Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Memberi Lebih - Ajaran Shodiq

Hari Sabtu (1/8/2026) lalu, saya bertemu seorang teman lama. Namanya Pak Shodiq. Menariknya, ia selalu menyebut dirinya sendiri dengan nama itu.

"Dulu Pak Shodiq kerja ikut orang Cina. Bayarannya cuma dua puluh ribu rupiah sehari," ceritanya.

"Sebagai tukang cuma dibayar segitu, Pak Shodiq?" tanya saya.

"Iya. Cuma segitu. Tapi Pak Shodiq nggak pernah menghitung waktu. Kalau ada pekerjaan yang biasanya diulur-ulur sama tukang lain, Pak Shodiq kerjakan secepat mungkin."

"Kenapa begitu, Pak Shodiq?"

"Biar cepat selesai saja."

Ia lalu melanjutkan kisahnya.

"Eh, hari Ahadnya Pak Shodiq ditelepon. Disuruh datang ke rumah buat membetulkan kolam. Satu hari kerja, Pak Shodiq dikasih dua ratus ribu."

"Banyak juga ya. Sepuluh kali lipat."

"Iya, Alhamdulillah," jawabnya sambil menyengir.

Saya hanya ikut tersenyum. Dalam hati saya bertanya-tanya, benarkah rezeki sering datang dari sesuatu yang tampaknya sederhana?

Mindset Memberi Lebih

Awalnya saya heran dengan Pak Shodiq.

Secara keterampilan, mungkin ia tak jauh berbeda dengan tukang-tukang lain. Jam terbangnya pun belum tentu paling tinggi. Namun entah bagaimana, ia menjadi orang kepercayaan dua direktur sekaligus di sekolah dan yayasan tempatnya bekerja.

Semakin sering kami berbincang, semakin saya mengerti penyebabnya.

Pak Shodiq hampir tidak pernah berkata, "Tidak bisa."

Ia selalu siap ketika diminta membantu. Tidak banyak mengeluh. Tidak sibuk menghitung untung-rugi. Bahkan ketika mendapat pekerjaan baru yang belum pernah ia lakukan, ia memilih belajar dan mencoba daripada mencari alasan untuk menolak.

Tetapi ada satu kebiasaan yang menurut saya menjadi pembeda paling besar.

Ia selalu berusaha memberi lebih.

Lebih cepat.

Lebih sungguh-sungguh.

Lebih peduli.

Dan hampir tidak pernah memperhitungkan menit demi menit yang ia habiskan.

Di mata banyak orang, mungkin itu terlihat seperti "rugi". Namun justru dari situlah kepercayaan tumbuh. Orang merasa aman menitipkan pekerjaan kepadanya karena mereka tahu hasilnya akan melampaui harapan.

Hadiah Terbesar

Lama-kelamaan, Pak Shodiq menjadi the go-to man.

Kalau ada masalah, namanya yang pertama disebut.

Kalau ada pekerjaan penting, dialah yang dicari.

Ia menjadi top of mind bagi banyak orang, bukan karena paling pintar atau paling hebat, melainkan karena paling bisa diandalkan.

Suatu hari ia bercerita lagi sambil tersenyum.

"Pak Shodiq pernah diajak ke Bu Khalifa, Pak Anton."

"Bu Khalifa?"

"Iya... yang di Dubai."

"Oh... Burj Khalifa?" jawab saya spontan.

"Iya... itu."

Kami pun sama-sama tertawa.

Saya lalu menyadari bahwa hadiah terbesar yang diterima Pak Shodiq bukanlah upah yang sepuluh kali lipat, bukan pula kesempatan bepergian ke luar negeri.

Hadiah terbesarnya adalah kepercayaan.

Dan kepercayaan hampir selalu lahir dari kebiasaan memberi lebih daripada yang diminta.

Mungkin itulah pelajaran yang sering kita lupakan. Banyak orang berharap mendapat lebih—lebih banyak rezeki, lebih banyak kesempatan, lebih banyak penghargaan. Namun alam bekerja dengan cara yang berbeda.

Sering kali, kita baru menerima lebih setelah lebih dulu bersedia memberi lebih.

Perpisahan dan Kado Kenangan

Hari Ahad (2/8/2026) lalu, saya berkesempatan menghadiri sebuah acara perpisahan bersama teman-teman di suatu perusahaan.

Dalam acara itu, setiap orang diberi kesempatan menyampaikan sambutan. Ada yang mewakili perusahaan, ada pula yang mewakili teman-teman yang akan melangkah ke tempat baru. Masing-masing berbicara dengan caranya sendiri: ada yang penuh syukur, ada yang haru, ada pula yang diselingi canda agar air mata tak sempat jatuh.

Dari semua yang saya dengar, satu hal terasa sama: setiap orang memahami bahwa setiap pertemuan pada akhirnya akan bermuara pada perpisahan. Sebaliknya, setiap perpisahan sesungguhnya adalah gerbang menuju pertemuan yang lain.

Begitulah hidup berjalan. Pertemuan dan perpisahan bukanlah dua peristiwa yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari perjalanan yang sama. Ia terus berputar menjadi siklus kehidupan. Dan pada bab-bab tertentu, sekeras apa pun kita berusaha mempertahankan, perpisahan tetap menjadi takdir yang tak dapat dielakkan.

Ruh yang Pernah Berkumpul

Ketika mendapat kesempatan menyampaikan sambutan singkat, saya teringat sebuah hadis yang pernah disampaikan seorang khatib sholat Jumat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

"Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun. Ruh-ruh yang saling mengenal akan saling menyatu, sedangkan ruh-ruh yang tidak saling mengenal akan saling menjauh." (HR. Muslim)

Hadis ini selalu memberi saya cara pandang yang indah tentang hubungan antarmanusia. Mungkin saja, rasa akrab yang muncul begitu cepat kepada seseorang bukanlah sesuatu yang kebetulan. Barangkali ruh-ruh itu pernah dipertemukan, lalu Allah mempertemukannya kembali di dunia dalam bentuk persahabatan, kerja sama, atau keluarga.

Karena itulah, saya merasa bersyukur atas setiap pertemuan yang pernah Allah hadirkan. Atas kebersamaan, keakraban, tawa, pelajaran, bahkan perbedaan pendapat yang menempa kedewasaan.

Dan sebagaimana lazimnya sebuah perjalanan, tentu ada gesekan, ada kekeliruan, ada kata-kata yang mungkin melukai tanpa sengaja. Untuk semua itu, saya menyampaikan terima kasih sekaligus memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Kado yang Mengajarkan Cara Hidup

Usai acara, dua orang teman, Riska dan Shintia, menghampiri kami sambil membawa kado. Isinya sederhana: makanan dan bingkisan. Namun, maknanya terasa jauh lebih besar daripada nilainya.

Saya sungguh terkejut.


Di tengah suasana haru karena harus berpisah, mereka masih memikirkan bagaimana caranya memberi kebahagiaan kepada orang lain.

Betapa indah cara berpikir seperti itu.

Di zaman ketika media sosial sering membuat orang merasa entitled—merasa berhak menerima perhatian, penghargaan, dan perlakuan istimewa—dua orang ini justru menunjukkan arah yang sebaliknya. Mereka tidak sibuk bertanya, "Apa yang akan saya dapat?" Mereka justru bertanya, "Apa yang masih bisa saya berikan?"

Perbedaannya tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar.

Orang yang hidup dengan pola pikir "menerima" akan mudah kecewa ketika harapannya tak terpenuhi. Sebaliknya, orang yang hidup dengan semangat "memberi" akan selalu menemukan ruang untuk menghadirkan makna, bahkan ketika dirinya sendiri sedang berada di ujung sebuah perpisahan.

Dari dua sahabat ini saya belajar bahwa kebaikan tidak harus menunggu waktu yang sempurna. Bahkan ketika kesempatan untuk bertemu mungkin tak akan datang lagi, mereka tetap memilih meninggalkan jejak dalam bentuk pemberian.

Barangkali memang begitulah kenangan seharusnya dibangun.

Bukan dari seberapa banyak yang kita terima, melainkan dari seberapa tulus yang kita persembahkan.

Sebab pada akhirnya, yang paling lama tinggal di hati orang lain bukanlah apa yang pernah kita minta, melainkan apa yang pernah kita berikan.

Menyelamatkan Muka

Tadi pagi, suasana kampung kami terasa begitu riuh. 

Setelah lelah membantu kerja bakti, kami langsung merapatkan barisan bersama LPMK, KDKMP, teman-teman UMKM, perwakilan petani, dan tokoh masyarakat lainnya.

Fokus kami satu, sebuah isu yang tampak sederhana tapi sebenarnya cukup sensitif: bagaimana menata parkir dan lonjakan pengunjung agar kenyamanan warga tak terusik.

Bisa ditebak, awalnya suasana cukup tegang. Semua orang membawa ego, kepentingan, dan kacamatanya sendiri. 

Namun, pelan-pelan keajaiban musyawarah itu terjadi. Tensi mereda, percakapan mulai menemukan ritmenya. Orang-orang jadi lebih banyak menyimak daripada memotong pembicaraan, lebih fokus menambal masalah daripada sekadar mempertahankan ego sektoral.

Duduk di sana, saya merenungkan satu hal penting tentang manajemen konflik.

Ternyata, masalah tak selalu selesai oleh argumen siapa yang paling brilian. 

Banyak benang kusut yang terurai hanya karena satu hal: setiap orang merasa diwongke (dihargai).

Hal paling mematikan dalam ruang diskusi bukanlah perbedaan pendapat, melainkan ketika seseorang merasa diserang dan dipermalukan. Ketika harga diri terluka, pintu logika tertutup rapat.

Di sinilah letak seni sejati dalam bermusyawarah: menjaga agar tak ada satu pun yang kehilangan muka.

Karena saat seseorang sudah kehilangan muka, sering kali akal sehatnya ikut menguap. Ruang diskusi berubah jadi arena pertarungan untuk sekadar menang, bukan lagi wadah untuk mencari solusi bersama.



Sabar Menanti Durian Runtuh

Seorang teman bercerita bahwa ia baru saja mendapat durian runtuh.

Ia menerima "transfer" dalam jumlah besar. Utang-utangnya pun


seakan terlunasi.

Bukan hanya itu. Ia juga memperoleh satu "fasilitas" yang luar biasa: hampir setiap doa dan kebutuhannya terasa lebih cepat dikabulkan.

"Wah, luar biasa sekali durian runtuhmu," kata saya.

"Lalu, bagaimana caranya bisa mendapatkan semua itu?"

Ia tersenyum.

"Cukup bersabar."

Maksudnya?

Ternyata, beberapa waktu lalu ia diperlakukan zalim oleh salah seorang rekan kerjanya. Jadwal kerjanya dibuat sangat tidak manusiawi. Sikap yang diterimanya pun dingin dan menyakitkan.

"Lho, memangnya tidak kamu lawan?" tanya saya.

"Bisa saja. Tapi guru-guru saya mengajarkan bahwa ketika seseorang dizalimi lalu memilih bersabar karena Allah, ada tiga hadiah besar yang menantinya."

Pertama, ia menerima "transfer pahala" dari orang yang menzaliminya.

Kedua, dosa-dosanya ikut "ditransfer" kepada orang yang berbuat zalim itu.

Dan ketiga, doa-doanya lebih dekat kepada pengabulan Allah. Bukankah doa orang yang dizalimi termasuk doa yang tidak memiliki penghalang di hadapan-Nya?

"Kalau begitu," lanjutnya, "justru aku tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan. Karena setiap kali aku mampu menahan diri, sebenarnya aku sedang menerima keuntungan."

Saya terdiam.

Hikmahnya?

Saja jadi belajar: orang yang berbuat zalim sering kali mengira dirinya sedang menang. Padahal, tanpa sadar ia sedang membayar mahal sekali: ia berikan pahalanya kepada orang lain, sekaligus memikul dosa yang bukan miliknya.

Maka, ketika dizalimi, jangan tergesa-gesa membalas dengan cara yang sama. Bersabar bukan berarti lemah. Bersabar adalah kekuatan untuk tetap berada di jalan yang benar ketika hati sedang terluka.

Bila pada akhirnya kita harus membela diri atau menuntut keadilan, lakukanlah dengan cara yang baik, adil, dan tidak melampaui batas. Sebab tujuan seorang mukmin bukan sekadar mengalahkan manusia, tetapi memenangkan ridha Allah.

Mungkin, di situlah letak durian runtuh yang ia maksud.

Saat Kacang Dikacangin

Dear K,

Mengapa orang yang tidak dipedulikan atau diabaikan kerap disebut sedang "dikacangin"?

Saya tidak tahu pasti asal-usul ungkapan tersebut. Namun, saya menduga ada benang merahnya dengan peribahasa kacang lupa akan kulitnya—sebuah perumpamaan bagi mereka yang melupakan asal-usulnya serta lupa berterima kasih.

Bisa jadi, ketika seseorang mengabaikan orang lain, ia sedang lupa bahwa kehadiran dan perhatian sekecil apa pun patut disyukuri. Bukankah saat ada orang yang meluangkan waktu untuk berbicara, memberi kabar, atau sekadar menyapa, kita sebenarnya sedang menerima hadiah berupa perhatian?

Dan setiap bentuk perhatian, sekecil apa pun, layak dihargai.

Beberapa waktu lalu, saya menerima sebuah kabar gembira. Sebuah upaya yang diperjuangkan berhari-hari, melewati proses yang panjang dan tidak mudah, akhirnya membuahkan hasil.

Awalnya, saya sempat berpikir untuk tidak menyampaikannya di grup. Toh, mungkin semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun kemudian saya berpikir, barangkali ada yang turut menantikan kabar ini sama seperti saya. Mungkin ada yang akan bernapas lega atau ikut bersukacita ketika membacanya.

Akhirnya, saya meluangkan waktu untuk menuliskan kabar itu di grup. Tak lupa, saya menyisipkan ucapan terima kasih atas doa, kesabaran, dan perjuangan semua pihak yang terlibat.

Lalu, apa yang terjadi? Sunyi. Tak ada satu pun balasan.

Pengalaman serupa juga saya saksikan di grup lain. Ketika bendahara mengabarkan bahwa dana akhirnya cair, semua orang diam. Tidak ada ucapan syukur. Tidak ada apresiasi. Bahkan sekadar dua kata "terima kasih" pun tidak terlihat di layar.

Namun sebaliknya, ketika dana tersebut belum kunjung turun, rentetan pertanyaan datang bertubi-tubi. Semua orang mendesak ingin segera mendapat kepastian.

Dari sana saya menyadari satu hal: manusia sering kali lebih cepat bereaksi terhadap sebuah masalah daripada menghargai penyelesaiannya. Kita begitu vokal dalam menyampaikan keluhan, tetapi mendadak bisu saat harus mengucapkan terima kasih.

Padahal, membalas pesan tidak butuh waktu lama. Memberi tanda jempol, mengirim emoji, atau mengetik "terima kasih" hanya perlu beberapa detik. Namun, bagi orang yang membawa kabar, respons kecil itu bisa menjadi tanda yang bermakna bahwa usahanya tidak sia-sia dan kehadirannya dihargai.

Sejak saat itu, saya mencoba menjadikan hal ini sebagai pengingat diri. Jika ada orang yang mengirim pesan kepada saya, sebisa mungkin saya meresponsnya. Jika ada yang menyampaikan kabar baik, saya ikut mengapresiasi. Jika ada yang telah bersusah payah membantu, saya pantang membiarkan usahanya berlalu begitu saja.

