Dear K,
Tiga suratku yang lalu mungkin membuatmu bertanya-tanya: kapan harus mempercepat, dan kapan justru perlu menunda?
Jika boleh Ayah ringkaskan, percepatlah kewajiban atau tugas yang tidak ada faedahnya bila ditangguhkan. Mandi, misalnya. Atau mencuci baju, merapikan kamar. Menundanya tidak akan memberi banyak manfaat; justru sering kali menambah beban ketegangan psikologis. Kelak, saat kau sudah dewasa, membayar tagihan pun tak perlu kau tunda-tunda. Itu adalah kewajibanmu kepada orang lain. Begitu pula ketika engkau diamanahi menjadi pemimpin. Apa pun kewajiban rutin yang ada, tak perlu kau tangguhkan penyelesaiannya.
Namun, ada hal-hal yang justru perlu kau tunda: kesenangan sementara. Bermain gim sampai larut malam, misalnya. Atau mengobrol hingga lupa waktu. Kesenangan semacam itu akan terasa manis justru bila dibatasi. Jika seluruh waktu yang terbatas ini kau habiskan untuk mengecap kenyamanan sesaat, kau akan melupakan kewajiban-kewajiban yang seharusnya kau percepat. Waktu kita terbatas. Usia kita terbatas. Fokus kita pun terbatas. Karena itu, kita harus memilih untuk menunda hal-hal yang kurang signifikan, agar dapat mempercepat hal-hal yang benar-benar bermakna. Dengan begitu, waktumu dapat berguna dan bermanfaat bagi masa depanmu.
Di antara mempercepat dan menunda, ada satu langkah lagi: memperlambat. Laju hidup kita kerap terlalu cepat, seperti sepeda motor yang melaju kencang. Setiap hari Ayah melewati Jalan Masjid Barat dengan sepeda motor—cepat dan efektif. Namun suatu hari, Ayah berjalan kaki. Dalam langkah yang lebih lambat itu, Ayah menemukan sebuah toko indah yang tak pernah Ayah sadari sebelumnya. Selama ini, toko itu selalu terlewatkan.
Begitu pula laju hidup Ayah. Bangun pukul empat pagi, berkegiatan, bekerja hingga sore, lalu beristirahat dan tidur. Esoknya berulang lagi. Kadang-kadang Ayah lupa menghargai hal-hal kecil yang sebenarnya berharga. Memperlambat laju hidup sesekali membuat kita mampu melihat dan mensyukuri hal-hal kecil tersebut.
Kau mungkin masih bingung kapan harus mempercepat, kapan harus menunda, dan kapan harus memperlambat. Tak apa. Kau akan mengingatnya selama engkau menjalani hidup dengan kesadaran—dengan pikiran, bukan semata-mata dengan refleks.
