Saat Real Madrid menunjuk Xabi Alonso sebagai pelatih pada awal musim, harapan langsung membuncah. Kejayaan Madrid terasa sudah di depan mata. Publik membayangkan kisah gemilang seperti yang ditorehkan Guardiola ketika pertama kali menukangi Barcelona—enam gelar hanya dalam satu tahun.
Namun, harapan itu rupanya hanya melayang di angkasa. Realitas di bumi jauh panggang dari api. Alonso, sebagaimana banyak dibicarakan orang, gagal menguasai ruang ganti. Para pemain inti merasa diri mereka lebih besar, lebih kuat, dan—yang terpenting—lebih dipercaya oleh pemilik klub.
Puncaknya terjadi di final Supercopa España. Alonso ingin menjalankan tradisi guard of honour untuk sang juara, Barcelona FC, dan mengajak para pemain ikut serta. Namun Mbappé punya pandangan berbeda. Ia justru mengajak rekan-rekannya memboikot tradisi tersebut.
Xabi Alonso pun muak dan merasa cukup. Dengan persetujuan bersama, ia meninggalkan Madrid—sebuah tim yang dipenuhi pemain bintang dengan ego besar. Begitu besar ego itu, hingga mereka merasa lebih besar daripada pelatih, bahkan lebih besar daripada klub itu sendiri.
Kesuksesan Alonso bersama Bayer Leverkusen tak berbekas di Madrid. Ia gagal membawa pengaruh yang sama ke ruang ganti Real Madrid.
Perebutan Kuasa
Fenomena ini tidak hanya terjadi di tim sepak bola. Dalam tim atau kelompok lain pun sering terjadi hal serupa. Beberapa orang merasa lebih besar, egonya lebih kuat. Akibatnya, pemimpin kesulitan melakukan konsolidasi dan membangun kekompakan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin menjalankan agenda bersama jika para “pemain inti” memiliki agenda masing-masing?
Bagaimana pula seorang pemimpin bisa mengatur barisan menuju tujuan yang sama bila ia tidak mendapat kepercayaan dan amanah?
Ayah pernah mengalaminya. Ayah memimpin sebuah grup safari religi. Namun satu orang—kemudian bertambah menjadi beberapa—seolah memblokir peta jalan yang telah disepakati bersama. Selalu ada yang salah dalam setiap pilihan dan keputusan yang Ayah ambil. Setiap hari, rongrongan demi rongrongan hadir untuk mendelegitimasi peran Ayah sebagai pemimpin.
Kekompakan sulit digalang. Kebersamaan susah diwujudkan. Setiap orang membawa agenda sendiri.
Apakah Ayah menyerah?
Tentu tidak.
Ayah memilih pendekatan lain. Saat itu, pendekatan yang diambil berbasis penyelesaian tugas. Yang penting tugas selesai. Misi tuntas. Hal-hal lain tidak lagi menjadi prioritas.
Di dunia ini, seperti kata Gus Baha, tidak mudah selalu menemukan posisi yang ideal. Karena itu, kadang kita perlu mengambil langkah pragmatis. Tugas harus diselesaikan. Misi harus dijalankan. Adapun hal-hal lain—yang seharusnya, yang sebaiknya—biarlah ia tetap menjadi cita-cita. Tetap jadi harapan bersama.
