Showing posts with label Temanku. Show all posts
Showing posts with label Temanku. Show all posts

Jalinan Persahabatan 10 Perantau dalam Iringan Puisi Imam Syafiie

Sabtu siang itu terik. Matahari sedang panas-panasnya. Mata kuliah kami juga penuh sedari kemarin. Lelah fisik dan letih otak meremuk-redamkan badan, tapi senyum kami harus tetap lebar. Bukan apa-apa, agar rasa lelah tidak terlalu terasa saja.

Dan kebetulan hari Sabtu itu, 18 November 2017, giliran saya presentasi di mata kuliah Filsafat Ilmu. Di antara mata kuliah lain, saya relatif lama mempersiapkan slide dan makalahnya. Saya sangat menikmati mata kuliah satu ini. Begitu pun teman-teman.

Di mata kuliah yang mestinya rumit dan memeras otak ini, kami seakan bisa istirahat dari deraan mata kuliah inti yang biasanya menyedot habis energi, fokus, dan kapasitas otak. Di mata kuliah ini, kami menjadi diri sendiri. Bercanda dan tertawa, seperti biasanya.

Oya, makalah saya hari itu berjudul "Meneropong Ilmu sebagai Aktivitas & Dimensi-dimensi Ilmu (Psikologi, Sosial-Budaya, Ekonomi, dan Politik)". Seram juga judulnya, bukan?

Saya awali presentasi siang itu dengan puisi berjudul Merantaulah, yang konon digubah Imam Syafiie.

Saya berdiri di depan lalu mulai membaca:---


Merantaulah …
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah …
Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus di dalam hutan

Tepuk tangan teman-teman menggema, sebab jarang, kata mereka, presentasi dimulai dari deklamasi. Begitu juga dosen Filsafat kami, Bapak Ajang Budiman. Beliau tersenyum simpul. Dari sorot mata beliau yang selalu teduh, terpancar kebahagiaan. Terutama mungkin, di kelasnya ini, kami menemukan secercah senyum, dan segudang tawa.

Saya membaca puisi ini demi kami sendiri. Demi teman-teman sekelas. Semester ini baru awal dari dua tahun atau lebih masa studi yang akan kami tempuh. Onak dan duri akan perlahan berganti menghambat langkah kami. Jalan terjal harus kami taklukkan.

Itu pula yang saya alami beberapa minggu sebelumnya. Penyakit tipes membuat saya lumpuh dan hanya bisa berebahan di tempat tidur. Dua minggu lamanya saya terdiam sendiri. Memikirkan apakah ada guna saya meneruskan kuliah ini.

Jadi, motivasi untuk tetap bersama, bergandengan, saling menguatkan dan memotivasi saat menggali ilmu ini menjadi berharga sekali. Itulah alasan utama saya mencari puisi ini, yang cocok dengan jati diri kami. Kami adalah para perantau, yang disatukan jalinan takdir untuk bersama belajar di kampus putih ini.

Saya pun memulai presentasi dengan menjelaskan ilmu, dan bagaimana ilmu tidak berdiri sendiri. Ilmu terkait dengan dimensi-dimensi kehidupan nyata yang tak bisa terpisah. Bagaimana ilmu diperoleh, disintesiskan, dan diintegrasikan menjadi topik berikutnya.

Sesi berikutnya menjadi sesi yang kami tunggu-tunggu. Sesi tanya jawab. Dalam sesi ini, kami bisa bebas bertanya dan menjawab. Tak ada jawaban benar atau salah. Yang ada hanya jawaban dari perspektif lain, yang biasanya disampaikan oleh Pak Ajang.

Semisal, pada suatu presentasi, Bu Ida, salah satu teman kami, menjelaskan bahwa sudah seharusnya orang-orang dari suku asli, semisal suku Dayak, dientaskan dengan diberi pendidikan modern dan gaya hidup modern. Saya tidak setuju. Menurut saya, mereka perlu dibiarkan karena toh pendidikan dan gaya hidup modern justru menjadi biang kerusakan alam. Betapa besar kerusakan alam Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Papua, dll disebabkan berulang-ulang oleh orang yang berpendidikan modern. Perbedaan pandangan kami cukup tajam sampai akhirnya Pak Ajang menengahi.

"Sekarang isu yang berkembang bukan tentang menyediakan pendidikan modern atau membiarkan mereka hidup secara alami, tapi tentang pemberdayaan"

Kami terdiam. Menatap langsung beliau menjelaskan secara lebih cermat.

"Jadi, kata kuncinya adalah pemberdayaan" tukas beliau.

Dan beberapa kali jawaban semacam itu disampaikan dengan mudah. Kepribadian dan cara beliau mengajar membuat kami tidak pernah takut bertanya dan menjawab. Sebab, beliau akan memberikan jawaban yang tidak hanya memuaskan semua pihak, tapi juga mencerahkan. Semakin kami berbuat salah, semakin kami belajar.

Begitu juga ketika Mbak Fahim bertanya tentang teladan atau uswatun hasanah, misalnya terkait peran teladan dan penggunaan smartphone oleh anak-anak.

"Betul. Itulah yang saya coba praktikkan terhadap anak saya sendiri Mbak. Sudah dua minggu anak saya tidak menggunakan hape"

Teman-teman sekelas terperangah. "Luar biasa" ujar Mbak Fahim.

"Bukan karena uswatun hasanah, tapi karena hapenya saya sita".

Dan kami pun meledak dalam tawa.

Dan begitulah dua tahun berlalu dengan penuh tawa, tangis, suka, dan duka. Bukan hanya ilmu dan pengalaman yang kami peroleh dari kampus tercinta, tapi juga kerabat dan sahabat. Betul, persis seperti salah satu baris dalam puisi Imam Syafiie di atas. "Kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan".

Dan setelah lulus, lega hati kami sebab kami belajar dengan merdeka dan bahagia. Lalu terdengar lagu "Itulah tandanya kau murid budiman." 


Ya, kami adalah murid budiman, murid Bapak Ajang Budiman hehe

Senyum, tawa, dan kisah kita

Pagi ini, kususuri lagi sepanjang jalan yang biasa kita lalui. Masih kulihat engkau tersenyum di sudut-sudut kampus. Di kursi memanjang yang berkarat dan kini sepi, tawamu tak lagi di sini. Kulirik engkau di meja berwarna merah yang ringkih, tertutup stiker, dan kacanya yang mulai pecah. Retak karena kau telah lama beranjak.

Masih segar tawamu yang terlihat di derai tawa mahasiswa yang sibuk menata masa depan dan mengambil toga pagi ini. Perih karena ingatan dan kenangan tentangmu menguat sementara jejakmu menguap lambat.

Aku masih menatapmu perlahan bangkit dari kursi lalu bergegas membeli cilok, kudapan, atau minuman ringan. Atau kau bergegas cepat dan berhambur menuju tempat fotokopi saat kau lupa belum mencetak bahan presentasi. Atau karena lelah terlalu lama duduk, kau sekadar berdiri.

Lalu kita tertawa lagi, lagi, dan lagi sambil diterpa angin yang berhembus dari sungai Brantas. Dari barisan bunga seroja aneka warna yang berjajar rapi di tepian jalan.

Kita lalu berjalan beriringan di jalan menanjak, yang seakan menghisap napas kita pelan-pelan, dan kita terengah. Kita tertawa dan saling menatap seakan tak terpisah. Matamu dan mataku berbinar saat terlihat di depan sana GKB IV. Dan kita berbincang lagi. Tertawa lagi, seakan kita memang ditakdirkan untuk tertawa bersama. Berjuang bersama. Menahan lelah bersama.

Lalu perlahan jalan kita bercabang. Derap langkah kita memisah. Satu per satu bayang kita pecah. Setiap pecahannya lenyap ditelan angin. Dibawa air danau berwarna kehijauan. Atau tertinggal di pagar-pagar retak berwarna putih di sempadan sungai.

Aku melihatmu tersenyum dengan balutan gaun toga hitam pekat dan make-up berkilau sempurna. Senyum yang melengkung tanpa cela. Pertama kali dan terakhir kali, aku ingin mengabadikannya. Membekukannya hingga bisa kulihat lagi. Lagi. Berkali-kali.

Namun, aku tidak cakap menghentikan waktu. Aku tidak lihai memanipulasi ruang. Aku hanya bisa mencintaimu dan menyayangimu dalam bingkai persahabatan. Pergilah dan tersenyumlah. Tertawalah. Abadilah kisah-kisah kita dalam relung hatiku, dalam palung jiwamu…

Dan aku masih berada di sudut itu… mengenangmu

Rumah Lapang dan Tamu yang Kurang Ajar

Langit berwarna biru hampir sempurna. Namun, sedikit ternoda sepuhan awan putih yang berarak menuju barat. Sementara itu, dia berdendang di belakang. Suaranya sayup-sayup tersapu angin. Lagu romansa kukira yang dia gumamkan. Atau apa lagu Korea. Entahlah.

Aku konsentrasi saja memegang setir sepeda motor. Meskipun sudah tua sepeda motor ini, bangga dan bahagia rasanya bisa memboncengnya berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lain. Setidaknya ini cara terbaik yang bisa kulakukan untuk membahagiakannya pada periode bulan madu ini. Murah dan sudah cukup membuatnya bahagia.

“Maaf, mas mau kemana?” tanya Satpam itu sopan, memecah konsentrasi dan senyum yang kusungging. Matanya menatap kami penuh selidik.

“Mau ke rumah teman Pak?” balasku, dengan ekspresi tenang. Dadaku berdegup kencang sebenarnya, takut ditanya alamat rumah “teman” itu.

“Oya, Mas. Silakan” serunya, yang mengisyaratkan agar aku segera melajukan sepeda motor hitam yang sadelnya dirobek kucing itu.

Setelah berterima kasih, kugas sepeda motorku perlahan. Lalu, kulihat spion. Ternyata ada mobil Kijang Innova berwarna putih yang hendak masuk. Fyuh, slamet-slamet. Untung, ada mobil itu. Dengan begitu, kami berdua jadi terhindar dari ditanya banyak-banyak.

Kami lalu berkeliling. Mencari rumah yang konon mirip di film drama Korea “Full House” itu. Semenjak dia menonton drama yang menggunakan rumah yang dihiasi banyak kaca di pinggir pantai itu, dia selalu mendesakku mengantarnya ke perumahan ini. Konon di dalam perumahan itu, ada rumah besar yang mirip dengan rumah di drama Korea yang populer pada saat itu.

Hatiku ciut sebenarnya. Membayangkan ditanya-tanya satpam, atau mungkin diinterogasi sebelum akhirnya diusir. Tapi sial, cinta, ya cinta, kadang membutakan. Menebalkan rasa berani dan membesarkan jiwa pejuang. Setelah menebalkan muka dan berhitung segala kemungkinan, aku menuruti keinginannya.

“Itu dia rumahnya” serunya dari belakang beberapa saat kemudian. Dari nada suaranya, dia jelas bahagia. Sumringah.

Akhirnya, setelah beberapa kali berputar, kami menemukan rumah Full House yang besar sekali itu. Bestari dan indah. Jajaran pohon palem beserta entah pohon apa ditanam berjajar di sekeliling rumah, yang kutaksir mungkin seluas 1000 meter itu.

Kami lalu berhenti, berkeliling, dan menikmati melihat rumah itu dari jarak dekat dan jauh. Bahagia sekali melihatnya tertawa ceria. Wajahnya berbinar. Matanya penuh pendar cahaya.

Aku hanya bisa tersenyum. Berbahagia melihatnya begitu ceria.

Tapi ada satu yang mengangguku. Berbohong kepada satpam tadi jelas tak bisa dibenarkan. Diam-diam terbersit dalam hati “Seandainya saja benar-benar ada teman yang punya rumah di sini. Mungkin aku tidak perlu bohong pada satpam.”

Dan setelah berbilang tahun, berlalu ratusan purnama, dan beringsut ribuan hari, Allah menjawab harapan kami. Hari ini, kami diundang dalam acara makan siang dalam rangka tasyakur rumah teman kami, Mas Tarto dan Mbak Dewi.

Betul, perumahan yang kumaksud dalam cerita di atas dan rumah yang ditempati Mas Tarto sekeluarga adalah Permata Jingga. Nama perumahan yang ya kau tahu sering menciutkan hati orang yang mendengarnya. Termasuk aku dan orang yang kubonceng saat itu. Dia sudah menjadi ibu dari anak-anakku, anyway.

Tak perlu ditanya. Rumahnya megah. Desainnya indah. Fasad dengan desain minimalis tapi terlihat apik, paduan warna cat eksterior dan cahaya lampu yang berpendar membuatnya terlihat wah. Apalagi lingkungannya tenang, tertata, dan aman. Tatanan rumah dan tatanan lingkungannya mungkin bisa dibilang “perfecto”.

Saking apik tatanan rumahnya kukira area dapur yang kami masuki pertama kali itu adalah ruang tamunya. Dugaan lugu yang lantas memantik tawa teman-teman lain yang berkunjung.

Setelah dimohon menyantap hidangan yang disajikan terlebih dahulu, kami lantas diajak berbincang-bincang. Bercerita. Dan seperti halnya cerita favorit kami semua, Mas Tarto dan Mbak Dewi bercerita tentang lika-liku pernikahan. Tentang pertemuan yang memicu asmara. Lalu, berlanjut ke pernikahan. Cerita lalu berpindah ke ngontrak rumah, berjalan melintasi jalan yang disampingnya terdapat kuburan, dan apalagi kalo bukan cerita hantu. Kami lantas tertawa-tawa dan saling bertukar cerita penuh semangat.

Singgih sekeluarga, Lilik sekeluarga, dan aku sekeluarga yang datang bersamaan malam itu begitu bersyukur bisa bersilaturahim. Bisa ikut mensyukuri  dan mendoakan agar keberkahan selalu menghujani rumah itu. Serta, tak kalah pentingnya belajar cerita kehidupan dari orang yang menjalaninya langsung. Belajar hikmah, bukan lagi teori.
 
Sumber: FB-nya Mas Tarto
Oya, kami datang saat azan isya berkumandang. Padahal kami diundang untuk acara makan siang. Dan sialnya kami tidak bawa apa-apa. Kurang ajar, bukan? Hahaha

Namun, tuan rumah menyambut kami dengan suka cita. Dengan bahagia. Seakan-akan kami tamu pertamanya. Padahal kutahu Mas Tarto menyembunyikan diri saat menguap. Mungkin dia tidak ingin tamunya terburu-buru pulang bila tahu dia lelah dan mengantuk. Kami sadar sebenarnya, Mas Tarto dan Mbak Dewi pasti kelelahan karena sedari siang menerima banyak tamu.

Kami hanya bisa kagum dan berseru di dalam hati melihat sikap keduanya: Salut. Luar biasa keluarga ini. Kami kira rumah yang akan ditempati keluarga mereka berdua ini sudah luas. Sudah lapang. Ternyata hati keduanya jauh lebih luas. Jauh lebih lapang. Dan untuk itu, kami harus banyak belajar.


Malang, 22 Oktober 2016

Sahabat dalam Sulit Sahabat Segala-galanya

Sore tua nan dingin pada bulan Agustus itu berjalan lambat. Seakan malas diajak bergerak. Ratusan mahasiswa berjalan ke sana kemari, seperti tanpa tujuan. Ada yang wajahnya sumringah dengan baju putih dan celana hitam kusut dan menenteng jas almamater hijau. Ada yang kuyu, kelelahan. Ada yang berbicara lantang. Ada yang diam sendirian. Terseret lamunan.

Sementara, taman tengah kampus terlihat kering kerontang. Rerumputannya hendak menjemput ajal. Terlihat semakin melas saja ditindas musim kemarau yang masih lama beranjak, dan derap kaki ratusan orang.

Menyeberang, Menaklukkan Diri dan Ketakutan

Pagi itu langit begitu cerah. Sinar matahari menerobos masuk ke sela-sela pepohonan di Gili Nanggu tanpa satu penghalang pun. Kira-kira sudut matahari mencapai 40-an derajat, ketika kami memutuskan terjun guna melihat langsung segerombolan ikan aneka warna dan ukuran di pinggir dermaga kecil.

Ya, saat itu kami masuk ke dunia bawah alam Gili Nanggu. Berenang, lalu menikmati pesona bawah laut yang selalu disajikan secara ciamik oleh Lombok. Setelah kami bercebur sebentar, tersadarlah bahwa Ella dan Dewi tak terlihat di pantai sekitar.

Sehari sebelumnya, Ella memutuskan tidak akan ikut snorkeling. Keputusan yang mungkin akan disesalinya seumur hidup. Ella beralasan sedang dapat. Siklus bulanan. Skenario yang ada di pikirannya mengerikan. Karena sedang dapat, hiu bisa mencium hal itu, dan dia bisa dimakan.
Tiga Serangkai

Tiga Serangkai

Sore itu keduanya datang ke rumahku di Probolinggo, tepat di saat aku sedang terbaring lemas. Tak berdaya sama sekali. Padahal, beberapa jam kemudian keluarga calon istriku akan datang untuk acara khitbah sebagai balasan sebulan sebelumnya keluargaku sudah mengunjungi keluarga Jombang.

Aku sakit di saat yang kurang pas, dan untungnya Faiz serta Abidin datang di saat yang pas. Rancangan mutakhir Allah mempertemukan kami bertiga dalam pertemuan dan persahabatan yang unik. Termasuk sore itu. Sebuah sore Minggu dalam suatu Oktober 2006 lalu.

Keajaiban (Edisi Ultah-nya Pak Sugeng)

Mataku mulai perih malam itu. Semalaman, mata ini tak mampu kupejamkan. Masih kuingat dingin malam yang mulai menusuk-nusuk tulang. Parahnya, gerimis semakin melengkapi suasana muram dan tegang yang menyelimutiku.

