Kutuliskan di surat lalu bahwa hidup pada dasarnya adalah rangkaian waktu. Cara kita merespons waktu itulah yang menentukan masa depan seperti apa yang sedang kita bentuk. Ketika waktu kita anggap sebagai sumber daya yang gratis dan tak terbatas, kita cenderung tidak mengelolanya dengan sungguh-sungguh. Waktu dibiarkan berlalu, tanpa makna dan tanpa dampak.
Karena itu, banyak
orang menekankan pentingnya rasa urgensi. Urgensi berfungsi sebagai pendorong yang mengubah niat menjadi gerak. Dari ingin menjadi tindakan. Rasa ini membantu kita berpihak pada masa depan
yang ingin kita hadirkan. Tanpa urgensi, niat sering kali berhenti sebagai
wacana—baik di kepala maupun di catatan.
Tanpa urgensi, kita
cenderung diam. Fenomena doom scrolling di media sosial adalah contohnya yang paling nyata. Feed video singkat yang instan membuat kita terus menggulir tanpa
sadar. Eh ternyata waktu kita terkuras habis. Kebiasaan ini bahkan
disebut-sebut berkontribusi pada penurunan kualitas fokus dan daya pikir. Para
psikolog menyebutnya sebagai brain rot.
Tahu-tahu hari
sudah larut, mata mengantuk, dan tubuh menagih istirahat. Esok paginya, pola
yang sama terulang: bangun, lalu kembali menggulir layar. Tujuan yang pernah
kita tetapkan perlahan mengabur, terkalahkan oleh kenyamanan sesaat.
Di sinilah rasa
urgensi perlu ditanamkan secara sadar. Jika kita menggunakan kerangka Atomic Habits, perubahan kebiasaan selalu
dimulai dari cue atau isyarat. Isyarat
ini memicu keinginan (motivasi), yang kemudian mendorong respons (tindakan).
Tindakan menghasilkan reward, dan dari
situlah kebiasaan terbentuk.
Dengan kata lain: cue menimbulkan keinginan, keinginan memicu
respons, dan respons menghadirkan kepuasan. Lingkaran ini perlu terus kita
aktifkan agar kebiasaan baik menjadi otomatis seiring waktu.
Contohnya
sederhana. Ketika adzan terdengar (cue),
muncul keinginan untuk sholat (motivasi). Keinginan itu mendorong tindakan
sholat (respons), dan setelahnya hadir ketenangan batin sebagai reward.
Hal yang sama
berlaku pada kebiasaan menunda. Saat sebuah isyarat muncul, kita langsung ingin
menunda (motivasi), lalu benar-benar menunda (respons). Anehnya, menunda pun
memberi reward—rasa lega sesaat. Dari
sinilah kebiasaan menunda menguat.
Keduanya sama-sama
kebiasaan. Perbedaannya terletak pada fondasinya: yang satu dilandasi rasa
urgensi, yang lain dilandasi kemalasan yang tersamar sebagai kenyamanan.
Pada akhirnya,
masa depan tidak ditentukan oleh besar-kecilnya mimpi, melainkan oleh respons
kecil yang kita pilih setiap kali waktu mengetuk. Urgensi bukan soal
terburu-buru, melainkan kesadaran bahwa waktu selalu bergerak—dan kita perlu
bergerak bersamanya, dengan sengaja dan bertanggung jawab.


