Dear K, hidup itu rangkaian waktu

Hidup adalah rangkaian waktu, yang terus berderap mengikuti rel takdir yang sudah dipilihkan dan kita pilih.

Rangkaiannya k
adang terasa panjang, seolah tak selesai-selesai. Kadang justru begitu singkat, nyaris tak sempat kita sadari.

Waktu melesat seperti anak panah—tak mengenal jalan putar, tak pernah menoleh ke belakang. Ia terus melaju, dan arahnya kerap mengikuti tujuan yang kita tetapkan sejak awal, entah kita siap atau tidak.

Itu pula yang ayah rasakan kini. Kenangan masa kecil masih terasa segar. Ayah bermain di galengan sawah bersama teman-teman, berlari tanpa alas kaki, tertawa tanpa beban. Sesekali ayah melompat dari bangunan dam ke pusaran air di bawahnya—dan ajaibnya, semua baik-baik saja.

Pernah pula, pada suatu siang tahun baru, kami membuat rakit dari gedebog pisang. Kami mencari batang-batang pisang yang sudah tumbang, sebagian hanyut terbawa arus. Dengan sebilah bambu, kami menyatukannya, lalu menaikinya perlahan menyusuri sungai. Di sepanjang aliran itu, pohon-pohon bambu tumbuh rapat, seakan membentuk kanopi alami. Dari dahan-dahannya bergelantungan ular—besar dan kecil. Jantung berdegup kencang, tetapi kami tetap melaju dalam senyap, diliputi rasa takut sekaligus kagum. Masa kecil terasa begitu kaya. Begitu hidup. Dinamis.

Kini, ayah menjalani hari dengan bekerja tanpa jeda. Petualangan-petualangan kecil itu perlahan tersingkir, tertimbun rutinitas dan tanggung jawab. Dan tanpa disadari, waktu berlalu begitu cepat. Seakan mata belum sempat terbuka sepenuhnya, semuanya sudah terlewat—dengan kecepatan yang menghipnotis.

Namun, ayah belajar satu hal: waktu memang tak pernah berhenti. Kenangan tak benar-benar hilang. Ia menjelma menjadi arah dan pengingat tentang siapa dan asal kita. Dari sanalah ayah ingin menjaga agar hidup tidak hanya diisi dengan kewajiban, tetapi juga dengan petualangan.

Untukmu, K, ayah berharap waktu kelak berjalan lebih ramah. Semoga langkahmu tak hanya cepat, tetapi juga sadar. Semoga di sela-sela kesibukanmu, selalu ada ruang untuk bermain, untuk bertanya, untuk mengagumi dunia dengan mata yang jujur. Dan jika suatu hari hidup terasa melaju terlalu kencang, ingatlah bahwa engkau selalu bisa berhenti sejenak—menghela napas, lalu memilih kembali arahmu.

Ayah mungkin tak bisa mengulang masa kecilnya, tetapi ayah ingin memastikan satu hal: kenanganmu kelak akan tumbuh dengan cukup cahaya, cukup keberanian, dan cukup cinta untuk dikenang tanpa penyesalan.

 

 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »