiq menjadi the go-to man.

Kalau ada masalah, namanya yang pertama disebut.

Kalau ada pekerjaan penting, dialah yang dicari.

Ia menjadi top of mind bagi banyak orang, bukan karena paling pintar atau paling hebat, melainkan karena paling bisa diandalkan.

Suatu hari ia bercerita lagi sambil tersenyum.

"Pak Shodiq pernah diajak ke Bu Khalifa, Pak Anton."

"Bu Khalifa?"

"Iya... yang di Dubai."

"Oh... Burj Khalifa?" jawab saya spontan.

"Iya... itu."

Kami pun sama-sama tertawa.

Saya lalu menyadari bahwa hadiah terbesar yang diterima Pak Shodiq bukanlah upah yang sepuluh kali lipat, bukan pula kesempatan bepergian ke luar negeri.

Hadiah terbesarnya adalah kepercayaan.

Dan kepercayaan hampir selalu lahir dari kebiasaan memberi lebih daripada yang diminta.

Mungkin itulah pelajaran yang sering kita lupakan. Banyak orang berharap mendapat lebih—lebih banyak rezeki, lebih banyak kesempatan, lebih banyak penghargaan. Namun alam bekerja dengan cara yang berbeda.

Sering kali, kita baru menerima lebih setelah lebih dulu bersedia memberi lebih.

Perpisahan dan Kado Kenangan

Hari Ahad (2/8/2026) lalu, saya berkesempatan menghadiri sebuah acara perpisahan bersama teman-teman di suatu perusahaan.

Dalam acara itu, setiap orang diberi kesempatan menyampaikan sambutan. Ada yang mewakili perusahaan, ada pula yang mewakili teman-teman yang akan melangkah ke tempat baru. Masing-masing berbicara dengan caranya sendiri: ada yang penuh syukur, ada yang haru, ada pula yang diselingi canda agar air mata tak sempat jatuh.

Dari semua yang saya dengar, satu hal terasa sama: setiap orang memahami bahwa setiap pertemuan pada akhirnya akan bermuara pada perpisahan. Sebaliknya, setiap perpisahan sesungguhnya adalah gerbang menuju pertemuan yang lain.

Begitulah hidup berjalan. Pertemuan dan perpisahan bukanlah dua peristiwa yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari perjalanan yang sama. Ia terus berputar menjadi siklus kehidupan. Dan pada bab-bab tertentu, sekeras apa pun kita berusaha mempertahankan, perpisahan tetap menjadi takdir yang tak dapat dielakkan.

Ruh yang Pernah Berkumpul

Ketika mendapat kesempatan menyampaikan sambutan singkat, saya teringat sebuah hadis yang pernah disampaikan seorang khatib sholat Jumat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

"Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun. Ruh-ruh yang saling mengenal akan saling menyatu, sedangkan ruh-ruh yang tidak saling mengenal akan saling menjauh." (HR. Muslim)

Hadis ini selalu memberi saya cara pandang yang indah tentang hubungan antarmanusia. Mungkin saja, rasa akrab yang muncul begitu cepat kepada seseorang bukanlah sesuatu yang kebetulan. Barangkali ruh-ruh itu pernah dipertemukan, lalu Allah mempertemukannya kembali di dunia dalam bentuk persahabatan, kerja sama, atau keluarga.

Karena itulah, saya merasa bersyukur atas setiap pertemuan yang pernah Allah hadirkan. Atas kebersamaan, keakraban, tawa, pelajaran, bahkan perbedaan pendapat yang menempa kedewasaan.

Dan sebagaimana lazimnya sebuah perjalanan, tentu ada gesekan, ada kekeliruan, ada kata-kata yang mungkin melukai tanpa sengaja. Untuk semua itu, saya menyampaikan terima kasih sekaligus memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Kado yang Mengajarkan Cara Hidup

Usai acara, dua orang teman, Riska dan Shintia, menghampiri kami sambil membawa kado. Isinya sederhana: makanan dan bingkisan. Namun, maknanya terasa jauh lebih besar daripada nilainya.

Saya sungguh terkejut.


Di tengah suasana haru karena harus berpisah, mereka masih memikirkan bagaimana caranya memberi kebahagiaan kepada orang lain.

Betapa indah cara berpikir seperti itu.

Di zaman ketika media sosial sering membuat orang merasa entitled—merasa berhak menerima perhatian, penghargaan, dan perlakuan istimewa—dua orang ini justru menunjukkan arah yang sebaliknya. Mereka tidak sibuk bertanya, "Apa yang akan saya dapat?" Mereka justru bertanya, "Apa yang masih bisa saya berikan?"

Perbedaannya tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.

Orang yang hidup dengan pola pikir "menerima" akan mudah kecewa ketika harapannya tak terpenuhi. Sebaliknya, orang yang hidup dengan semangat "memberi" akan selalu menemukan ruang untuk menghadirkan makna, bahkan ketika dirinya sendiri sedang berada di ujung sebuah perpisahan.

Dari dua sahabat ini saya belajar bahwa kebaikan tidak harus menunggu waktu yang sempurna. Bahkan ketika kesempatan untuk bertemu mungkin tak akan datang lagi, mereka tetap memilih meninggalkan jejak dalam bentuk pemberian.

Barangkali memang begitulah kenangan seharusnya dibangun.

Bukan dari seberapa banyak yang kita terima, melainkan dari seberapa tulus yang kita persembahkan.

Sebab pada akhirnya, yang paling lama tinggal di hati orang lain bukanlah apa yang pernah kita minta, melainkan apa yang pernah kita berikan.