Terpaksa aku harus pindah tempat, mencari suaka dari hujan yang tak bersimpati dan berempati atas sepasang anak manusia yang sedang menunggu kelahiran buah cintanya. Menjadi kasta paling rendah di rumah sakit umum selalu mengundang cerita miris nan romantis, yang sering kali menguji, lalu meneguhkan diri yang sedang terkena kesusahan. Di selasar jalan rumah sakit yang kering, kami berebut tempat untuk merebahkan lelah yang sedari siang tadi menggempur sejadi-jadinya.

Jadi, saat pagi menjelang seperti ini kami, para penunggu pasien di depan kamar bersalin kelas tiga di rumah sakit umum, tak bisa menyambutnya dengan gagap gempita. Selain karena malamnya kami tak bisa tidur nyenyak, kami jadi tidak punya tempat untuk menghilangkan penat. Bila pagi itu kami masih tertidur, satpol PP akan datang, membangunkan kami.

Aku masih ingat pagi itu. Dompet mulai menipis. Untuk makan pun beribu pertimbangan digunakan. Kalau aku beli makan di dalam rumah sakit, harganya menjadi sangat mahal. Bagaimana kalo pada akhirnya kami tidak bisa membayar biaya rumah sakit, cemasku sambil menatap dompet yang anehnya tak bereaksi apa-apa. Padahal kami tidak punya barang yang bisa digadaikan, atau dijual. Kalau beli makan di luar rumah sakit, yang memang lebih murah, aku harus berisiko membawa barang persiapan kelahiran itu, satu tas penuh. Beratnya bukan main. Selain itu, bagaimana jika ada panggilan dari para perawat yang membutuhkan tindakan dan keputusan segera.

Untungnya ada seorang yang sempat berkenalan denganku. Pardi namanya. Dia menunggui kakaknya, yang diminta bidan di desanya untuk melahirkan di rumah sakit. "Berisiko kalo melahirkan normal, sedang kakak iparku sedang kerja di Kalimantan" ceritanya. Jadilah kami akrab dalam sekejap. Dia pun setuju untuk menjagakan tasku, dan memberitahuku bila ada panggilan.
Saat berjalan hendak keluar rumah sakit, tak disangka aku bertemu dengan Pak Sugeng.

“Mau kemana, Ton” sapa Beliau.

“Mau sarapan Pak” jawabku sambil bersalaman. Aku terus terang terkejut bertemu beliau. Apa beliau sedang mengunjungi orang lain, tapi kebetulan berpapasan denganku. Beliau lalu bercerita memang bermaksud mengunjungiku dan menjenguk istri.

“Ayo masuk lagi. Aku tahu warung yang enak di dalam.” Kami pun kembali masuk, sambil berbincang santai tentang kondisi istriku.

Beliau pun memintaku memesan sendiri. Dengan pertimbangan harga, aku memilih pecel. Bila aku harus membayarnya sendiri, aku masih bisa menghemat untuk persiapan membayar biaya rumah sakit, pikirku.

Beliau memesan dua sekaligus, satu untuk beliau sendiri, dan tambahan satu lagi untukku.

“Mungkin dari tadi malam kamu belum makan. Ini kamu dua saja. Nanti aku yang bayar” ujar beliau sambil menyodorkan nasi pecel tambahan itu. “Sudah nggak usah sungkan-sungkan.”

Kami bicara santai saat itu. Berbicara tentang keadaan kantor, keadaan istriku. Beliau pun bercerita tentang kelahiran anak-anak beliau. “Meskipun banyak orang yang meragukan pelayanan rumah sakit umum, aku selalu percaya. Anakku semuanya dilahirkan di rumah sakit umum” ujar beliau meyakinkanku.

“Semua dokter terbaik di kota Malang ini ngumpulnya di sini. Jadi, nggak usah khawatir akan terjadi apa-apa. Nggak ada rumah sakit lain yang ahlinya lebih pintar dari dokter di sini” kisah beliau, seakan mengerti semua kekhawatiranku, kecemasan yang berhari-hari ini menghinggapiku.

Setelah acara makan itu selesai, beliau ingin melihat kondisi istriku. Di dalam kamar rumah sakit umum kelas tiga yang isinya bisa mencapai puluhan orang itu, beliau hanya bertanya-tanya kondisi kepada istriku yang terbaring. Istriku menitikkan air mata, tak menyangka sama sekali orang yang baru dikenalnya datang dan hadir memberi dukungan di saat awal. Ya, begitulah hidup kadang mengajari kami. Kadang yang kami harapkan kedatangannya malah tidak datang, dan sering kali sebaliknya.

Beliau hanya meminta istriku untuk sabar, dan jangan tegang. Itu saja. Tidak banyak beliau memberi nasihat. Beliau sepertinya tahu dari pengalaman, nasihat bagi orang-orang yang tegang dan kesakitan tidak banyak membantu. Dukungan tulus dan kehadiran secara langsung lebih banyak berguna meneguhkan jiwa yang sedang terguncang kecemasan dan kekhawatiran.

Dua hari kemudian beliau datang lagi. Seperti halnya hari pertama berkunjung, beliau langsung mengajakku ke warung di dalam salah satu paviliun. Setelah perutku tak lagi banyak menuntut, beliau lalu menjenguk istriku, dan bertanya tentang kondisi bayi kami. Beliau lalu bertanya tentang biaya yang harus kami bayarkan, dan bagaimana kami akan membayarnya.

“Kalo perlu aku hutangkan dari teman-temanku, aku gadaikan mobilku, untuk membantumu” ucap beliau meneguhkanku yang tampaknya sedari awal sudah tahu bahwa aku tidak punya uang. Menggadaikan mobil itu sungguh hanya hiperbola. Aku yakin beliau tidak perlu menggadaikan mobil. Tapi kata-kata itu meneguhkan kami, terutama aku sebagai kepala rumah tangga yang harus menanggung biayanya.

Pada saat itu, kebetulan saat itu kami sudah pindah dari kelas tiga ke kelas dua. Berdasarkan saran dari para perawat yang merawat istriku, ada baiknya kami naik kelas. Kelas tiga kurang representatif, ucap salah satu dari mereka. Kurang representatif itu kata halus untuk pelayanan yang kurang bersahabat dan dalam beberapa hal menjurus ke kasar.

Akhirnya, tujuh hari berlalu kami sudah boleh pulang. Berita baiknya, kami akan tidur di rumah lagi. Di ranjang yang sudah tak sabar menyambut kami. Tidak lagi aku merebahkan diri di keramik dingin yang kadang menusuk-menusuk tulang belakang. Tidak lagi tidurku terganggu oleh deru mesin pengangkut pasien. Tapi berita buruknya, uangku tinggal dua setengah juta, itupun dua jutanya aku dapatkan dari pinjaman keluarga Probolinggo. Sementara menurut perawat yang bertugas kira-kira biayanya akan menghabiskan sekitar enam juta. “Amannya enam sampai tujuh lah Mas” ujar salah satu perawat.

Pagi itu sekitar jam tujuh, aku harus menelepon Pak Sugeng. Meskipun sungkan dan malu, aku memberanikan diri. Ya, demi istri dan bayiku tercinta.

Setelah mendengarkan ceritaku, beliau berkenan menutup kekurangannya. “Santai, aku siapkan uangnya. Sekarang urus dulu administrasinya. Nanti aku menyusul ke Bank Jatim di dalam rumah sakit itu pas kamu mau bayar” pungkas beliau.

Dari wartel hingga bagian administrasi rumah sakit, aku berdoa setulus-tulusnya sembari menyusuri berkeramik itu. Dalam momen tegang itu, warna putih keramik dan lalu lalang orang tak lagi menentramkan. Ya Allah, mudahkanlah urusan kami ini. Aku serahkan semuanya kepada-Mu, bisikku di dalam hati pagi itu.

“Bu, saya mau bayar atas nama Yulia Dian Nafisah, dan Anak Kafka Abdurrahman” ucapku kepada petugas, seorang ibu paruh baya yang usianya sekira empat puluh tahunan. Beliau menata dokumen itu, dan terkejut. Ternyata di dokumen itu kami tercatat masih sebagai pasien kelas tiga.

“Wah salah ini. Istri dan anaknya mas kan di kelas dua, di sini kok masih kelas tiga ya” ucapnya sambil menata ulang, dan mengecek ulang angka-angka yang tercantum. “Ini juga dokternya yang merawat kok dokter spesialis. Padahal, yang diminta kan dokter umum” pungkas beliau seakan tidak percaya.

“Ya sudah nggak apa-apa Mas. Bayar sesuai ini saja.” Sejenak kemudian beliau menyerahkan dokumen pembayaran.

Di situ tertera dengan jelas, kami hanya harus membayar sejumlah Rp. 2.352.000,00. Saking bahagia dan tegangnya, aku segerakan menuju ke kasir Bank Jatim. Selesai membayar, aku bertemu Pak Sugeng yang bingung mencariku sedari tadi.

Kuceritakan keajaiban itu, dan beliau sama terkejutnya denganku. Sesampainya di kamar, aku langsung sujud syukur. Bersyukur atas keajaiban dan rezeki besar tak terduga yang diberikan-Nya pagi itu. Selain itu, aku bersyukur dipertemukan dengan Pak Sugeng, yang entah mengapa selalu ada dan hadir tepat di saat aku berada dalam masa-masa sulit. Pada masa kelahiran itu, dan pada saat ujian dahsyat yang mencoba mengguncang bahtera kapal keluarga kami beberapa bulan lampau.

Saat kami dianugerahi rezeki tak terduga dan saat keajaiban itu menyapa kami adalah suatu pagi pada hari Sabtu tanggal 8 Maret 2008, tepat di hari beliau hadir ke dunia. Sepertinya Pak Sugeng diciptakan untuk menjadi perantara penghadir keajaiban, pemberi ketenangan, dan penghilang kecemasan. Dan mudah-mudahan selalu begitu sampai nanti-nanti.

Pagi itu dan pagi ini, aku dan keluarga berdoa di dalam hati mudah-mudahan Allah menganugerahi beliau usia yang panjang, yang barokah, yang dipenuhi dengan keberkahan-keberkahan, ibadah-ibadah ilahiah, serta ibadah sosial.

Terima kasih ya Allah, Engkau menghadirkannya di dunia pada tanggal ini, 8 Maret beberapa tahun lalu. Selamat ulang tahun Pak Sugeng. Pada ulang tahun kali ini, bukan kami ternyata yang memberimu banyak hadiah, malah engkau yang memberi kami banyak hadiah.

Malang, 8 Maret 2014
courtesy of rsusaifulanwar

The Only One I-One

The Only One I-One

Mengenalnya di penghujung tahun 2012 lalu, kami tak mengira akan mengenalnya sejauh ini. Sebanyak saat ini. Pada sore hari ketika dia datang untuk ikut tes masuk ke lembaga kecil kami, tatapan matanya yang tajam, mimik wajah serius nan tegang, dan kaca mata yang dikenakannya menguatkan citra bahwa kami akan menghadapi manusia serius lain dari Jombang, yang tidak akan nyaman diajak bercanda. Garing.

[caption id="attachment_88" align="alignleft" width="300"]Mak, aku ulangtahun Mak. Mak, aku ulangtahun Mak.[/caption]

Entah mengapa, akhirnya dia bisa lulus tes masuk yang diberikan Singgih. Hari pertama kesan itu tidak luntur. Dia teguh dengan mimik serius itu. Beberapa hari berikutnya, suasana perlahan mencair. Selalu menjawab setiap kali ditanya, kami tahu juga saat itu bahwa dia tidak setegang wajah yang dia tampilkan di awal bertemu.
Bukan Kue Biasa

Bukan Kue Biasa

“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun” mengalun di belakangku. “Panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia. Serta mulia. Serta mulia” terus terdengar. Semakin lama, semakin nyaring.

Diam tanpa bergerak, aku sendiri masih berkonsentrasi. Membelakangi teman-teman yang berdiri sambil mengiringi kue, aku tersenyum simpul. Hatiku bahagia tentunya. Tak terkira.
A TRIBUTE TO A FRIEND OF MINE

A TRIBUTE TO A FRIEND OF MINE

Saya sudah lama sekali meninggalkan kebiasaan baik untuk selalu menulis. Setidaknya dalam sebulan atau seminggu sekali. Saya tidak tahu, mengapa menulis yang dulu serasa mengasyikkan sekali tiba-tiba menjadi sangat menjemukan. Saya cari alasannya. Dan tidak ketemu juga. Bahkan sampai sekarang belum ketemu. Dan itulah alasannya kira-kira saya tidak kembali menulis. Karena saya sudah tidak punya alasan menulis.

Sampai beberapa waktu lalu, saya bernadzar bahwa saya akan menulis jika teman saya membeli HP baru. Dan benar dia beli. Bagian saya yang harus menulis di blog sebagai nadzar.

Jika di dunia ini ada orang yang sangat fanatik dengan barang-barang yang dia miliki dan tidak ingin dia lepas sampai mati, itulah teman saya itu. Yang sebenarnya tipikal orang yang tidak akan ganti HP kecuali HP-nya hilang atau rusak gara-gara kecemplung air saat sedang wudlu. Apa di pikiran Anda HP-nya adalah jenis jadul yang satu warna? Yang hanya bisa melantunkan satu jenis nada, yang ketika didengar ayam, si ayam akan menutup telinga? Yang warnanya sudah luntur gara-gara usang dimakan usia?

Anda benar. 100 untuk Anda. Setidaknya Anda lebih pintar dari anak SD sekarang. You’re smarter than the 5th grader. Wah dapet seratus juta ini :D. Anak SD sekarang mungkin tidak tahu jika ternyata HP itu berevolusi. Ada HP zaman pra-sejarah. HP zaman batu. HP zaman audio video yang sudah super canggihnya. Bahkan ada HP yang sudah hapal peta jalan, bahkan yang belum di aspal sekalipun. HP teman saya itu termasuk HP jenis pertama, HP zaman pra-sejarah. Ketika itu kapak dari batu pun belum ditemukan.

“Lebay” kata ini pasti disampaikan teman saya itu saat dia membaca tulisan ini.

Sebagai napak tilas, sesuai dengan pesan bung Karno yaitu Jas merah-–jangan sekali-kali melupakan sejarah—atau sebagai pengingat akan pesan Buya Syafi’i Maarif bahwa kita tidak boleh amnesia sejarah, saya mau menjelaskan HP-nya yang masuk zaman pra-sejarah itu. Saya jelaskan karena mungkin sudah tidak ada lagi situs web yagn menjelaskan perihal HP pra-sejarah itu. HP-nya sebenarnya berwarna, orange dan hitam. Orange adalah warna latar dan hitam adalah warna teksnya. Upps lupa. Ada satu warna lagi, warna gelap saat HP dimatikan atau saat sedang lowbat :D. Tahu sendirilah HP segitu baterainya tahan seberapa lama.

Kelengkapannya, ada speaker internal untuk fungsi berbicara, dan keypad untuk fungsi ngirim SMS. Bluetooth dan infrared? Apaan itu? Apalagi EDGE. Apalagi GPS. HP jenis ini bisa dibilang generasi basic phoners. HP dirancang tahan, tahan cuaca, tahan banting dan tahan malu.

HP ini sebenarnya memiliki banyak manfaat. Pertama, dia tidak memerlukan case, entah itu silicon case, leather case atau case yang lain. Paling dia hanya perlu ngumpet di briefcase, setidaknya suaranya tidak kedengaran pas ada SMS masuk. Jadi bisa kebayang kan bagaimana HP jenis ini mengurangi limbah akibat aksesori HP yang terbuang gara-gara penggunanya sudah bosan, atau penggunanya ingin ganti case.

Kedua, HP ini, secara asalinya (default bahasa Inggrisnya), adalah sejenis HP yang dirancang untuk keamanan penggunanya. Keamanan dari pencopet yang senangnya mencuri HP baru. Jarang ada pencopet mencuri HP jadul. Kalo masih ada, keterlaluan. Keamanan dari preman yang selalu mengincar orang berduit yang biasanya terlihat status sosialnya dari HP yang dibawanya. Keamanan dari kecanduan memainkan fitur-fitur terbaru. Keamanan dari rasa sombong yang membuat manusia mencuri selendang Allah. Masih ingat kan pelajaran agama dulu, sombong berarti mencuri selendang Allah.

Ketiga, HP ini juga tidak perlu banyak perawatan. Jenis HP jadul biasanya dibanting pun tidak akan rusak, selama masih di kasur :)). Maksud saya, entah kenapa jenis HP ini lebih tahan lama dari HP baru. Kalo tidak percaya, cobalah sekali-kali Anda buka koran atau majalah, hampir tidak ada orang yang mengeluhkan kerusakan HP-HP jenis lama. Dugaan saya, HP lama memang lebih tahan lama.

Itulah beberapa manfaat dan keuntungan memiliki HP lama.

Sayangnya HP jenis ini sering membuat si empunya merasa kurang percaya diri, mungkin karena sering digodai temannya ya. Atau menderita kompleks apriori. Masak ringtone temannya sudah menyanyi dengan merdunya, entah itu lagunya Afgan yang ada sadis-sadisnya itu, atau lagunya Cinta Laura yang bagi beberapa orang sangat meresap ke dalam hati, terutama hati teman saya yang dulu punya HP jadul itu tetapi sekarang sudah menggunakan HP yang layarnya bisa dipencet, atau lagu terpopuler orang yang mabuk perjalanan sehingga lebih senang digendong itu, sementara HP jenis lama ini hanya bisa mendendangkan dua syair yang tidak ada nadanya. Tidak ada notnya.

HP lama teman saya itu adalah HP yang pabriknya sudah tutup, Sie***s A - saya lupa jenisnya. Saking sudah lamanya HP itu beredar. HP barunya adalah Sam***g S**r. Hebat kan. Teman saya itu yang hebat, dia bisa melakukan quantum leap.

“Quantum leap itu apa ya maksudnya?”

“Makanya, baca wikipedia” sergah teman saya sambil menyodorkan HP barunya. Dan kini bagian HP saya yang ketinggalan zaman :D