Dear K, utamakan yang utama

Dear K, 


Beberapa hari ini, pikiran ayah terusik satu hal: seorang kenalan ayah yang juga memimpin sebuah Lembaga terlihat sibuk sekali. Hari-harinya seakan penuh agenda. Ia ke sana kemari. Di layar komputer matanya menatap tajam. Ketikan demi ketikan meluncur dari tangannya.
 
Di sisi lain, hal-hal utama semisal perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan penindaklanjutan rencana tak berjalan memadai. Sesekali, dia membahas kedisiplinan. Ia urusi hal-hal kecil di sekelilingnya. Ia kelola bawahannya secara mikro.
 
Ayah lalu teringat tausiyah dari Gus Baha, seorang ulama yang namanya sering jadi rujukan. Beliau bercerita bahwa banyak orang yang mengurusi sholat tahajud, tetapi kadang lupa memperhatikan sholat-sholat fardhu. Orang sibuk mengurusi hal-hal sunnah dan mubah, lalu melupakan kewajiban. Padahal kewajiban itu lebih utama.
 
Begitu pula seorang pemimpin. Ayah misalnya. Ayah harus tahu hal-hal penting di rumah yang harus dijaga. Hal-hal wajib. Misalnya, menuntaskan kewajiban dulu baru menuntut hak. Ayah harus tahu diri bahwa Ayah harus menjadi teladan dulu sebelum memintamu melakukan sesuatu. Ayah harus mengomunikasikan, membimbing, membina, dan memberimu motivasi.
 
Thus, dalam hidup, sering kita tergelincir untuk mengurus hal-hal remeh, dan lupa hal-hal besar yang mestinya menjadi kewajiban kita. Kita terlena dengan hal-hal yang seakan penting padahal dampaknya kecil.
 
Nah, Ayah pernah lihat suatu matriks, namanya Impact Effort Matrix.


Penjelasannya seperti ini:

- Quick Wins (kemenangan cepat): kegiatan yang dapat dilakukan dengan usaha minimal tetapi langsung memberikan dampak positif yang terasa.
Contoh: membuat grup komunikasi resmi pengurus kelas atau OSIS agar informasi cepat tersampaikan dan mengurangi miskomunikasi.


-  Major Projects (proyek besar): program yang butuh perencanaan, waktu, dan tenaga lebih besar, tetapi hasilnya bermanfaat dalam jangka panjang.
Contoh: menyelenggarakan program mentoring antara kakak kelas dan adik kelas untuk meningkatkan prestasi dan adaptasi siswa baru.


-  Fill-ins (isian): aktivitas ringan yang tidak butuh banyak usaha, tetapi juga tidak berdampak besar.
Contoh: membantu menyiapkan kursi sebelum rapat atau mengganti desain poster kegiatan kecil.


-  Time Wasters (pemborosan waktu): kegiatan yang menyita banyak waktu namun kontribusinya terhadap tujuan organisasi sangat kecil.
Contoh: rapat yang terlalu panjang tanpa agenda jelas atau diskusi berulang yang tidak menghasilkan keputusan.
 
Itulah K, cara agar kita bisa mengutamakan yang utama. Menghilangkan yang tidak utama.
 
 
 
 
 

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »