Saat Kacang Dikacangin

Dear K,

Mengapa orang yang tidak dipedulikan atau diabaikan kerap disebut sedang "dikacangin"?

Saya tidak tahu pasti asal-usul ungkapan tersebut. Namun, saya menduga ada benang merahnya dengan peribahasa kacang lupa akan kulitnya—sebuah perumpamaan bagi mereka yang melupakan asal-usulnya serta lupa berterima kasih.

Bisa jadi, ketika seseorang mengabaikan orang lain, ia sedang lupa bahwa kehadiran dan perhatian sekecil apa pun patut disyukuri. Bukankah saat ada orang yang meluangkan waktu untuk berbicara, memberi kabar, atau sekadar menyapa, kita sebenarnya sedang menerima hadiah berupa perhatian?

Dan setiap bentuk perhatian, sekecil apa pun, layak dihargai.

Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah kabar gembira. Sebuah upaya yang diperjuangkan berhari-hari, melewati proses yang panjang dan tidak mudah, akhirnya membuahkan hasil.

Awalnya, saya sempat berpikir untuk tidak menyampaikannya di grup. Toh, mungkin semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun kemudian saya berpikir, barangkali ada yang turut menantikan kabar ini sama seperti saya. Mungkin ada yang akan bernapas lega atau ikut bersukacita ketika membacanya.

Akhirnya, saya meluangkan waktu untuk menuliskan kabar itu di grup. Tak lupa, saya menyisipkan ucapan terima kasih atas doa, kesabaran, dan perjuangan semua pihak yang terlibat.

Lalu, apa yang terjadi? Sunyi. Tak ada satu pun balasan.

Pengalaman serupa juga saya saksikan di grup lain. Ketika bendahara mengabarkan bahwa dana akhirnya cair, semua orang diam. Tidak ada ucapan syukur. Tidak ada apresiasi. Bahkan sekadar dua kata "terima kasih" pun tidak terlihat di layar.

Namun sebaliknya, ketika dana tersebut belum kunjung turun, rentetan pertanyaan datang bertubi-tubi. Semua orang mendesak ingin segera mendapat kepastian.

Dari sana saya menyadari satu hal: manusia sering kali lebih cepat bereaksi terhadap sebuah masalah daripada menghargai penyelesaiannya. Kita begitu vokal dalam menyampaikan keluhan, tetapi mendadak bisu saat harus mengucapkan terima kasih.

Padahal, membalas pesan tidak butuh waktu lama. Memberi tanda jempol, mengirim emoji, atau mengetik "terima kasih" hanya perlu beberapa detik. Namun, bagi orang yang membawa kabar, respons kecil itu bisa menjadi tanda yang bermakna bahwa usahanya tidak sia-sia dan kehadirannya dihargai.

Sejak saat itu, saya mencoba menjadikan hal ini sebagai pengingat diri. Jika ada orang yang mengirim pesan kepada saya, sebisa mungkin saya meresponsnya. Jika ada yang menyampaikan kabar baik, saya ikut mengapresiasi. Jika ada yang telah bersusah payah membantu, saya pantang membiarkan usahanya berlalu begitu saja.

Karena sering kali, yang dibutuhkan seseorang bukanlah balasan yang panjang lebar, melainkan sekadar tanda bahwa pesannya telah diterima dan keberadaannya diakui.

Jangan sampai kita menjadi orang yang bising menuntut perhatian, tetapi pelit saat harus memberikannya.

Jangan sampai kita menjadi seperti kacang yang lupa kulitnya—mudah saat menerima, tetapi lupa untuk menghargai.

Dear K, utamakan yang utama

Dear K, 


Beberapa hari ini, pikiran ayah terusik satu hal: seorang kenalan ayah yang juga memimpin sebuah Lembaga terlihat sibuk sekali. Hari-harinya seakan penuh agenda. Ia ke sana kemari. Di layar komputer matanya menatap tajam. Ketikan demi ketikan meluncur dari tangannya.
 
Di sisi lain, hal-hal utama semisal perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan penindaklanjutan rencana tak berjalan memadai. Sesekali, dia membahas kedisiplinan. Ia urusi hal-hal kecil di sekelilingnya. Ia kelola bawahannya secara mikro.
 
Ayah lalu teringat tausiyah dari Gus Baha, seorang ulama yang namanya sering jadi rujukan. Beliau bercerita bahwa banyak orang yang mengurusi sholat tahajud, tetapi kadang lupa memperhatikan sholat-sholat fardhu. Orang sibuk mengurusi hal-hal sunnah dan mubah, lalu melupakan kewajiban. Padahal kewajiban itu lebih utama.
 
Begitu pula seorang pemimpin. Ayah misalnya. Ayah harus tahu hal-hal penting di rumah yang harus dijaga. Hal-hal wajib. Misalnya, menuntaskan kewajiban dulu baru menuntut hak. Ayah harus tahu diri bahwa Ayah harus menjadi teladan dulu sebelum memintamu melakukan sesuatu. Ayah harus mengomunikasikan, membimbing, membina, dan memberimu motivasi.
 
Thus, dalam hidup, sering kita tergelincir untuk mengurus hal-hal remeh, dan lupa hal-hal besar yang mestinya menjadi kewajiban kita. Kita terlena dengan hal-hal yang seakan penting padahal dampaknya kecil.
 
Nah, Ayah pernah lihat suatu matriks, namanya Impact Effort Matrix.


Penjelasannya seperti ini:

- Quick Wins (kemenangan cepat): kegiatan yang dapat dilakukan dengan usaha minimal tetapi langsung memberikan dampak positif yang terasa.
Contoh: membuat grup komunikasi resmi pengurus kelas atau OSIS agar informasi cepat tersampaikan dan mengurangi miskomunikasi.


-  Major Projects (proyek besar): program yang butuh perencanaan, waktu, dan tenaga lebih besar, tetapi hasilnya bermanfaat dalam jangka panjang.
Contoh: menyelenggarakan program mentoring antara kakak kelas dan adik kelas untuk meningkatkan prestasi dan adaptasi siswa baru.


-  Fill-ins (isian): aktivitas ringan yang tidak butuh banyak usaha, tetapi juga tidak berdampak besar.
Contoh: membantu menyiapkan kursi sebelum rapat atau mengganti desain poster kegiatan kecil.


-  Time Wasters (pemborosan waktu): kegiatan yang menyita banyak waktu namun kontribusinya terhadap tujuan organisasi sangat kecil.
Contoh: rapat yang terlalu panjang tanpa agenda jelas atau diskusi berulang yang tidak menghasilkan keputusan.
 
Itulah K, cara agar kita bisa mengutamakan yang utama. Menghilangkan yang tidak utama.
 
 
 
 
 

Dear K, memimpin itu butuh kepercayaan

Saat Real Madrid menunjuk Xabi Alonso sebagai pelatih pada awal musim, harapan langsung membuncah. Kejayaan Madrid terasa sudah di depan mata. Publik membayangkan kisah gemilang seperti yang ditorehkan Guardiola ketika pertama kali menukangi Barcelona—enam gelar hanya dalam satu tahun.

Namun, harapan itu rupanya hanya melayang di angkasa. Realitas di bumi jauh panggang dari api. Alonso, sebagaimana banyak dibicarakan orang, gagal menguasai ruang ganti. Para pemain inti merasa diri mereka lebih besar, lebih kuat, dan—yang terpenting—lebih dipercaya oleh pemilik klub.

Puncaknya terjadi di final Supercopa España. Alonso ingin menjalankan tradisi guard of honour untuk sang juara, Barcelona FC, dan mengajak para pemain ikut serta. Namun Mbappé punya pandangan berbeda. Ia justru mengajak rekan-rekannya memboikot tradisi tersebut.

Xabi Alonso pun muak dan merasa cukup. Dengan persetujuan bersama, ia meninggalkan Madrid—sebuah tim yang dipenuhi pemain bintang dengan ego besar. Begitu besar ego itu, hingga mereka merasa lebih besar daripada pelatih, bahkan lebih besar daripada klub itu sendiri.

Kesuksesan Alonso bersama Bayer Leverkusen tak berbekas di Madrid. Ia gagal membawa pengaruh yang sama ke ruang ganti Real Madrid.

Perebutan Kuasa

Fenomena ini tidak hanya terjadi di tim sepak bola. Dalam tim atau kelompok lain pun sering terjadi hal serupa. Beberapa orang merasa lebih besar, egonya lebih kuat. Akibatnya, pemimpin kesulitan melakukan konsolidasi dan membangun kekompakan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin menjalankan agenda bersama jika para “pemain inti” memiliki agenda masing-masing?

