Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Puisi Do it Anyway karya Ibu Theresa

Puisi Do it Anyway karya Ibu Theresa

Terjemahan Puisi Do it Anyway

Manusia sering tak masuk akal, tak logis, dan egois.
Tetaplah saja maafkan!


Jika engkau baik,
Orang mungkin akan menuduhmu egois dan punya motif tersembunyi.
Tetaplah saja berbuat baik!

Jika engkau sukses,
Beberapa temanmu akan penuh kepalsuan dan sebagiannya musuh sejati.
Tetaplah saja sukses!

Jika kau jujur dan apa adanya,
Orang mungkin akan mencurangimu.
Tetaplah saja jujur dan tampil apa adanya!

Apa yang kau bangun bertahun-tahun
bisa dihancurkan seseorang dalam semalam.
Tetaplah saja membangun!

Jika kau temukan damai dan sukacita,
Mungkin orang akan iri
Tetaplah saja bersukacita!

Kebaikanmu hari ini,
Sering dilupakan orang esok hari.
Tetaplah saja berbuat baik!

Berikan milikmu yang terbaik kepada dunia
Dan itu mungkin takkan pernah cukup.
Tetaplah saja berikan yang terbaik!

Sebab, kan kau saksikan pada hari penghitungan, semuanya antara kamu dan Tuhan-mu.
Takkan pernah antara dirimu dan orang-orang itu.

Puisi di atas adalah terjemahan dari puisi yang terpampang di Rumah Sakit Kalkuta yang dikelola Bunda Teresa.

Versi bahasa Inggrisnya berikut ini:

People are often unreasonable, illogical, and self-centered.
Forgive them anyway!

If you are kind,
people may accuse you of selfish, ulterior motives.
Be kind anyway!

If you are successful,
you will win some false friends and some true enemies.
Succeed anyway!

If you are honest and frank,
people may cheat you.
Be honest and frank anyway!

What you spend years building,
someone could destroy overnight.
Build anyway!

If you find serenity and happiness,
they may be jealous.
Be happy anyway!

The good you do today,
people will often forget tomorrow.
Do good anyway!

Give the world the best you have,
and it may never be enough.
Give the world the best you've got anyway!

You see, in the final analysis, it is between you and God.
It was never between you and them anyway.

Buruh

Buruh

Buruh

Bapak terburu-buru pamitan
ia mau menambang bulir-bulir peluh.
Akan ia peras, saring, lalu selipkan
perlahan ke dalam kantong tebal si tuan cuan.

Saat para buruh makan bekal siang
sang tuan berkata bijaksana
"keringat kalian itu harum di surga
semangat kalian itu pahala."

Salah satu buruh angkat suara
Bila Tuhan yang membayar
dengan pahala atau surga,
lalu Tuan gunanya apa?

1 Mei 2024


Kabari Dulu

Kabari Dulu

Jika ingin mengiris ulu hatiku, kirimi whatsapp
biar aku bisa bersiap-siap.
Bila tak sempat, posting-lah status galau.
Biar aku tahu. Biar aku maklum.

Saat  pisaumu mengirisku dulu
aku hanya terdiam
Bukan karena tak mampu melawan
Hanya tak mampu menalar

Lalu kau membela, bukan aku yang menyakitimu
Ekspektasi dan harapan besarmu itu
Juga asumsi-asumsimu
Dan terkaanmu tentangku.

Ya, kutahu. Mohon tetap kabari dulu
Sebab, rasaku padamu dibangun
atas dasar harapan baik dan sangkaan pelik
bukan atas praduga bahwa bisa jadi dirimu tiba-tiba mencekik


(2024)

Ajari Aku

Ajari Aku

Bukan aku meratapi kepergian
menangisi ketiadaan
menyesali setiap kesalahan
segala kekhilafan

Tapi

Hanya hampa yang kurasa
ada yang hilang, tak tahu apa
ada yang pergi, tak mampu kuganti
ada yang lenyap, tak bisa kucari 

Setiap kali kutengok dapur
kau lihat kau racik bumbu
kau mengaduk sayur
di atas tungku tanah itu

Kau ceritakan sesuatu
tetangga yang pergi terlebih dahulu
hasil panen yang tak sebaik musim lalu
dan kau bertanya tentang cucu-cucumu

Terima kasih atas berjuta kenangan itu
kau gurat dengan darah dan keringatmu
kini, ajari aku ikhlas melepas dan merelakan
meski rasa rinduku kian tebal dan kian berulang

Dan kujumpaimu dalam tangis dan doaku

Malang, 10 Juni 23

Puisi Time is a Gift Karya Cynthia Buhain-baello & Terjemahannya

Setelah kemarin menulis dan membagikan terjemahan Puisi Little Things yang ditulis Julia Carney, beberapa sahabat meluangkan waktunya untuk mengomentari melalui WA.

"I like it" kata Abidin.

"I like it more" kata Faiz.

"Top" lanjut Yamin.

Dulu, dulu sekali, komentar seperti ini biasanya kutanggapi dengan sinis. Paling hanya basa-basi khas orang Jawa. Saking parahnya, sebagian kuanggap sebagai aneh.

Entah. Mungkin cara pikir seperti itu bawaan bayi dari seorang self-proclaimed introvert sepertiku. Semua tindakan baik orang lain dianggap negatif.

Namun, persepsi dan pikiran semacam itu perlahan sirna. Ibu dipanggil yang Mahakuasa setahun lalu. Canda dan tawa beliau jadi begitu mewah sekarang. Sapaan dan telepon dari beliau takkan bisa ditakar dengan apa pun. Seketika kusadar bahwa waktu-waktu bersama beliau adalah pemberian yang begitu berharga. Dan waktu kita di dunia ini begitu singkat. Dan karena singkat itu, waktu menjadi komoditas yang sangat langka dan sangat berharga. Tidak ada satu orang pun yang bisa membeli waktu.

"Time is your most valuable asset, dan it's non-renewable." ujar Edgar Douget. Bila diterjemahkan langsung, waktu itu aset paling berharga, dan bukan sumber daya terbarukan. Seperti minyak bumi, sekali digunakan ia akan hilang. Sirna.

Bagiku sekarang, orang yang membalas WA atau memberikan komentar itu sejatinya memberikan asetnya yang paling berharga, yaitu waktu dan perhatian. Waktu dan perhatian takkan pernah bisa dibeli atau diganti dengan apa pun.

Dalam momen sekilas itu, kutemukan puisi berikut. 

Puisi Time is a Gift (Waktu Itu Anugerah)

Time is a gift that keeps ticking away
And like a flower, it will never stay
It is the leaf that falls and decays
A record of the song you used to play.
Waktu itu anugerah yang terus berdetak pergi
Dan seperti bunga, ia takkan pernah abadi
Waktu itu daun yang meranggas, membusuk, dan mati
Rekaman lagu yang senandungnya dulu kau sukai.


The end of a story that has been told
Like the sunset of day as night unfolds
Before long you find that you are old
For Time is like sand you cannot hold.
Akhir sebuah cerita yang telah dikisahkan
Seperti senja hari saat malam kemudian terbentang
Tak lama, kau sadar usiamu sudah usang
Karena laksana pasir, waktu tak bisa kau pegang.

Waktu Seberharga Itu

Puisi ini menyadarkan bahwa waktu akan berarak pergi, meranggas dari tangkai-tangkai zaman, lalu jatuh dan membusuk di bumi. Awalnya, kita kira masih banyak waktu yang tersisa. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan ke depannya. Masih banyak rencana yang hendak kita realisasikan. Lalu, waktu mengejutkan kita dengan rambut yang perlahan memutih. Kulit yang perlahan mengeriput. Dan waktu pergi percuma.

Dan itulah gambaran yang disampaikan puisi yang rimanya hampir sempurna ini. Ia mengajariku bahwa waktu itu benar-benar berharga. Sekali pergi, kita takkan pernah bisa memulihkannya. 

Saat orang mengajak kita mengobrol atau bertanya kabar, sejatinya ia sedang memberikan asetnya yang paling berharga, waktu dan perhatian. Dan kadang, itu yang sering kita sia-siakan.

 



 

Puisi Little Things oleh Julia Carney & Terjemahannya

Sehari lalu, pagi-pagi kudengar ceramah Gus Baha di Youtube. Dengan gaya ngaji beliau yang santai dan penuh humor, beliau berpesan "Syukuri hal-hal kecil dan bahagialah karena momen-momen kecil. Repot sekali dan menyusahkan bila kita harus bahagia dengan menunggu hal-hal besar."

Ceramah tersebut menuntunku pada puisi di bawah, yang ditulis oleh Julia Carney pada tahun 1845, yang berjudul Little Things. Lalu, kupikir sepertinya puisi ini bagus juga kalau diterjemahkan. Terjemahannya langsung diletakkan di bawahnya untuk membantu kalau-kalau ada yang kesulitan.

Puisi Little Things by Julia Carney

Little Things oleh Julia Carney

Little drops of water,
Little grains of sand,
Make the mighty ocean
And the beauteous land.
Setetes demi setetes air,
Miliaran bulir pasir,
Mencipta samudra raksasa
Dan daratan permai.


And the little moments,
Humble though they be,
Make the mighty ages
Of eternity.
Dan momen-momen kecil,
Sesederhana apa pun,
Menciptakan kehidupan abadi
Takkan hilang berganti.


So our little errors
Lead the soul away,
From the paths of virtue
Into sin to stray.
Begitu pula kesalahan kecil
Membuat jiwa terusir,
Dari jalan kebajikan
Menuju dosa & kesesatan.


Little deeds of kindness,
Little words of love,
Make our earth an Eden,
Like the heaven above.
Kebaikan-kebaikan kecil,
Ungkapan cinta sederhana,
Menjadikan bumi kita indah luar biasa,
Bak surga di atas sana.

Hal-Hal Kecil

Puisi ini mengajariku untuk tidak meremehkan hal-hal kecil. Bahagia atas hal-hal kecil. Melakukan hal-hal kecil. Sebab, kumpulan tindakan kecil menciptakan hal-hal besar dan magis dalam kehidupan. Senyuman ringan setiap hari mungkin abadi di hati orang yang menerimanya. Perhatian kecil akan terukir indah di dalam hati orang yang kita tuju meski dia tidak menyadarinya saat itu.

Waktu dan perhatian yang kita curahkan saat ini mungkin tidak diperhatikan, tetapi akan dirindukan pada saatnya nanti.

Cek juga: Cara Menumbuhkan Benih Baik di Dalam Diri, #1

Pikiran saya lantas terbawa menuju buku Atomic Habits. Perubahan dan peningkatan kecil setiap hari akan menciptakan hasil yang luar biasa dalam beberapa waktu. Memang tidak langsung terasa saat itu, tetapi perubahan dan peningkatan kecil terkumpul dan terus bertambah hingga begitu besar. 

Dengan sedikit saja kita melakukan kebaikan dan peningkatan setiap hari, kita akan memetik buahnya nanti. Tidak harus berupa hal-hal yang tampak jelas nyata. Bisa jadi, yang kita peroleh malah terlewatkan mata. Namun, waktu jua yang akan menjawabnya.

Puisi To All My Friends oleh May Yang & Terjemahannya

Teman sejati tak pernah mati. Dia hadir saat sepi dan sunyi. Bila keramaian sudah sirna, dia datang memberikan makna dan dukungan. Dia hadir saat kita masih tidak punya apa-apa. Bukan siapa-siapa. 

Itu kira-kira yang hendak disampaikan oleh May Yang kepada teman-temannya.

Versi Bahasa Inggris   

To All My Friends

That I could be this human at this time
breathing, looking, seeing, smelling

That I could be this moment at this time
resting, calmly moving, feeling

That I could be this excellence at this time
sudden, changed, peaceful, & woke

To all my friends who have been with me in weakness
when water falls rush down my two sides

To all my friends who have felt me in anguish
when this earthen back breaks between the crack of two blades

To all my friends who have held me in rage
when fire tears through swallows behind tight grins

I know you
I see you 
I hear you

Although the world is silent around you

I know you
I see you 
I hear you

Versi Bahasa Indonesia   

To All My Friends

Bahwa aku bisa semanusia saat ini
bernafas, menatap, melihat, menciumi

Bahwa aku bisa sehadir saat ini
rehat, bergerak tenang, menggunakan perasaan

Bahwa aku bisa seluar biasa saat ini
tiba-tiba, berubah, damai, & waspada

Untuk semua teman yang membersamai saat aku terkulai lemah
saat air mengguyur dan menghimpit kedua sisiku

Untuk semua teman yang turut merasakan kesedihanku
saat punggung dari tanah ini terbelah di tengah celah antara dua bilah

Untuk semua teman yang telah menahanku saat marah
saat api melalap ketenangan di balik seringai wajah

aku mengenalmu
aku melihatmu
aku mendengarmu

Meskipun dunia senyap di sekitarmu

aku mengenalmu
aku melihatmu
aku mendengarmu

Dan teman itu

Meskipun di tengah semua suasana, kita tahu dan tak pernah lupa teman-teman kita. Karena teman dan sahabat sebenarnya saudara tetapi dari orang tua yang berbeda... Dan pada teman-teman itu, kira harus berterima kasih tanpa terkira.


Teman - Photo by Hannah Rodrigo on Unsplash

jejakmu ibu

bila pun kulipatgandakan nyawa sejuta kali
dan kupersembahkan untuk mengganti
secuil perhatian yang kau beri
itu takkan pernah memadai.

terima kasih ya Bu, sudah menemani
belajar percaya dan meyakini
walau lemah anakmu ini
hanya kurang yang ia miliki.

terima kasih sudah ada
mengajari makna
memberikan cinta
walau tanpa banyak berkata.

terima kasih sudah menjadi terang
menjadi tempatku pulang
baik saat kalah maupun gagal
baik saat terjatuh maupun terjengkang.

terima kasih sudah mengajariku kuat
bahwa pisau tajam karena diasah
bahwa bata berguna setelah ditata
bahwa jiwa kuat karena ditempa banyak rasa.

dan aku masih terus akan menabung rindu
dan kupecahkan saat nanti kita bertemu.

A Mother/Ibu - Photo by J W on Unsplash


kutemukan dirimu di mana-mana

kutemukan dirimu di mana-mana

kini engkau pergi
tapi kutemukanmu di mana-mana,

di rumah tetangga tempatmu sesekali merebahkan badan
dan berbincang setelah lelah bekerja seharian;

di tengah riuh suara ayam yang engkau beri pakan,
saat pagi datang atau sore menjelang.

kini engkau lenyap
tapi kutemukanmu di mana-mana,

di butiran air mata yang menguap karena kutahan,
di genangan kenangan yang kujalin dan kurajut perlahan.

di dalam hati orang-orang yang masih terkenang,
ujar mereka, ibumu tak pernah merepotkan dan tak pernah jadi beban.

kini aku tak harus pulang ke mana-mana,
karena di hatiku engkau bersemayam.

tidurlah Bu, tidurlah dalam keabadian,
aku akan merindukanmu melebihi yang sudah-sudah.

tidurlah Bu, tidurlah dalam tenang,
kita dulu berdua saja, dan kini engkau sudah bersama mereka.

mampirlah sejenak di hatiku,
sentuh agar hatiku bisa setulus dan setenang dirimu.

kini engkau pergi
tapi kutemukanmu di mana-mana.


Sabtu di Antara Jalan-Jalan Baru dan Buku-Buku Tua

 Malang - Saat Bu Poedji, dosen semasa kuliah S2 di UMM, mengabarkan tentang buku yang perlu diambil Sabtu pagi hari ini, aku langsung mengajak istri ke sana. Sayangnya, ia tak bisa. Ada urusan sekolah yang harus diselesaikan.

Untunglah, Keena, anak perempuanku, berkenan menemani ayahnya. Bila diingat-ingat, sudah lama aku tidak mengajaknya jalan-jalan bersepeda motor. Mencari jalan-jalan baru, yang belum pernah kami susuri.

Sudah jadi kebiasaan dari dulu, aku mengajaknya mencoba melewati jalan-jalan baru. Memasuki gang-gang yang tidak pernah kami masuki. Sering juga, kami masuk gang buntu. Kami pun harus memutar balik. Kami toh senyum-senyum saja karena sudah terbiasa tersesat.

Harapanku, saat beranjak dewasa, dia membawa ingatan itu. Ingatan tentang jalan-jalan yang kami lalui. Tentang gang-gang buntu yang membuat kami memutar arah. Bahwa tak ada salahnya mencoba melakukan baru. Bila gagal, cukup putar kendaraan dan cari jalan baru.

Saat jarum jam menunjukkan angka delapan, kami pun berangkat dari rumah. Keena mengusulkan untuk melewati jalan alternatif. Kami pun melewati jalur tikus Tumapel-Tasikmadu. Sepanjang perjalanan, ia bercerita banyak hal, yang sayangnya terdengar lamat saja di telinga. Karena terhalang helm dan suara lalu lintas, telinga kurang peka.

Beberapa menit berselang, kami sampai di rumah Bu Poedji.

Kami pun bertegur sapa. Singkat cerita, suami Bu Poedji ternyata saudara sepupu suami teman kerjaku dulu. Jadinya, obrolan kami tersambung. Tersambung ke Singosari. Tersambung ke Lamongan dan tersambung ke mana-mana.

Satu jam lebih rasanya kami saling bertukar cerita. Entahlah, terasa cepat saja.

Jalan-Jalan Baru

Sepulang dari rumah Bu Poedji, kami pun melewati jalan Raya Dermo. Keena terperangah karena belum pernah lewat sana.

Pernah, jawabku. Hanya, sekarang jalannya lebih lebar saja. Makanya terlihat seperti jalan yang belum pernah sampeyan lewati.

Ooo iya, ya.

Kalau jalan ini pernah?

Never, jawabnya dalam bahasa Inggris.

Pernah, ini jalan Tirto Taruno, jawabku.

Never.

Beberapa meter setelahnya ia ingat jalan itu setelah melihat gedung besar sekolah Thursina.

Oh itu Thursina ya yah, tanyanya untuk mengonfirmasi.

Betul, ucapku.

Dia pun tertawa dan takjub sendiri. Ia lalu berdendang sepanjang perjalanan. Entah lagu apa. Aku hanya mendengar sekilas.

Toko Buku Bekas

Karena masih terlalu pagi untuk makan siang atau pulang, aku usulkan untuk menuju toko buku.

Setuju, sahutnya. Wajahnya pasti semringah. Sayang, tak bisa kulihat karena tertutup helm.

Toko buku baru atau bekas?

Masa buku bekas?

Ya nggak apa-apa. Kadang kita menemukan buku bagus di toko buku bekas.

Toko buku baru saja.

Tapi toko buku bekas lebih murah.

Oke kita coba saja ya, jawabnya. Mungkin ia luluh mendengarku sedikit ngotot.

Aku pun mengarahkan sepeda motor menuju toko buku Wilis.

Setelah memarkir sepeda motor, kami menuju toko buku pojok kanan depan. Sang penjual cekatan menawarinya majalah Bobo.

Ia pun tertarik mengambil lalu membaca satu majalah Bobo. Tak tahu apa yang membuatnya tertarik. Mungkin, ia teringat cerita bahwa dulu ibunya sering membaca majalah Bobo ketika kecil.

Melihat Keena asyik membaca majalah Bobo, sang bapak penjual menggunakan trik upselling.

Toko Buku Wilis
Toko Buku Wilis

Nah, bapak punya banyak koleksi majalah Bobo, ucapnya. Ia lalu membuka bungkusan kresek yang berisi mungkin seratusan majalah Bobo. Mata Keena berbinar. Senyumnya tersungging tipis.

Di depan toko, terdengar suara serak seorang pemuda yang membaca puisi. Terdengar familiar di telinga. Rupanya, sang bapak penjual menyetel puisi-puisi populer Sapardi Joko Damono di speaker wireless JBL berwarna biru.

Hujan di bulan Juni, yang Fana adalah Waktu, Kuhentikan Hujan... mengalun merdu ditemani bau buku tua, yang khas, tercium hangat tetapi menyengat. Bau itu memicu serangkaian ingatan tentang masa lalu.

Tumpukan buku tua, suasana sepi dan syahdu di deretan toko buku, dan bapak tua yang sibuk merapikan dan menata buku pada hari Sabtu mengingatkanku pada adegan Rangga dan Cinta di film Ada Apa dengan Cinta.

Bedanya, teman kencan bukuku Sabtu siang ini bernama Keena.