Karena sering kali, yang dibutuhkan seseorang bukanlah balasan yang panjang lebar, melainkan sekadar tanda bahwa pesannya telah diterima dan keberadaannya diakui.

Jangan sampai kita menjadi orang yang bising menuntut perhatian, tetapi pelit saat harus memberikannya.

Jangan sampai kita menjadi seperti kacang yang lupa kulitnya—mudah saat menerima, tetapi lupa untuk menghargai.

Lesson Learned #1: Ample Time When It’s Important

“Family matters,” a friend once said—and I felt the same. Every time I need them to be present for an important occasion, they are just one call away. I only need to tell them what the moment is, and they will surely make time despite their busy schedules. Of course, it works both ways. When they need me, I’m also just one message away. I will make sure to be there.

Why do I do that?

Because they are important to me, just as I am regarded as important to them. When something—or someone—matters enough, we don’t wait for perfect conditions. We look for openings. We rearrange plans. We make room. That simple.

Our presence often depends on the degree of importance we assign. Time, in that sense, is rarely about availability; it is about priority. We may say we are busy, overwhelmed, or exhausted, but when something truly matters, time seems to stretch. Even in the smallest gaps, we find a way.

This is why absence sometimes hurts more than words. It quietly tells us where we stand. Not always out of malice, but often out of unspoken choices. And yet, this realization can also be freeing. It teaches us to be honest—both with others and with ourselves—about what we value.



In the end, importance is not declared through grand statements, but through simple acts of presence. Showing up. Calling back. Making time. Because when it’s important enough, there is always ample time.

Diari Syukurku #17: Tiga Resep Dewasa ala Pak Haji Bolot

Suatu ketika, Fajar SadBoy pernah bertanya kepada Pak Haji Bolot mengenai saran bagi anak muda yang sedang belajar menapaki dunia kerja dan belajar menjadi dewasa. Tanpa perlu berpikir panjang, Pak Haji Bolot menjawab dengan fasih melalui tiga poin utama:

  1. Jangan terlalu ambisi.

  2. Jangan mempunyai sifat sirik.

  3. Banyak sedekah.

Semua tamu di acara talkshow itu pun mengamini petuah tersebut. Terdengar sederhana, namun maknanya betul-betul mendalam dan menohok realitas kita hari ini.


Nasihat pertama tentang ambisi mengingatkan kita bahwa ambisi yang tak terkendali sering kali membuat kita buta. Kita menjadi lupa mensyukuri apa yang sudah ada di genggaman karena mata terus tertuju pada apa yang belum kita miliki. Kita terobsesi menumpuk pencapaian dan ingin mewujudkan segala hal yang ada di pikiran, seolah kepuasan adalah garis finis yang bisa dikejar, padahal ia hanyalah fatamorgana.

Sifat ambisius ini kemudian sering bercampur dengan penyakit hati yang kedua: sirik alias iri dengki. Kita mulai membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Saat melihat orang lain lebih kaya, kita ingin mengalahkannya. Saat orang lain lebih dicintai atau dipuji, kita pun ingin merebut posisi itu.

Padahal, hidup bukanlah sebuah kompetisi untuk saling mengalahkan. Keinginan untuk selalu terlihat "lebih" dari orang lain itulah yang perlahan menggerogoti ketenangan hati. Kita menjadi lupa untuk menikmati proses dan mensyukuri pencapaian kecil kita sendiri karena mata kita terlalu sibuk menatap rumput tetangga. Rasa iri hanya membuat kita lelah mengejar bayang-bayang kepuasan yang semu, mengubah kawan menjadi lawan, dan mengubah rezeki menjadi sekadar angka tanpa keberkahan.

Di sinilah poin ketiga hadir sebagai penawar yang paling ampuh: perbanyak sedekah.

Sedekah bukan sekadar soal memberi uang kepada yang membutuhkan, melainkan sebuah latihan spiritual untuk melepas kemelekatan duniawi. Sedekah adalah mekanisme untuk "mengerem" ambisi yang liar dan "mengobati" hati yang dengki. Ketika tangan kita terbiasa memberi, hati kita diajarkan bahwa tidak semua hal di dunia ini harus digenggam erat. Kita disadarkan bahwa rezeki yang kita kejar mati-matian, sejatinya adalah titipan yang harus mengalir agar tetap jernih, bukan dibiarkan menggenang hingga keruh.

Dengan bersedekah, kita mematahkan ego yang merasa memiliki segalanya. Kita belajar bahwa keberhasilan sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang bisa kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak manfaat yang bisa kita tebarkan.

Nasihat Pak Haji Bolot mungkin terdengar klasik, namun itulah fondasi ketenangan jiwa yang sesungguhnya. Menjadi dewasa bukan hanya soal seberapa tinggi karier yang kita panjat, tetapi seberapa pandai kita menata hati. Dengan mengendalikan ambisi, membuang rasa iri, dan memperbanyak berbagi, kita tidak hanya sedang belajar bekerja, tetapi benar-benar belajar menjadi manusia yang tenang dan bahagia.

Diari Syukurku #16: Belajar Cukup

Beberapa hari lalu, saya melihat cuplikan video Yusdeny Lanasakti. Yusdeny sendiri seorang kreator konten yang menyajikan konten berbagi dengan para janda atau duda sepuh yang sering ditinggal anak dan cucunya.

Di situ, dia bertemu Mbah Kulsum. Sebagaimana layaknya konten berbagi lain, kreator yang sekaligus dokter ini memberikan bingkisan sembako.

Saat menerima, Mbah Kulsum langsung kaget dan terlihat menahan diri. “Kok banyak sekali gini” ujarnya dalam bahasa Madura “gak tahu ini bagaimana saya mengembalikannya”

“Gak usah dikembalikan” balas sang dokter “cukup kami didoakan.”

“Semoga sampeyan dan semua tim ini beres slamet” pungkas beliau kemudian.

Cuplikan video itu mengingatkan saya tentang rumah. Beberapa orang sepuh di Probolinggo tidak langsung seketika sumringah ketika mendapat pemberian. Beliau-beliau selalu berpikir bagaimana cara mengembalikan kebaikan itu. Bahkan saat kedatangan tamu, beliau langsung berpikir cara membalas silaturahim itu.


Dari video itu, kupikir mungkin begitulah cara untuk merasa cukup, yaitu memikirkan bagaimana cara kita mengembalikan kebaikan orang yang memberi. Dengan begitu, kita tidak terlalu tamak meminta dan menerima. Karena yang kita minta atau terima, harus kita kembalikan.

Diari Syukurku #15: Menghadiahkan Waktu

Sabtu yang berat, dan Ahad yang berjalan lambat. Begitulah kiranya gambaran minggu lalu.

Agar suasana sedikit lebih cerah, aku pun mengajak istri pada Ahad pagi itu untuk sarapan pecel di Pasar Tawangmangu. Pecel itu memang favorit kami. Bumbunya khas. Nasinya pas; tak terlalu banyak, tak juga terlalu sedikit. Sayurnya pun segar.

Apakah Pasar Tawangmangu ini tempat terinspirasinya lagu Mangu dari Fourtwnty?

Ow gila tak masuk logika
Termangu hatiku
Kau menggenggam kumenadahnya
Ow gila ini tak biasa
Tertegun hatiku
Kau menggenggam kumenadahnya

Entahlah.

“Tambah satu teh hangat ya,” usul istri sambil beranjak dari kursi lalu memesan.

Sejenak kemudian, dua porsi nasi pecel datang. Kami pun mengambil dua gelas air mineral sambil menunggu teh hangat. Seiring tandasnya pecel, kami mengobrol ngalor ngidul. Dan ketika butir terakhir nasi putih di wadah daun pisang itu habis, si teh hangat belum juga menampakkan batang hidungnya.

Mungkin si penjualnya lupa. Tak tahu juga.

“Gak usah teh hangat, gak apa-apa, wes,” kataku.

Istri pun bangkit untuk membayar.

“Mungkin biar kita langsing karena gak kebanyakan gula,” kata istri sambil mengajakku berangkat ke Gramedia.

Kami pun menyusuri jalan Tawangmangu, lalu ke Plasa Ramayana Malang untuk memarkirkan sepeda. Dan mengantarnya ke Gramedia untuk membeli buku keperluan mengajar.

Sejenak kemudian, kami pun pulang melewati jalan lain lagi. Berputar-putar.

Apa pun jalan yang dia minta untuk kutempuh, aku akan mengabulkannya. Karena kutahu, hadiah terbesarku untuknya mungkin waktu dan kesediaan untuk menemaninya berkeliling. Kelak saat kami tak kuat lagi, perjalanan itu bisa kami kenang.

Kata orang bijak, "saat kita meluangkan waktu bersama orang lain, kita memberikan sepotong hidup kita untuk orang itu. Itulah yang perlu kita syukuri"

“Hari ini menyenangkan sekali,” ucapnya setelah terbangun dari tidur siang.

Diari Syukurku #14: Es Teler Steve Jobs

Siang Ahad kemarin, cuaca Singosari benar-benar panas.

Matahari sedang tersenyum paling cerah. Langit sumringah sekali. Awan pun tak sanggup menahan senyumnya. Jadilah, suasana terasa sumuk sekali.

Lanjutannya? Tentu saja, beli es.

Saya pun berinisiatif. Tujuannya: mencari es teler. Konon, ini es teler paling legendaris di Singosari.

Saya cepat bersiap. Jaket hitam saya kenakan. Motor langsung saya nyalakan. Mulut saya rasanya sudah mengunyah es teler dingin itu. Sudah sangat ngiler.

Sesampainya di sana, antrean sudah panjang. Ibu-ibu berjejer rapi.

Saya lantas memesan. Saya sebut pesanan saya kepada si Ibu penjual. Ia tampak sibuk luar biasa.

"Sebentar, Pak ya," balasnya singkat.

Saya duduk menunggu. Sabar. Lima menit kemudian, si Ibu memanggil.

"Es krimnya habis, Pak."

Mendengar itu, saya langsung menjawab. "Tanpa es krim saja tidak apa-apa."

Si Ibu menatap saya. "Kami jualannya Es Teler Es Krim, Pak."

"Jadi, tidak bisa dijual?" tanya saya lagi.

"Iya, Pak. Maaf, ya. Aturannya begitu. Kami hanya jual es teler yang ada es krimnya. Kalau tidak ada, ya berarti tidak bisa kami jual."

Ia menatap saya lamat-lamat. "Maaf, Pak," ucapnya sekali lagi.

"Iya, tidak apa-apa," sahut saya. Padahal, rasa dongkol dan kecewa harus saya tahan.

Saat itu, saya memilih tidak marah. Biarlah hasrat mencicipi es teler ini tertunda. Keinginan yang ditahan seringkali terasa lebih manis saat akhirnya terwujud.

Tapi, ada hal yang lebih menarik.

Ibu ini hanya menjalankan suatu aturan kerat. SOP yang ia tetapkan sendiri. Dan saya salut sekali.

Ini UMKM kecil, tapi punya idealisme produk tinggi. Pikirannya tidak melulu soal uang, duit, dan fulus. Ia rela menolak pembeli—menolak rezeki—hanya karena produknya tidak sesuai spesifikasi.

Saya memang gagal mendapat es teler idaman. Namun, saya justru mendapat pelajaran berharga.

Di tengah persaingan sengit, setiap usaha harus punya pembeda. Pembeda si Ibu penjual adalah kualitas dan spesifikasi produknya. Ia tidak kompromi.

Hal ini mengingatkan saya pada ucapan Steve Jobs: "If you do the right things on the top line, the bottom line will follow."

Lakukan hal yang benar pada kualitas produk (top line), maka keuntungan (bottom line) akan mengikuti. Si Ibu penjual es teler itu adalah bukti nyatanya.