Bagaimana pula seorang pemimpin bisa mengatur barisan menuju tujuan yang sama bila ia tidak mendapat kepercayaan dan amanah?

Ayah pernah mengalaminya. Ayah memimpin sebuah grup safari religi. Namun satu orang—kemudian bertambah menjadi beberapa—seolah memblokir peta jalan yang telah disepakati bersama. Selalu ada yang salah dalam setiap pilihan dan keputusan yang Ayah ambil. Setiap hari, rongrongan demi rongrongan hadir untuk mendelegitimasi peran Ayah sebagai pemimpin.

Kekompakan sulit digalang. Kebersamaan susah diwujudkan. Setiap orang membawa agenda sendiri.

Apakah Ayah menyerah?

Tentu tidak.

Ayah memilih pendekatan lain. Saat itu, pendekatan yang diambil berbasis penyelesaian tugas. Yang penting tugas selesai. Misi tuntas. Hal-hal lain tidak lagi menjadi prioritas.

Di dunia ini, seperti kata Gus Baha, tidak mudah selalu menemukan posisi yang ideal. Karena itu, kadang kita perlu mengambil langkah pragmatis. Tugas harus diselesaikan. Misi harus dijalankan. Adapun hal-hal lain—yang seharusnya, yang sebaiknya—biarlah ia tetap menjadi cita-cita. Tetap jadi harapan bersama.

Dear K, mempercepat, menunda, atau justru melambat?

 Dear K,

Tiga suratku yang lalu mungkin membuatmu bertanya-tanya: kapan harus mempercepat, dan kapan justru perlu menunda?

Jika boleh Ayah ringkaskan, percepatlah kewajiban atau tugas yang tidak ada faedahnya bila ditangguhkan. Mandi, misalnya. Atau mencuci baju, merapikan kamar. Menundanya tidak akan memberi banyak manfaat; justru sering kali menambah beban ketegangan psikologis. Kelak, saat kau sudah dewasa, membayar tagihan pun tak perlu kau tunda-tunda. Itu adalah kewajibanmu kepada orang lain. Begitu pula ketika engkau diamanahi menjadi pemimpin. Apa pun kewajiban rutin yang ada, tak perlu kau tangguhkan penyelesaiannya.

Namun, ada hal-hal yang justru perlu kau tunda: kesenangan sementara. Bermain gim sampai larut malam, misalnya. Atau mengobrol hingga lupa waktu. Kesenangan semacam itu akan terasa manis justru bila dibatasi. Jika seluruh waktu yang terbatas ini kau habiskan untuk mengecap kenyamanan sesaat, kau akan melupakan kewajiban-kewajiban yang seharusnya kau percepat. Waktu kita terbatas. Usia kita terbatas. Fokus kita pun terbatas. Karena itu, kita harus memilih untuk menunda hal-hal yang kurang signifikan, agar dapat mempercepat hal-hal yang benar-benar bermakna. Dengan begitu, waktumu dapat berguna dan bermanfaat bagi masa depanmu.

Di antara mempercepat dan menunda, ada satu langkah lagi: memperlambat. Laju hidup kita kerap terlalu cepat, seperti sepeda motor yang melaju kencang. Setiap hari Ayah melewati Jalan Masjid Barat dengan sepeda motor—cepat dan efektif. Namun suatu hari, Ayah berjalan kaki. Dalam langkah yang lebih lambat itu, Ayah menemukan sebuah toko indah yang tak pernah Ayah sadari sebelumnya. Selama ini, toko itu selalu terlewatkan.

Begitu pula laju hidup Ayah. Bangun pukul empat pagi, berkegiatan, bekerja hingga sore, lalu beristirahat dan tidur. Esoknya berulang lagi. Kadang-kadang Ayah lupa menghargai hal-hal kecil yang sebenarnya berharga. Memperlambat laju hidup sesekali membuat kita mampu melihat dan mensyukuri hal-hal kecil tersebut.

Kau mungkin masih bingung kapan harus mempercepat, kapan harus menunda, dan kapan harus memperlambat. Tak apa. Kau akan mengingatnya selama engkau menjalani hidup dengan kesadaran—dengan pikiran, bukan semata-mata dengan refleks.

Dear K, menunda itu membuat lelah

 Dear K,

Salah satu kenalan Ayah, sebut saja RH, sering sekali menunda pekerjaan padahal jabatannya di atas. 

Bila ada yang mengingatkan, dia otomatis menjawab "iya." Namun, iya itu ya hanya manis di mulut. Ia kehilangan rasa urgensi itu. Setiap kali ada yang mengingatkan, ia seakan otomatis mengaktifkan kebiasaan buruk itu. Orang yang mengingatkan itu menjadi isyarat (cue), lalu ia tanggapi (response) dengan seadanya dan secepatnya, dan ia pun merasa puas (reward) dari aktivitas penundaan itu.

Orang-orang di sekelilingnya seakan lelah harus mengingatkan lagi-lagi dan mendapat respons serupa.

"Lelah saya harus selalu mengingatkan" ucap salah satu teman. "Responsnya akan sama. Iya, tapi lalu ditunda sampai akhirnya lupa" tegasnya.

Dalam istilah Jawa, nggih-nggih ora kepanggih. Artinya, hanya menjawab iya saja tapi tidak segera dilaksanakan. Beberapa mengistilahkannya dengan janji palsu.

Rasa puas dari menunda itu memang ada dan terasa. Dia akan terus bertumpuk-tumpuk dan menjadi otomatis.

Di sisi lain, dia seakan produktif dan terus merasa lelah. Padahal, hasilnya tak ada. Itu mengingatkan pada Zeigarnik Effect.

Zeigarnik sendiri psikolog Soviet yang menemukan fenomena ini. Orang cenderung mengingat tugas yang belum selesai atau terputus. Ingatan orang tentang tugas yang tertunda lebih kuat daripada ingatannya tugas yang sudah selesai.

Efek ini bukan hanya tentang ingatan, tetapi ketegangan kognitif yang tercipta akibat pekerjaan yang tidak selesai.

source: freepik

Sederhanya:

Saat kita memulai suatu tugas, otak menciptakan representasi mental yang berorientasi pada penyelesaian tujuan.

- Tugas selesai → siklus tertutup → sumber daya mental dilepaskan.

- Tugas belum selesai → siklus tetap terbuka → sumber daya mental tetap aktif dan digunakan.

Bayangkan bila daftar tugas kita bertumpuk-tumpuk dan tidak kunjung selesai.

Betapa berat beban ketegangan kognitif yang kita tanggung. Dan ketegangan kognitif itu bisa menyeret kita ke rasa lelah yang tak kunjung usai. Tak kunjung tersalurkan.


Dear K, urgensi itu kunci

 Kutuliskan di surat lalu bahwa hidup pada dasarnya adalah rangkaian waktu. Cara kita merespons waktu itulah yang menentukan masa depan seperti apa yang sedang kita bentuk. Ketika waktu kita anggap sebagai sumber daya yang gratis dan tak terbatas, kita cenderung tidak mengelolanya dengan sungguh-sungguh. Waktu dibiarkan berlalu, tanpa makna dan tanpa dampak.

Karena itu, banyak orang menekankan pentingnya rasa urgensi. Urgensi berfungsi sebagai pendorong yang mengubah niat menjadi gerak. Dari ingin menjadi tindakan. Rasa ini membantu kita berpihak pada masa depan yang ingin kita hadirkan. Tanpa urgensi, niat sering kali berhenti sebagai wacana—baik di kepala maupun di catatan.

Tanpa urgensi, kita cenderung diam. Fenomena doom scrolling di media sosial adalah contohnya yang paling nyata. Feed video singkat yang instan membuat kita terus menggulir tanpa sadar. Eh ternyata waktu kita terkuras habis. Kebiasaan ini bahkan disebut-sebut berkontribusi pada penurunan kualitas fokus dan daya pikir. Para psikolog menyebutnya sebagai brain rot.

Tahu-tahu hari sudah larut, mata mengantuk, dan tubuh menagih istirahat. Esok paginya, pola yang sama terulang: bangun, lalu kembali menggulir layar. Tujuan yang pernah kita tetapkan perlahan mengabur, terkalahkan oleh kenyamanan sesaat.

https://balajis.com/p/proof-of-workout-habit

Di sinilah rasa urgensi perlu ditanamkan secara sadar. Jika kita menggunakan kerangka Atomic Habits, perubahan kebiasaan selalu dimulai dari cue atau isyarat. Isyarat ini memicu keinginan (motivasi), yang kemudian mendorong respons (tindakan). Tindakan menghasilkan reward, dan dari situlah kebiasaan terbentuk.

Dengan kata lain: cue menimbulkan keinginan, keinginan memicu respons, dan respons menghadirkan kepuasan. Lingkaran ini perlu terus kita aktifkan agar kebiasaan baik menjadi otomatis seiring waktu.

Contohnya sederhana. Ketika adzan terdengar (cue), muncul keinginan untuk sholat (motivasi). Keinginan itu mendorong tindakan sholat (respons), dan setelahnya hadir ketenangan batin sebagai reward.

Hal yang sama berlaku pada kebiasaan menunda. Saat sebuah isyarat muncul, kita langsung ingin menunda (motivasi), lalu benar-benar menunda (respons). Anehnya, menunda pun memberi reward—rasa lega sesaat. Dari sinilah kebiasaan menunda menguat.

Keduanya sama-sama kebiasaan. Perbedaannya terletak pada fondasinya: yang satu dilandasi rasa urgensi, yang lain dilandasi kemalasan yang tersamar sebagai kenyamanan.

Pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan oleh besar-kecilnya mimpi, melainkan oleh respons kecil yang kita pilih setiap kali waktu mengetuk. Urgensi bukan soal terburu-buru, melainkan kesadaran bahwa waktu selalu bergerak—dan kita perlu bergerak bersamanya, dengan sengaja dan bertanggung jawab.

 

Dear K, kau mau satu atau dua marshmallow?

 Dear K,

Kau mungkin bertanya-tanya, bila menyegerakan itu penting, mengapa sebagian besar orang justru suka menunda-nunda?

Walter Mischel pernah melakukan eksperimen sederhana, yang lalu kita kenal
sebagai Marshmallow Test. Anak-anak diberi satu marshmallow. Mereka boleh langsung memakannya. Namun bila mampu menunggu beberapa menit, mereka akan mendapat dua marshmallow.

Eksperimen ini bukan tentang marshmallow, tetapi kemampuan menunda kepuasan.

Sebagian anak langsung makan. Godaannya terlalu dekat, terlalu nyata. Sebagian lain menunggu. Mereka mengalihkan perhatian, menutup mata, atau menyibukkan diri agar waktu berlalu.

Hasilnya menarik. Anak-anak yang mampu menunda cenderung tumbuh dengan kemampuan fokus yang lebih baik, lebih tahan menghadapi proses panjang, dan lebih terampil mengelola emosi.

Kita sehari-hari jarang melihat marshmallow sejelas dan segamblang itu. Marshmallow kita sudah berubah bentuk. Kadang, berupa notifikasi ponsel saat kita sedang bekerja. Atau kasur yang terasa sangat menggoda ketika ada pekerjaan kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan sekarang. Bisa juga berupa lantai kotor yang kita pilih untuk disapu nanti.

Mengapa kita memilih satu marshmallow sekarang?

Karena rasa lega dan rasa puas sesaat itu.

Di surat lalu, kutulis tentang rasa itu. Saat kita menunda menyapu lantai, kita merasa lega karena tak perlu capek sekarang. Tidak ada konsekuensi langsung. Tidak ada hukuman. Bahkan ada reward negatif: kita terhindar dari rasa lelah.

Karena tidak ada dampak instan, penundaan itu kita ulang. Lagi dan lagi. Hingga perlahan, ia berubah menjadi pola pikir. Menjadi keyakinan diam-diam bahwa kenyamanan sekarang lebih masuk akal daripada manfaat yang datang belakangan.

“Kalau bisa nyaman sekarang, kenapa harus menunggu?”

Di titik ini, Marshmallow Test menjadi sangat relevan. Bukan karena kita tak tahu mana yang lebih baik. Marshmallow pertama selalu terasa lebih dekat, lebih nyata dan lebih mudah diraih.

Maka menyegerakan bukan soal terburu-buru. Ia soal kesadaran memilih imbalan yang lebih bermakna, meski tidak langsung terasa.

Satu marshmallow sekarang, atau dua marshmallow nanti.

Dan hampir setiap hari, tanpa disadari, kita sedang memilih salah satu dari dua pilihan ini.