Menyelamatkan Muka

Tadi pagi, suasana kampung kami terasa begitu riuh. 

Setelah lelah membantu kerja bakti, kami langsung merapatkan barisan bersama LPMK, KDKMP, teman-teman UMKM, perwakilan petani, dan tokoh masyarakat lainnya.

Fokus kami satu, sebuah isu yang tampak sederhana tapi sebenarnya cukup sensitif: bagaimana menata parkir dan lonjakan pengunjung agar kenyamanan warga tak terusik.

Bisa ditebak, awalnya suasana cukup tegang. Semua orang membawa ego, kepentingan, dan kacamatanya sendiri. 

Namun, pelan-pelan keajaiban musyawarah itu terjadi. Tensi mereda, percakapan mulai menemukan ritmenya. Orang-orang jadi lebih banyak menyimak daripada memotong pembicaraan, lebih fokus menambal masalah daripada sekadar mempertahankan ego sektoral.

Duduk di sana, saya merenungkan satu hal penting tentang manajemen konflik.

Ternyata, masalah tak selalu selesai oleh argumen siapa yang paling brilian. 

Banyak benang kusut yang terurai hanya karena satu hal: setiap orang merasa diwongke (dihargai).

Hal paling mematikan dalam ruang diskusi bukanlah perbedaan pendapat, melainkan ketika seseorang merasa diserang dan dipermalukan. Ketika harga diri terluka, pintu logika tertutup rapat.

Di sinilah letak seni sejati dalam bermusyawarah: menjaga agar tak ada satu pun yang kehilangan muka.

Karena saat seseorang sudah kehilangan muka, sering kali akal sehatnya ikut menguap. Ruang diskusi berubah jadi arena pertarungan untuk sekadar menang, bukan lagi wadah untuk mencari solusi bersama.



Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »