Showing posts with label Pelajaranku. Show all posts
Showing posts with label Pelajaranku. Show all posts

Menyelamatkan Muka

Tadi pagi, suasana kampung kami terasa begitu riuh. 

Setelah lelah membantu kerja bakti, kami langsung merapatkan barisan bersama LPMK, KDKMP, teman-teman UMKM, perwakilan petani, dan tokoh masyarakat lainnya.

Fokus kami satu, sebuah isu yang tampak sederhana tapi sebenarnya cukup sensitif: bagaimana menata parkir dan lonjakan pengunjung agar kenyamanan warga tak terusik.

Bisa ditebak, awalnya suasana cukup tegang. Semua orang membawa ego, kepentingan, dan kacamatanya sendiri. 

Namun, pelan-pelan keajaiban musyawarah itu terjadi. Tensi mereda, percakapan mulai menemukan ritmenya. Orang-orang jadi lebih banyak menyimak daripada memotong pembicaraan, lebih fokus menambal masalah daripada sekadar mempertahankan ego sektoral.

Duduk di sana, saya merenungkan satu hal penting tentang manajemen konflik.

Ternyata, masalah tak selalu selesai oleh argumen siapa yang paling brilian. 

Banyak benang kusut yang terurai hanya karena satu hal: setiap orang merasa diwongke (dihargai).

Hal paling mematikan dalam ruang diskusi bukanlah perbedaan pendapat, melainkan ketika seseorang merasa diserang dan dipermalukan. Ketika harga diri terluka, pintu logika tertutup rapat.

Di sinilah letak seni sejati dalam bermusyawarah: menjaga agar tak ada satu pun yang kehilangan muka.

Karena saat seseorang sudah kehilangan muka, sering kali akal sehatnya ikut menguap. Ruang diskusi berubah jadi arena pertarungan untuk sekadar menang, bukan lagi wadah untuk mencari solusi bersama.



Sabar Menanti Durian Runtuh

Seorang teman bercerita bahwa ia baru saja mendapat durian runtuh.

Ia menerima "transfer" dalam jumlah besar. Utang-utangnya pun


seakan terlunasi.

Bukan hanya itu. Ia juga memperoleh satu "fasilitas" yang luar biasa: hampir setiap doa dan kebutuhannya terasa lebih cepat dikabulkan.

"Wah, luar biasa sekali durian runtuhmu," kata saya.

"Lalu, bagaimana caranya bisa mendapatkan semua itu?"

Ia tersenyum.

"Cukup bersabar."

Maksudnya?

Ternyata, beberapa waktu lalu ia diperlakukan zalim oleh salah seorang rekan kerjanya. Jadwal kerjanya dibuat sangat tidak manusiawi. Sikap yang diterimanya pun dingin dan menyakitkan.

"Lho, memangnya tidak kamu lawan?" tanya saya.

"Bisa saja. Tapi guru-guru saya mengajarkan bahwa ketika seseorang dizalimi lalu memilih bersabar karena Allah, ada tiga hadiah besar yang menantinya."

Pertama, ia menerima "transfer pahala" dari orang yang menzaliminya.

Kedua, dosa-dosanya ikut "ditransfer" kepada orang yang berbuat zalim itu.

Dan ketiga, doa-doanya lebih dekat kepada pengabulan Allah. Bukankah doa orang yang dizalimi termasuk doa yang tidak memiliki penghalang di hadapan-Nya?

"Kalau begitu," lanjutnya, "justru aku tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan. Karena setiap kali aku mampu menahan diri, sebenarnya aku sedang menerima keuntungan."

Saya terdiam.

Hikmahnya?

Saja jadi belajar: orang yang berbuat zalim sering kali mengira dirinya sedang menang. Padahal, tanpa sadar ia sedang membayar mahal sekali: ia berikan pahalanya kepada orang lain, sekaligus memikul dosa yang bukan miliknya.

Maka, ketika dizalimi, jangan tergesa-gesa membalas dengan cara yang sama. Bersabar bukan berarti lemah. Bersabar adalah kekuatan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika hati sedang terluka.

Bila pada akhirnya kita harus membela diri atau menuntut keadilan, lakukanlah dengan cara yang baik, adil, dan tidak melampaui batas. Sebab tujuan seorang mukmin bukan sekadar mengalahkan manusia, tetapi memenangkan ridha Allah.

Mungkin, di situlah letak durian runtuh yang ia maksud.

Cara Sederhana Memahami Marketing

Madhav Mistry menulis di LinkedIn tentang marketing berikut. Tulisan aslinya berikut ini:

Marketing is not about social media

It’s about strategy, tools, and trust.


So simple even a 12-year-old could teach it to their friends.

If you hang a big sign that says:
“Best Coffee in Town – Come In!”
→ That’s Advertising.

If you offer “Buy 1, Get 1 Free” for today only...
→ That’s Promotion.

If someone smells the coffee, walks in, and buys a latte...
→ That’s Sales.

If someone leaves a bad review and you respond kindly with a free drink...
→ That’s Public Relations.

If a viral TikTok shows your latte art or cozy café vibes...
→ That’s Publicity.

If you post a Reel of your barista making heart-shaped foam...
→ That’s Social Media Marketing.

If you write a blog post like “5 Reasons Coffee Makes You Happy”...
→ That’s Content Marketing.

If a foodie influencer shares your drink with their followers...
→ That’s Influencer Marketing.

If someone Googles “coffee near me” and your shop ranks first...
→ That’s SEO.

If you send a weekly email with new drinks and cozy deals...
→ That’s Email Marketing.

If you host a live workshop where customers learn to brew...
→ That’s Experiential Marketing.

Bila diterjemahkan secara bebas:

Pemasaran itu bukan soal media sosial.
Tapi soal strategi, alat, dan kepercayaan.

Begitu sederhana sampai anak 12 tahun pun bisa menjelaskannya kepada teman.

Kalau kamu pasang papan besar bertuliskan:
“Kopi Terbaik di Kota – Masuk Yuk!”
→ Itu namanya Iklan.

Kalau kamu kasih promo “Beli 1 Gratis 1” cuma hari ini...
→ Itu Promosi.

Kalau orang mencium semerbak aroma kopi, berbelok, masuk, lalu beli latte...
→ Itu Penjualan.

Kalau ada orang kasih ulasan jelek dan kamu balas dengan ramah plus kasih minuman gratis...
→ Itu Hubungan Masyarakat (Humas).

Kalau ada video TikTok viral yang nunjukin latte art atau suasana nyaman di kafe kamu...
→ Itu Publisitas.

Kalau kamu upload video barista bikin foam bentuk hati...
→ Itu Pemasaran di Media Sosial.

Kalau kamu nulis blog berjudul “5 Alasan Kopi Bikin Bahagia”...
→ Itu Pemasaran Konten.

Kalau food vlogger terkenal share minuman kamu ke followers-nya...
→ Itu Influencer Marketing.

Kalau orang cari “kopi dekat sini” di Google dan toko kamu muncul pertama...
→ Itu SEO (Optimisasi Mesin Pencari).

Kalau kamu kirim email mingguan berisi menu baru dan promo menarik...
→ Itu Email Marketing.

Kalau kamu adain workshop langsung untuk ngajarin cara bikin kopi...
→ Itu Pemasaran Berbasis Pengalaman.

Saat berbicara marketing, sering-sering kita dianggap berbicara tentang pemasaran di media sosial saja. Padahal cakupannya luas...

Mengapa Harus Mulai dari "Mengapa"?

Dalam sesi pertama program Praktisi Mengajar '23 ini, semua sesi saya awali dengan kata tanya "mengapa." Upaya ini terinspirasi Simon Sinek dalam TedX Talk dan buku lanjutan tulisannya yang berjudul Start with Why.

Mengapa Harus Mulai dari "Mengapa"?

Menurut Simon Sinek, pemimpin dan organisasi yang paling sukses memulai dari "mengapa" yang jelas. Gamblang. Mereka memiliki suatu tujuan atau keyakinan yang menginspirasi diri mereka dan para pengikutnya. 

Sederhananya, mereka memulainya dari "mengapa" dan kemudian mencari tahu "bagaimana" dan "apa". Jadi, tujuan ditetapkan terlebih dahulu, lalu kemampuan teknis dan produk mengikuti.

https://tyche.consulting/wp-content/uploads/2015/04/Start_with_Why.jpg

Sinek mencontohkan Apple untuk menggambarkan apa yang ia maksud. Apple tak hanya menjual komputer, tetapi juga menjual produk yang dirancang untuk membuat hidup orang menjadi lebih baik. 

"Mengapa" inilah yang menginspirasi karyawan Apple untuk bekerja keras dan menciptakan produk yang inovatif. Keyakinan ini menarik para pelanggan untuk membeli produk Apple.

Sinek juga mengambil contoh Martin Luther King Jr. King tidak hanya memperjuangkan hak-hak sipil. Ia juga memperjuangkan dunia yang setiap orangnya diperlakukan secara bermartabat dan terhormat. "Mengapa" inilah yang menginspirasi King untuk memimpin gerakan hak-hak sipil. "Mengapa" ini pulalah yang menginspirasi orang-orang untuk bergabung dan ikut berjuang bersamanya.

Sinek berpendapat bahwa dengan memulai dari "mengapa", kita dapat menciptakan diri, organisasi, dan gerakan yang lebih menginspirasi, lebih sukses, dan lebih tahan lama.

Faktanya

Sinek lalu menjelaskan bahwa kebanyakan orang dan organisasi berpikir, bertindak, dan berkomunikasi dari luar ke dalam. Outside in. 

Contohnya, mereka memulai dari apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka melakukannya, dan kemudian mengapa mereka melakukannya.

Padahal, bila ingin terus mendapatkan motivasi dan komitmen berlipat saat kesulitan menghadang, kita perlu "mengapa" yang kuat. Dengan begitu, kita tak mudah dihempas kesulitan yang mungkin mendera.

Demikian juga saat belajar penerjemahan. Penerjemahan adalah skill yang kompleks. Keterampilan pasif mahasiswa harus istimewa dalam bahasa sumber (source language) dan harus luar biasa dalam bahasa sasaran (target language). Demikian pula kemampuan untuk menghubungkan keduanya. Butuh berjam-jam latihan tanpa lelah. Untuk itu, diperlukan motivasi dan komitmen yang kuat.

Itulah mengapa kelas praktisi mengajar mulai dari "mengapa"?

Distorsi dan Korupsi Buku Terjemahan

Dulu, saya pernah aktif menulis di berbagai koran yang berkenan menerbitkan tulisan sederhana. Salah satu tulisan pertama saya yang berhasil diterbitkan adalah tulisan di bawah.

Tulisan ini satu dari sekian banyak tulisan yang saya kirimkan ke Jawa Pos edisi Minggu pagi. Dan uniknya, tulisan ini terbit pada hari pertunangan saya.

Distorsi dan Korupsi Buku Terjemahan

Geliat terjemahan buku-buku asing ke Bahasa Indonesia semakin menggelora, semakin menunjukkan nafas kehidupan dalam dunia perbukuan Indonesia. Kran informasi yang begitu terbuka membawa kemungkinan pertukaran informasi, pengetahuan, dan budaya yang sangat luas antar semua negara. Dan terjemahan ternyata berfungsi sebagai jembatan yang nir-batas.

Dulu saya sempat bertanya pada diri sendiri dan termenung memikirkan pesona memukau di balik proses terjemahan. Apa sebenarnya yang membuat pemikir sekaliber Marthin Luther menjebloskan dirinya ke dalam rimba terjemahan? Apa juga yang menyebabkan Goenawan Muhammad menerjemahkan puisi-puisi asing ke dalam bahasa Indonesia? Apa sebenarnya yang membuat kisah Mahabarata begitu membumi, sehingga orang Jawa menganggap Arjuna Wiwaha sebagai orang Jawa?

Saya kemudian tersadar bahwa ternyata penerjemahan memungkinkan dinamisasi kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan, wawasan dan budaya, karena terjemahan memungkinkan mereka yang tidak bisa bahasa asing mengakses ilmu pengetahuan. Terjemahan pulalah yang memungkinkan kisah orang lain menjadi kisah kita sendiri, kita rasakan karakternya dan memilikinya secara keseluruhan. Terjemahan pulalah yang membawa zaman keemasan bagi Islam, sehingga orang Islam dapat mengembangkan peradaban yang gilang-gemilang beberapa abad yang lalu. Terjemahan pula yang menyumbangkan banyak perbendaharaan kata baru ke repertoire bahasa Indonesia.

Di tengah-tengah keterperangahan itu, saya tersentak saat membaca beberapa buku terjemahan, terutama buku ilmiah. Terdapat banyak buku terjemahan yang saat dibaca terkesan sukar baik bahasa maupun isinya. Bukan hanya segi bahasa yang supertinggi sehingga pembaca kesulitan memahami dan tidak dapat enjoy membaca, tetapi juga segi isi yang sudah banyak terdistorsi. Ternyata korupsi juga terjadi di dunia penerjemahan.

Proses pemahaman dan keinginan untuk menikmati buku akhirnya digagalkan (gagal), karena jangankan menikmati buku terjemahan, para pembaca kadang bingung menangkap isi dan makna yang ingin disampaikan penerjemah. Masalah ini mencapai klimaksnya saat pembaca sudah tidak lagi percaya pada buku terjemahan tertentu, karena rendahnya tingkat keterbacaan (readibility) dan keterpahaman (understandibility) karya bersangkutan. Tentu kita tidak ingin para pembaca telantar gara-gara membaca buku terjemahan yang tidak jelas jeluntrung-nya.

Para praktisi terjemahan jelas memiliki gaya dan pendekatan yang tidak sama satu dengan yang lain. Perbedaan gaya menerjemahkan merupakan sebuah keniscayaan, agar terjadi proses dinamisasi dan perkembangan karya terjemahan itu sendiri. Kendati demikian, perlu kiranya diusahakan standarisasi mutu agar pembaca tidak dirugikan saat membeli karya terjemahan. Kriteria standar ini dikemukakan oleh Larson (1984). Kriteria tersebut antara lain, ketepatan (accuracy), kejelasan (clarity), dan kewajaran (naturalness). Ketiganya sering disingkat dengan ACN.

Pertama, ketepatan mengacu pada tepat atau melencengnya makna teks asli saat diterjemahkan ke bahasa sumber. Varian pertama ini merupakan syarat utama karya terjemahan yang terterima di masyarakat. Bila karya terjemahan sudah tidak dapat membawa makna orisinal sebuah karya, maka karya terjemahan yang demikian akan mendistorsi makna yang ingin disampaikan oleh penulis asli. Oleh karena itulah, pesan yang ingin disampaikan terhambat karena hasil terjemahan kurang bisa mencerminkan isi yang sebenarnya.

Kedua, kejelasan merujuk pada mudah atau sukarnya pembaca teks terjemahan dalam memahami karya tersebut. Kriteria ini merupakan penentu bagaimana karya terjemahan dapat terterima dalam reading society, karena kita cukup jarang mendapati buku terjemahan yang mudah dipahami tetapi isinya tidak terdistorsi. Proses pemindahan makna dari bahasa sumber (Bsu) ke bahasa sasaran (Bsa) tentunya bukan merupakan kerja membalikkan telapak tangan, tetapi kerja semacam itu tentu harus menghasilkan karya yang terterima dan mudah dipahami oleh pembaca.

Ketiga, kewajaran mengacu kelaziman sruktur dan diksi yang dipilih dalam keseluruhan karya terjemahan. Maksudnya, struktur kalimat yang digunakan merupakan ragam yang lazim dipakai dalam bahasa sasaran. Tidak jarang kita temui sebuah karya terjemahan yang terlalu setia pada bahasa sumber. Selain itu, struktur kalimatnya seringkali merupakan ragam yang tidak lazim dalam bahasa sasaran.

Terjemahan menghadirkan kemungkinan yang tak terhingga bagi kemajuan pembangunan sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang. Meningkatkan jumlah karya terjemahan merupakan kerja tak berkesudahan yang harus terus dilakukan, sehingga SDM Indonesia terus dapat dipacu.

Standar buku terjemahan tentunya harus terus dipantau terutama oleh para penerbit dan balai bahasa, sehingga proses pertukaran informasi dan ilmu pengetahuan dapat berjalan dengan lancar tanpa distorsi. Bila hal ini terus dipertahankan, saya yakin karya terjemahan akan mengobati malnutrisi ilmu pengetahuan yang selama ini menggejala. Pertumbuhan karya terjemahan akan memberikan angin segar bagi pemasyarakatan budaya unggul sebagaimana yang dicita-citakan bersama. []



 Oleh: Anton Haryadi,  penerjemah lepas FKIP Unisma Malang.

Manusia Bertelur Emas

Pada suatu pelatihan di sebuah internal perusahaan, seorang narasumber berbicara tentang make your employees happy and they will make your clients happy. Artinya, bahagiakan para karyawanmu agar mereka membahagiakan para klien. Intinya, kebahagiaan karyawan adalah kunci untuk menjaga kelangsungan bisnis.
Dalam kesempatan lain, Vala Afshaar menulis "start from employee experience before customer experience". Artinya, mirip-mirip dengan istilah di atas. Kebahagiaan karyawan dan orang yang bekerja dengan kita harus didahulukan.
Jadi, menurut si pembicara tersebut, salah satu tugas utama manajemen adalah memastikan para karyawannya bahagia. Dengan begitu, para karyawannya akan melayani dan menunaikan tugas dengan sangat senang.
Cerita ini mengingatkan saya pada cerita tentang kisah telur emas, yang konon berasal dari zaman Yunani.

Kisah Telur Emas

Pada suatu masa, hiduplah sepasang suami istri yang miskin. Meskipun begitu, mereka berpikir untuk mencari usaha. Mereka pun membeli seekor ayam betina. Karena ayam betina itu salah satu harta paling berharga, mereka merawatnya secara sangat baik. 
Suatu ketika, pasutri tersebut ingin membelikan pakan untuk si ayam betina. Sayangnya, tak ada sepeser uang pun untuk membeli pakan. Mereka sedih, tetapi apa yang harus dilakukan.
“Aku akan coba bertelur agar mereka bisa membeli pakan” pikir si ayam betina setelah sehari sebelumnya kawin dengan salah satu ayam jantan. 
Hari itu, si ayam betina memutuskan bertelur. Ternyata, telur bukan sembarang telur, tetapi telur emas. Pada pagi hari saat memeriksa kadang, mereka kaget bukan kepalang. Setelah berterima kasih pada si ayam, keduanya berangkat untuk menjual telur emas tersebut.
Mereka mendapatkan banyak uang dari telur emas tersebut. Mereka menghabiskan uang itu untuk kebutuhan hidup mereka dan pakan.
Melihat majikannya senang, si ayam betina ikutan senang. Hampir setiap hari ia bertelur.
Pasutri itu pun menjadi kaya raya. Mereka tak perlu susah-susah mencari uang. Stok makanan mereka melimpah dan lezat.
“Semua kekayaan ini berkat telur emas ayam kita. Dia wajib bertelur tiap pagi. Ya, agar kita tak melarat lagi,” ucap sang istri.
Kian hari, mereka kian boros. Mereka menghambur-hamburkan uang yang diperoleh dari telur emas. Namun, mereka lupa memperhatikan ayam betina mereka. Ayam itu jarang diberi pakan.
“Kalian tak tahu diuntung. Aku bertelur emas setiap hari. Namun, kalian hamburkan. Kalian juga lupa padaku” dengus si ayam betina yang jengkel. “Besok kuputuskan, tak mau bertelur lagi” sambungnya.
Keesokan harinya, si ayam betina benar-benar tak bertelur. Begitu pun setelahnya. Pasutri itu cemas. Uang mereka juga kian menipis. Yupz, lebih besar pasak daripada tiang.
Pasutri itu pun kembali miskin. Mereka pun marah dan kesal.
"Tugasmu itu bertelur setiap hari agar kami tak miskin lagi!” dengus sang suami.
“Dasar ayam bodoh,” umpat sang istri dengan nada tinggi.
“Kita potong saja ayam itu. Pasti banyak telur emasnya di dalamnya” balas suaminya.
Mata sang istri berbinar setelah bersepakat untuk menyembelih ayam tersebut. Ternyata tak ada telur emas di dalamnya. Mereka tentu saja sangat kecewa. Setelah si ayam mati, mereka tak bisa berharap lagi. Itu semua karena ketamakan dan lupa membalas jasa.
Photo by Bofu Shaw on Unsplash
Hikmah
Kisah ini sering sekali diceritakan setiap kali ada sesi tentang manajemen sumber daya manusia. SDM bervariasi. Ada SDM yang kinerjanya sangat bagus, tetapi bekerja di bawah radar. Ada SDM yang kinerjanya biasa saja, tetapi sangat lihai menunjukkan seakan-akan hasil kerjanya jempolan. Ada SDM yang kinerjanya di bawah standar tetapi pintar mengambil hati.
Tugas manajemen adalah mengidentifikasi orang-orang tersebut. Tujuannya, SDM bisa memberikan pakan dan gizi yang seimbang kepada SDM bertelur emas. 

Sebagian Teman kan Musibah?

Hujan rintik mengawali pagi yang temaram oleh matahari yang tertutup awan gelap. Fajar bersembunyi di balik gunung Semeru di sisi timur. Di sudut selatan rumah, tak terlihat rombongan burung pipit yang biasanya terbang rendah. Kupu-kupu dengan sayap-sayap menawan yang tak terlihat sejak kemarin tak juga menampakkan batang hidungnya. Rasa-rasanya mendung Malang membuat orang-orang, bahkan hewan-hewan, tak mau beranjak dari peraduannya.

Tidak semua kehadiran kawan membuat kita bersyukur, kan? Beberapa menjengkelkan. Sebagian kayak angin lalu saja. Tak banyak dihiraukan.   

Itu komentar salah seorang teman setelah membaca Hadirmu Hadiah Terbaik Bagiku, yang membuatku kaget pagi itu. Pembahasannya sudah berat sekali. Ia lalu bercerita pengalamannya. Karena suatu tugas, ia mengajari orang lain, sebutlah namanya Kipli, prosedur menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Anggaplah tugas perencanaan. Ia sudah lama mengajarinya dengan segenap tenaga dan perhatian. Ia betul-betul maksimal hingga rasanya stok kesabarannya mulai menipis dan hampir saja habis.

Mungkin kehadirannya juga hadiah. Hadiah dari Tuhan agar kita belajar mengasah kemampuan sabar, ujarku sambil tertawa. Jadi, biar item nilai kesabaran kita di rapor tidak kosong.

Bisa jadi, balasnya sambil tertawa. Atau kita jadi bersyukur, kita tidak sebebal itu, lanjutnya sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Kadang kehadiran teman itu membuat kita bersyukur... dan kadang bersabar. Cuman kita saja yang tidak sabar, ucap seorang ustadz pada suatu ketika sambil menyunggingkan senyum.

Dan kemudian pada khutbah Jumat siang kali ini, sang khotib di Masjid Muhajirin Perumahan Joyogrand juga menyampaikan pesan serupa. Kata beliau, kita dari kecil sudah diajari dan belajar tentang dua hal: syukur dan sabar. 

Saat SMP, pelajarannya juga sama: syukur dan sabar. Saat sudah punya anak pun, pelajarannya kembali dua hal tadi itu: syukur dan sabar. Cuman, lanjut sang Ustadz, tingkatan syukur dan sabar kita jadi berbeda.

Photo by Nathan Dumlao on Unsplash

Pada awalnya, kukira syukur dan sabar itu juga sikap pasif. Setelah kita diberi sesuatu, kita lalu memilih untuk bersyukur atau bersabar, sesuai sikap default kita. Model mental kita. Setelah hidup sekian tahun, rasanya syukur dan sabar ini rasanya juga sikap aktif.

Misalnya, kita bisa menjadi teman yang selalu membantu dan hadir saat teman kita terpuruk. Dan kita hadir dan ikut bahagia saat teman kita beruntung. Artinya, kita menjadi sarana bagi teman kita tersebut untuk bersyukur dengan kehadiran kita. Di sisi ini, kita jadi SYUKUR. Atau kita bisa jadi SABAR. Misalnya, saat berjanji untuk datang, kita ingkar. Atau kita bercerita buruk-buruknya orang tersebut kepada orang lain. Atau menyumpahi teman kita saat terpuruk.

Nah, saat teman saya patah hati dulu, saya bilang "SYUKURIN" sambil tertawa terbahak-bahak. Kalau begitu, saya itu jadi SYUKUR atau SABAR? #entahlah

Hadirmu Hadiah Terbaik Bagiku

Setelah meneruskan tulisan tentang Biarkan Matahari Tembus Lubang Hatimu, Faiz menulis di WhatsApp:

Jamanku patah hati, Abidin mengajakku berkeliling naik angkot biru. Entah kemana. Aku tak ada semangat. Dia tetap memaksaku.

Saat kami kuliah, memang Abidin paling dewasa. Paling bisa membaca dan ngemong teman-temannya. Termasuk saat Faiz patah hati. Momen patah hati tak pernah mudah bagi siapa pun. Saat itu, kita cenderung terdorong untuk mengurung diri. Mengasihani diri sendiri. 

Dan Abidin bisa membaca itu semua, dan mengajak Faiz berkeliling. Itu memang takkan menyembuhkan hati yang kadung patah dan terserak. Tak bisa mengembalikan jiwa yang tersesat. Tak bisa membangun rasa percaya yang kadung ambruk. Namun, kita jadi punya panduan. Kita seakan melihat cahaya temaram, yang akan memandu kita kembali. Kita jadi tidak merasa sendiri. Serasa ada harapan yang muncul dan menyeruak. 

Bila dirangkum, itulah artinya teman. Memahami dirimu tanpa kau perlu banyak bercerita. Hadir dengan satu alasan. Bahwa dia itu teman kita. Dan mengulurkan tangan saat kau butuh bantuan. Meminjamkan telinga saat kau butuh orang yang bisa mendengarkan. 

Ingatan itu juga membawaku pada suatu momen pertunangan dulu. Tanpa kutahu sebelumnya, Abidin dan Faiz datang bersepeda motor dari Malang. Aku yang sedang sakit pun dipijat oleh Faiz lalu dibawa ke bidan desa oleh Abidin. Sejenak kemudian, Hadaruddin jauh-jauh dari Malang dan sampai ke rumah dengan memesan ojek dari Jabung. Kehadiran selalu berkesan. Kau boleh tidak membawa apa-apa. Selama engkau hadir dengan segenap tulus jiwa, engkau sudah menjadi hadiah terbaik. 

Bahwa betul sakit tidak akan sembuh dengan kita hadir. Bahwa hati yang patah takkan lantas kembali utuh. Namun, kehadiran akan menjadi nyala. Kehadiran akan selalu menjadi hadiah terindah bagi para penerimanya.

Photo by Kira auf der Heide on Unsplash

Namun, kita tidak bisa mengendalikan atau menentukan atau meminta agar teman-teman kita hadir pada momen-momen tergelap kita. Pada saat kita sebatang kara. Mereka punya kehidupan mereka sendiri. Punya ritmenya sendiri. Punya jalur yang harus mereka tempuh sendiri. Kadang seberapa pun mereka ingin hadir, situasi dan waktu menjadi penghalang.

Di dalam kendali kita adalah bagaimana kita menjadi sahabat bagi diri sendiri. Menjadi teman dan sahabat terbaik bagi orang-orang sekitar. Hadir dalam momen bahagia. Hadir dalam momen duka. Dan menjadikan kehadiran kita hadiah, yang orang lain syukuri...     

 

Sulit Mana: Meminta Maaf atau Memaafkan?

Dari perspektif orang yang disakiti: Meminta maaf itu lebih gampang daripada memaafkan. Meminta maaf hanya urusan menyusun kata lalu menyampaikannya. Setelah itu, bola ada di tangan orang yang kita mintai permaafan. Terserah dia mau memaafkan atau tidak. Yang penting, urusan meminta maaf dengan tulus sudah tuntas. Urusan selanjutnya adalah urusan dia dan urusan Tuhan. Bila orang yang kita mintai maaf ternyata tidak memaafkan, itu urusan dia. Bukan urusan kita. Titik.

Tak ada beban emosional. Meminta maaf itu sederhana dan ringkas. Jadi, tugas ini memang lebih mudah.

Kadang, kita pernah disakiti sedemikian parah. Kita merasakan malam-malam yang panjang. Hati kita terusik. Pikiran kita tersita. Perhatian kita tercerai berai. Dan kita menata hati perlahan. Sekeping demi sekeping agar hati kita kembali utuh. Agar kita lebih kuat menjalani hari ini daripada hari saat kita disakiti.

Sementara di sisi lain, orang yang berbuat salah dan jahat kepada kita senyum-senyum saja seakan tidak ada masalah. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah. Setelah kita berjuang berat, tiba-tiba orang yang menyakiti kita berucap.

 “Maaf ya sudah pernah menyakiti”

So, meminta maaf itu lebih mudah. Namun, ini dari perspektif orang yang tersakiti lalu berjuang lama sekali untuk bisa memaafkan. Meminta maaf lebih mudah. Memaafkan lebih sulit.

Perspektif orang yang bersalah dan meminta maaf sedikit berbeda: meminta maaf juga tak kalah sulit. Butuh upaya dan pengorbanan luar biasa, terutama bila kita tidak sadar kesalahan kita apa. Murni karena kita tidak tahu atau tidak diberi tahu. Kita pun melenggang kangkung seakan tak pernah terjadi apa-apa. Masalahnya, kita memang tidak tahu.

Sampai pada satu titik dan satu momen saat orang yang kita sakiti tidak lagi mau dan berkenan menyapa kita. Memperlakukan kita secara berbeda. Lalu kita menghitung-hitung kesalahan diri. Merenung dan merefleksikan apakah ada sesuatu yang salah. Kadang memang kita MENYADARI kesalahan saat itu, lalu meminta maaf. Ada kalanya, kita TIDAK tahu kesalahan kita apa, tetapi kita tetap mau meminta maaf.

Kita telan ego dalam-dalam. Kita akui kesalahan dan kekhilafan. Kita turunkan harga diri sedemikian rupa sampai kita benar-benar meminta maaf dari dalam lubuk hati.

Saat meminta maaf, perlu disadari bahwa orang butuh proses dan waktu untuk memaafkan kita. Tidak gampang. Ada proses menyakitkan yang harus dijalani. Ada malam-malam insomnia yang harus dihadapi. Ada rasa percaya yang terkoyak dan mungkin takkan pernah sekuat dulu lagi.

Saat ada yang orang yang merasa bersalah dan meminta maaf kepada kita, perlu disadari pula bahwa ia juga manusia, yang perlu mengumpulkan keberanian dan menekan ego dalam-dalam sebelum meminta maaf. Ia mungkin juga sudah berjuang sekeras-kerasnya. Sekuat-kuatnya untuk meminta maaf kepada kita.

Memaafkan itu sulit, demikian juga meminta maaf. Dan ini hanya giliran saja. Bisa jadi, hari ini kita yang tersakiti. Besoknya, giliran kita yang menyakiti. Bisa jadi besok kita yang meminta maaf, lusanya kita yang perlu memaafkan.


Semoga kita selalu mampu meminta maaf, dan selalu ikhlas memaafkan. Mohon maaf lahir batin, 14 Mei 2021

Bedah Buku Insight from EFL Classroom: dari iPhone hingga Blackpink, BTS, dan Ben Anderson

Sabtu sore kemarin cukup meriah. Tepat pukul 15-15, tanggal 10-10-20-20, acara bedah buku berjudul Insight from EFL Classroom dimulai. Acara menarik berpadu dengan kombinasi angka yang cantik. Asyik, bukan?

Hadir sebagai moderator, Mbak Rias, alumni S2 Prodi Bahasa Inggris. Pembedah utamanya adalah Bapak Edi Dwi Riyanto, Ph.D, dosen FIB Universitas Airlangga Surabaya. Sebagai tuan rumah, Bapak Dr Estu Widodo menjadi pembicara pembuka. Beliau saat ini menjabat Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Inggris, Direktorat Pascasarjana UMM  sekaligus editor buku antologi yang akan dibedah ini.

Saya sendiri? Ya figuran lha tepatnya wkwk. Penyemarak acara.

Memang, suatu kehormatan dan kebanggaan saat diundang sebagai salah satu pembedah oleh Prodi tempat saya menimba ilmu. Namun, yang tidak banyak diketahui, keterkejutan dan kebingungan memenuhi seluruh relung otak sejak undangan itu.

Sejak lulus dari program S1 Pendidikan Bahasa Inggris Unisma, waktu saya lebih banyak habis untuk menerjemah. Namun, saat dihubungi Pak Estu, Kaprodi saat ini sekaligus dosen saya saat 4 semester menempuh proses belajar di UMM, saya hanya bisa menjawab “iya, siap”.  Saya anak desa yang sama, yang dididik dengan prinsip tawadlu dan patuh kepada guru. “Jika gurumu memintamu loncat ke sumur, loncatlah. Kebarokahan ilmu itu di situ”.

Kebingungan itu makin menjadi saat saya dikirimi draf buku. Ternyata sebagian penulisnya adalah dosen-dosen saya sendiri. Dilema berkecamuk di dada. Bagaimana saya bisa membahas tulisan guru-guru saya sendiri? Kecemasan saya bertambah manakala saya tahu bahwa pembicara satunya adalah akademisi berpengalaman yang bergelar doktor dari salah satu universitas di Australia.  Maka, kebingungan dan kecemasan sempurna mengusik malam-malam saya.

Lalu, pada suatu malam saat mata tak bisa terpejam, terlintas ajaran-ajaran para dosen. Ya, saya dididik di UMM untuk momen seperti ini. Momen ketika saya harus menghadapi ketakutan dan kecemasan. Momen ketika saya harus menjadi diri sendiri. Yup, saya harus yakin pada diri sendiri.

Saat tiba giliran saya berbicara pada Sabtu sore itu, tayangan gambar di bawah menjadi pembuka.

Sebagian terlihat terkejut, sebagaimana yang terlihat di layar Zoom. “Apa kaitannya iPhone jadul dengan buku yang akan dibedah?” Untuk mengenyahkan rasa penasaran mereka, saya bertanya. Hape apa yang saya tampilkan dan apa yang membuat orang membeli hape di atas itu?

Suasana hening. Tak ada satu pun yang menjawab. Saya pun gusar.

Baru saya sadar ternyata mereka semua “muted” alias speakernya mati. Oalah. Saya pun berpura-pura menebak pikiran mereka bahwa biasanya orang membeli iPhone karena mereknya. Karena terlihat canggih. Atau pemiliknya terlihat makmur alias kaya. Jawaban itu semua betul. Namun, jawaban yang paling tepat adalah pengalaman pengguna atau user experience (UX).

Begitu juga konsep yang diusung buku ini, simpul saya kemudian. Buku ini mencoba menyajikan reader experience (RX). Bukan hanya isi buku, tetapi keseluruhan pengalaman yang akan diperoleh pembaca.

Saya mulai dari sisi luar.

-   Sampul Elegan. Seperti buku-buku serupa yang diterbitkan oleh para penerbit dari luar negeri. Elegan. Penuh warna tetapi tidak berlebih-lebihan.

-   Font Menawan. Pilihan font-nya tidak menyakiti mata.

-   Jarak Memadai. Jarak antarkata dan antarbaris juga pas. Tidak terlalu lebar. Tidak terlalu sempit.

-   Tata Letak Rapi. Tata letak antar satu tulisan dan tulisan lain juga rapi.

-   Ketebalan Pas. Jumlah halamannya kurang sedikit dari 300 halaman. Tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis.

Bagaimana dengan isinya?

-   Topik beragam & menarik. Saya mengambil tiga contoh tulisan/artikel di bawah ini.

1.    Exploring Microsoft Word Features Relevant for English Language Teaching.  Dalam artikel ini, terdapat banyak tips teknis yang berguna sekali tidak hanya bagi guru atau dosen, tetapi juga bagi mahasiswa manakala mereka menulis tugas atau skripsi atau tesis. Ada fitur spell-checking misalnya. Atau fitur “comment” atau “track changes”. Apa gunanya? Baca sendiri hehe.

2.    Imagined and Practiced Identity of English Learners in the Indonesian Context. Dalam artikel ini, ada unsur kebaruan yang diusung. Buku ini mengambil nafas “Sociocultural Turn in SLA.” Sebagaimana disitir dalam buku tebal berjudul The Study of Second Language Acquisition karya Rod Ellis, studi tentang SLA tidak lagi melulu berkisar Cognitivism tetapi beralih ke konteks sosial budaya. Dalam artikel ini, dibahaslah kaitan antara Practiced Identity, Imagined Identity, Investment, dan Motivation. Menariknya, konsep imagined identity ini mengambil inspirasi dari karya Ben Anderson, Imagined Communities. Yang lebih menarik lagi, Ben Anderson sendiri adalah Indonesianis yang mengabdi di Cornell. Sebagai informasi, Ben Anderson ini meninggal di Batu, Malang.

3.    Shaping Early Children Science Development through Discovery Learning as Brain-based Activities. Dalam artikel yang ditulis seorang doktor pakar EYL di UMM ini, dibahas penggabungan antara pembelajaran sains dan bahasa Inggris. Artikel ini mengingatkan kita pada tren terbaru dalam pembejaran bahasa, yaitu CLIL (Content and Language Integrated Learning). Sederhananya, pembelajaran sains bisa disampaikan dengan bahasa Inggris sehingga siswa bisa belajar sains sekaligus bahasa Inggris. Menarik, bukan?

-       Dilengkapi biografi. Setiap tulisan di buku ini langsung dilengkapi biografi penulis dan latar belakang pendidikan serta minatnya dalam bidang penelitian. Ini penting untuk artikel ilmiah. Di era yang memungkinkan setiap orang bicara apa saja tanpa perlu latar belakang, buku ini menjadi semacam jaminan bahwa isi buku ini bukan hoax. Penulisnya kredibel, begitu pula tulisannya. Di era post-truth dan death of expertise, faktor ini menjadi penting agar hanya orang yang memiliki pengetahuan dan kewenangan yang membuat pernyataan-pernyataan ilmiah. Dengan cara ini, kita menghindari carut-marut dunia sosial yang dipenuhi hoax dan kabar burung yang tak terverifikasi.

Lalu Apa yang Bisa Disempurnakan ke Depan?

Menurut saya, keragaman topik yang menjadi kekuatan itu bisa juga berbalik menjadi kelemahan. Jadi, keragaman tersebut memakan “korban”. Misalnya, tips praktis, hasil penelitian, kajian pustaka, esai argumentatif, dan esai naratif berpadu di satu buku ini. Akhirnya, spirit atau ikatan yang ingin dijalin oleh buku ini jadi kurang jelas. Tata cara penulisan pun beragam, misalnya, hasil penelitian ditulis dalam bentuk past tense dan sebagian present tense. Selain itu, beberapa artikel dilengkapi abstrak, sebagian malah tidak.

Saya pun usul. Bagaimana jika buku ini membahas suatu topik secara runtun. Sebagai benchmark, buku antologi yang disunting Anne Burns dan Jack C. Richards, yang berjudul Cambridge Guide to Second Language Teacher Education bisa dijadikan contoh. Di situ, dikupas tuntas dan runtut tentang Part I Issues and Approaches in teacher education, lalu Part II Investigating Teachers and Learners in the Classroom, Part III The Practicum, Part IV Supervision, Part V Self-Observation in Teacher Development, dan terakhir, Part VI Case Study.

Apakah usul saya diterima? Tentu saya tidak tahu. Yang saya yakin, usul apa pun akan dipertimbangkan sebagai bahan masukan dan perbaikan.

PR Bersama

Saya pun di akhir acara menyuarakan suatu concern tentang tren penelitian dan tulisan terkait pembelajaran bahasa Inggris. Menurut saya pribadi, kebanyakan penelitian dan tulisan hanya berkisar urusan epistimologi. Artinya, yang diteliti dan dikaji hanya “bagaimana bahasa Inggris bisa kita kuasai”. Yang kita ulik kemudian hanya urusan strategi belajar, strategi pembelajaran, motivasi, minat, penguasaan, keterbacaan, kemampuan, dll sebagainya.

Yang kita lupakan adalah sisi ontologi dan aksiologi. Ontologi, sebagaimana saya diajari oleh Pak Ajang Budiman di UMM, mengupas tentang hakikat. Artinya, hakikat bahasa Inggris itu sendiri. Di berbagai kesempatan, kita, atau apa hanya saya sendiri ya, tidak pernah tahu apakah bahasa Inggris yang kita ajarkan adalah  bahasa Inggris Amerika, bahasa Inggris UK, atau bahasa Inggris Afrika Selatan. Beda misalnya dengan pembelajar dari Singapura, yang tahu dari awal bahwa mereka belajar Singlish atau Singapore English. Artinya, perlu ada kejelasan yang didasarkan pada penelitian atau politik bahasa.

Kita juga tidak banyak tahu sebenarnya bahasa Inggris ini akan kita gunakan untuk apa. Sebab, need analysis yang dilakukan kebanyakan terkait profesi di masa depan. Bukan terkait nilai-nilai filosofis kebangsaan. Semisal apakah bahasa Inggris yang kita pelajari digunakan untuk menyebarkan paham ideologi Pancasila ke seluruh dunia. Atau, jangan-jangan kita belajar bahasa Inggris hanya untuk memahami lirik Ice Cream yang dinyanyikan Blackpink dan Selena Gomes. Atau sebenarnya para siswa kita belajar bahasa Inggris hanya untuk memahami pidato RM, leader dari boyband BTS di PBB.

Entahlah.

Setelah itu, saya membahas kemungkinan keteririsan antara konsep Taksonomi Bloom dengan Teologi Alma’un khas Muhammadiyah. Namun, kapan-kapan saja kita bahas. Sudah terlalu panjang tulisan ini.

Sebagai penutup, moto yang disampaikan Steve Jobs dalam acara kelulusan di Stanford University saya tampilkan.

Artinya, ya silakan cari sendiri di Google hehe..

Sekali lagi, saya ucapkan selamat kepada Pak Estu Widodo dan Prodi Magister Pendidikan Bahasa Inggris yang sudah berhasil melakukan langkah konkret dengan menerbitkan buku ini. Selanjutnya, mudah-mudahan buku ini terus disempurnakan sebagaimana iPhone, yang sekarang sudah iPhone 11. Dan para alumni, para mahasiswa, para penulis, dan para editor, seperti kata Pak Steve Jobs tadi, stay hungry and stay foolish.

Kesimpulannya, buku ini layak dibeli, dipelajari, dan dikoleksi?

Sangat. Layak sekali. Buku ini bagus tampilan fisiknya, demikian juga keragaman isinya. Dan keluasan ilmu yang dituangkan para penulisnya.