Dear K, urgensi itu kunci

 Kutuliskan di surat lalu bahwa hidup pada dasarnya adalah rangkaian waktu. Cara kita merespons waktu itulah yang menentukan masa depan seperti apa yang sedang kita bentuk. Ketika waktu kita anggap sebagai sumber daya yang gratis dan tak terbatas, kita cenderung tidak mengelolanya dengan sungguh-sungguh. Waktu dibiarkan berlalu, tanpa makna dan tanpa dampak.

Karena itu, banyak orang menekankan pentingnya rasa urgensi. Urgensi berfungsi sebagai pendorong yang mengubah niat menjadi gerak. Dari ingin menjadi tindakan. Rasa ini membantu kita berpihak pada masa depan yang ingin kita hadirkan. Tanpa urgensi, niat sering kali berhenti sebagai wacana—baik di kepala maupun di catatan.

Tanpa urgensi, kita cenderung diam. Fenomena doom scrolling di media sosial adalah contohnya yang paling nyata. Feed video singkat yang instan membuat kita terus menggulir tanpa sadar. Eh ternyata waktu kita terkuras habis. Kebiasaan ini bahkan disebut-sebut berkontribusi pada penurunan kualitas fokus dan daya pikir. Para psikolog menyebutnya sebagai brain rot.

Tahu-tahu hari sudah larut, mata mengantuk, dan tubuh menagih istirahat. Esok paginya, pola yang sama terulang: bangun, lalu kembali menggulir layar. Tujuan yang pernah kita tetapkan perlahan mengabur, terkalahkan oleh kenyamanan sesaat.

https://balajis.com/p/proof-of-workout-habit

Di sinilah rasa urgensi perlu ditanamkan secara sadar. Jika kita menggunakan kerangka Atomic Habits, perubahan kebiasaan selalu dimulai dari cue atau isyarat. Isyarat ini memicu keinginan (motivasi), yang kemudian mendorong respons (tindakan). Tindakan menghasilkan reward, dan dari situlah kebiasaan terbentuk.

Dengan kata lain: cue menimbulkan keinginan, keinginan memicu respons, dan respons menghadirkan kepuasan. Lingkaran ini perlu terus kita aktifkan agar kebiasaan baik menjadi otomatis seiring waktu.

Contohnya sederhana. Ketika adzan terdengar (cue), muncul keinginan untuk sholat (motivasi). Keinginan itu mendorong tindakan sholat (respons), dan setelahnya hadir ketenangan batin sebagai reward.

Hal yang sama berlaku pada kebiasaan menunda. Saat sebuah isyarat muncul, kita langsung ingin menunda (motivasi), lalu benar-benar menunda (respons). Anehnya, menunda pun memberi reward—rasa lega sesaat. Dari sinilah kebiasaan menunda menguat.

Keduanya sama-sama kebiasaan. Perbedaannya terletak pada fondasinya: yang satu dilandasi rasa urgensi, yang lain dilandasi kemalasan yang tersamar sebagai kenyamanan.

Pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan oleh besar-kecilnya mimpi, melainkan oleh respons kecil yang kita pilih setiap kali waktu mengetuk. Urgensi bukan soal terburu-buru, melainkan kesadaran bahwa waktu selalu bergerak—dan kita perlu bergerak bersamanya, dengan sengaja dan bertanggung jawab.

 

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »