Seorang teman bercerita bahwa ia baru saja mendapat durian runtuh.
Ia menerima "transfer" dalam jumlah besar. Utang-utangnya pun
seakan terlunasi.
Bukan hanya itu. Ia juga memperoleh satu "fasilitas" yang luar biasa: hampir setiap doa dan kebutuhannya terasa lebih cepat dikabulkan.
"Wah, luar biasa sekali durian runtuhmu," kata saya.
"Lalu, bagaimana caranya bisa mendapatkan semua itu?"
Ia tersenyum.
"Cukup bersabar."
Maksudnya?
Ternyata, beberapa waktu lalu ia diperlakukan zalim oleh salah seorang rekan kerjanya. Jadwal kerjanya dibuat sangat tidak manusiawi. Sikap yang diterimanya pun dingin dan menyakitkan.
"Lho, memangnya tidak kamu lawan?" tanya saya.
"Bisa saja. Tapi guru-guru saya mengajarkan bahwa ketika seseorang dizalimi lalu memilih bersabar karena Allah, ada tiga hadiah besar yang menantinya."
Pertama, ia menerima "transfer pahala" dari orang yang menzaliminya.
Kedua, dosa-dosanya ikut "ditransfer" kepada orang yang berbuat zalim itu.
Dan ketiga, doa-doanya lebih dekat kepada pengabulan Allah. Bukankah doa orang yang dizalimi termasuk doa yang tidak memiliki penghalang di hadapan-Nya?
"Kalau begitu," lanjutnya, "justru aku tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan. Karena setiap kali aku mampu menahan diri, sebenarnya aku sedang menerima keuntungan."
Saya terdiam.
Hikmahnya?
Saja jadi belajar: orang yang berbuat zalim sering kali mengira dirinya sedang menang. Padahal, tanpa sadar ia sedang membayar mahal sekali: ia berikan pahalanya kepada orang lain, sekaligus memikul dosa yang bukan miliknya.
Maka, ketika dizalimi, jangan tergesa-gesa membalas dengan cara yang sama. Bersabar bukan berarti lemah. Bersabar adalah kekuatan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika hati sedang terluka.
Bila pada akhirnya kita harus membela diri atau menuntut keadilan, lakukanlah dengan cara yang baik, adil, dan tidak melampaui batas. Sebab tujuan seorang mukmin bukan sekadar mengalahkan manusia, tetapi memenangkan ridha Allah.
Mungkin, di situlah letak durian runtuh yang ia maksud.






